DIGTALPOS.com, Bontang – Pembongkaran tiga kios semi permanen yang ditempati sembilan pedagang di kawasan Pasar Taman Rawa Indah, Jalan KS Tubun, Bontang, Senin (11/5/2026), menuai perhatian dari Anggota Komisi C DPRD Bontang, Yassier Arafat. Ia menilai penataan kawasan pasar memang penting dilakukan, namun harus dibarengi pendekatan yang humanis serta komunikasi yang baik dengan para pedagang kecil.
Menurut Yassier, upaya pemerintah dalam menata kawasan pasar bertujuan menciptakan lingkungan yang lebih tertib, rapi, dan nyaman bagi masyarakat. Namun di sisi lain, pemerintah juga perlu mempertimbangkan kondisi ekonomi pedagang yang menggantungkan penghasilan harian dari aktivitas jual beli di lokasi tersebut.
Ia menegaskan, penataan pasar sebaiknya tidak dilakukan secara terburu-buru. Prosesnya perlu dilakukan bertahap agar para pedagang memiliki waktu untuk beradaptasi dan mencari solusi terbaik bersama pemerintah.
“Yang penting sebenarnya duduk bersama, ngobrol dengan pedagang supaya bisa dicari titik temunya. Jadi semua bisa berjalan baik,” ujar Yassier saat dikonfirmasi, Rabu (13/5/2026).

Menurutnya, komunikasi menjadi faktor paling penting dalam proses penataan kawasan pasar. Dengan adanya dialog yang terbuka, pemerintah dapat memahami kebutuhan pedagang, sementara pedagang juga bisa memahami alasan penataan dilakukan.
Ia menilai, apabila komunikasi berjalan baik, potensi terjadinya kesalahpahaman maupun penolakan di lapangan dapat diminimalisasi. Terlebih, sebagian besar pedagang di kawasan tersebut merupakan pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada pendapatan harian untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Pedagang ini kan mencari nafkah setiap hari. Jadi penataan memang penting, tapi keberlangsungan usaha mereka juga harus dipikirkan,” katanya.
Yassier juga menyoroti persoalan klasik yang kerap terjadi dalam penataan pasar di berbagai daerah, yakni soal lokasi relokasi yang dianggap kurang strategis oleh pedagang. Menurutnya, akses pembeli menjadi pertimbangan utama para pedagang untuk bertahan di suatu titik berjualan.
Tak sedikit pedagang yang khawatir kehilangan pelanggan apabila dipindahkan ke lokasi baru yang dinilai kurang ramai atau sulit dijangkau masyarakat. Kondisi itu, kata dia, perlu menjadi perhatian serius pemerintah agar penataan tidak justru mematikan aktivitas ekonomi warga kecil.
“Pedagang pasti melihat akses pembeli juga. Kalau dipindah tapi pembeli tidak datang, tentu mereka khawatir. Makanya komunikasi rutin itu penting supaya sama-sama paham,” ungkapnya.
Meski demikian, Yassier tetap mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Bontang yang terus berupaya melakukan pembenahan kawasan pasar demi menciptakan tata kota yang lebih tertib dan nyaman. Ia berharap kebijakan tersebut tetap dibarengi pendekatan persuasif dan solusi konkret bagi masyarakat terdampak.
Selain itu, ia kembali menyinggung rencana pembangunan pasar basah yang sebelumnya sempat diwacanakan di kawasan tersebut. Menurutnya, keberadaan fasilitas pasar yang lebih representatif dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengakomodasi pedagang sekaligus mendukung penataan kawasan pasar secara menyeluruh.
Dengan fasilitas yang memadai, para pedagang diharapkan tetap dapat menjalankan usaha dengan nyaman dan aman, sementara pemerintah juga bisa mewujudkan kawasan pasar yang lebih tertata.
“Intinya bagaimana penataan tetap berjalan, tapi aktivitas masyarakat juga tetap terakomodasi dengan baik,” pungkasnya. (Adv)













