DIGTALPOS.com, Bontang – Menjelang perayaan Iduladha, kebutuhan hewan kurban di Kota Bontang kembali menjadi perhatian. Untuk jenis sapi, permintaan setiap tahunnya terbilang tinggi, bahkan bisa mencapai 800 hingga 1.000 ekor. Kondisi ini membuat pasokan hewan kurban di kota industri tersebut masih sangat bergantung pada daerah luar.
Kepala Peternakan DKP3 Bontang, drh Riyono, mengungkapkan bahwa secara ketersediaan, stok sapi yang masuk ke Bontang sebenarnya tergolong aman. Dalam satu musim kurban, jumlah sapi yang tersedia bahkan bisa mencapai sekitar 1.200 ekor, atau sedikit lebih tinggi dari kebutuhan masyarakat.
“Kalau secara jumlah, kita pastikan mencukupi. Biasanya stok yang masuk itu lebih dari kebutuhan, jadi masyarakat tidak perlu khawatir kekurangan hewan kurban,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).

Namun di balik kecukupan tersebut, terdapat fakta bahwa sebagian besar sapi kurban masih didatangkan dari luar daerah. Pasokan utama berasal dari wilayah Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Bone, serta dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikenal sebagai sentra peternakan sapi.
Menurut Riyono, kontribusi peternak lokal Bontang hingga saat ini masih relatif kecil. Produksi sapi dari dalam daerah baru mampu memenuhi sekitar 10 hingga 15 persen dari total kebutuhan tahunan.
“Peternak lokal kita memang terus berkembang, tetapi untuk saat ini belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan. Masih sekitar 10 sampai 15 persen saja,” jelasnya.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi sektor peternakan di Bontang. Diperlukan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas produksi lokal, baik dari segi jumlah ternak, kualitas, hingga sistem budidaya yang lebih modern dan efisien.
Meski masih bergantung pada pasokan luar, pemerintah memastikan seluruh hewan kurban yang masuk ke Bontang telah melalui pengawasan ketat. Proses pemeriksaan dilakukan sejak dari daerah asal hingga tiba di lokasi penjualan.
Setiap pengiriman sapi wajib dilengkapi dokumen resmi, seperti Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), hasil uji laboratorium, serta sertifikat karantina dari otoritas terkait. Tak hanya itu, hewan ternak juga dipastikan telah mendapatkan vaksinasi, terutama untuk mencegah penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) yang sempat menjadi ancaman di beberapa daerah.
“Keamanan dan kesehatan hewan menjadi prioritas utama kami. Semua sapi yang masuk sudah melalui proses pemeriksaan berlapis,” tegasnya.
Dengan pengawasan yang ketat tersebut, masyarakat diharapkan dapat menjalankan ibadah kurban dengan tenang tanpa khawatir terhadap kualitas dan kesehatan hewan yang akan disembelih. Pemerintah juga terus mendorong peningkatan peran peternak lokal agar ke depan Bontang bisa lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan hewan kurban. (Adv)













