DIGTALPOS.com, Samarinda – Keberadaan depot bahan bakar milik PT Pertamina Patra Niaga di kawasan Jalan Cendana, Kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang, kembali menjadi perhatian serius. Rencana relokasi yang telah digaungkan sejak beberapa tahun lalu dinilai berjalan lamban dan belum menunjukkan progres signifikan, padahal depot tersebut kini berada di tengah kawasan permukiman padat penduduk.
Kondisi itu memunculkan kekhawatiran besar terhadap aspek keselamatan warga. Fasilitas penyimpanan dan distribusi bahan bakar berskala besar yang dulunya berada di pinggiran kota, kini terhimpit perkembangan kawasan hunian dan aktivitas masyarakat yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Ketua Komisi I DPRD Kota Samarinda, Samri Shaputra, menegaskan bahwa persoalan depot BBM tersebut tidak bisa lagi dipandang sekadar urusan administratif maupun tata ruang semata. Menurutnya, keberadaan fasilitas berisiko tinggi di tengah kepadatan penduduk merupakan isu serius yang berkaitan langsung dengan mitigasi bencana dan keselamatan masyarakat.
“Ini bukan hanya soal administrasi atau perizinan. Ini menyangkut keselamatan warga yang tinggal dan beraktivitas setiap hari di sekitar fasilitas berisiko tinggi itu. Jangan sampai kita baru bergerak setelah terjadi sesuatu,” tegas Samri, belum lama ini.
Ia menilai pemerintah daerah bersama pihak Pertamina harus memiliki langkah konkret dan terukur agar relokasi benar-benar terealisasi sesuai target yang telah ditetapkan. Pasalnya, kekhawatiran masyarakat terus meningkat seiring padatnya aktivitas di sekitar depot yang berada tidak jauh dari permukiman, akses jalan umum, hingga kawasan usaha warga.
Samri juga menyoroti pentingnya percepatan relokasi sebagai bagian dari penataan kota jangka panjang. Menurutnya, Samarinda terus berkembang menjadi kota dengan mobilitas tinggi dan pertumbuhan kawasan hunian yang pesat. Karena itu, fasilitas dengan tingkat risiko tinggi seharusnya ditempatkan di kawasan yang lebih aman dan jauh dari konsentrasi penduduk.
Rencana pemindahan depot BBM tersebut sebenarnya bukan hal baru. Pemerintah bersama Pertamina telah memulai proyek relokasi ke kawasan Terminal Terpadu Palaran sejak November 2019 melalui seremoni peletakan batu pertama atau groundbreaking.
Kala itu, proyek dengan nilai investasi mencapai Rp1 triliun tersebut dirancang berdiri di atas lahan seluas 10 hektare dengan kapasitas tampung mencapai 37.000 kiloliter. Terminal BBM baru itu diproyeksikan menjadi pusat distribusi energi yang lebih modern dan memiliki standar keamanan lebih baik dibanding fasilitas lama di Teluk Lerong Ulu.
Namun setelah seremoni awal dilakukan, pembangunan fisik proyek justru mengalami stagnasi cukup panjang. Tidak adanya progres signifikan selama bertahun-tahun memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat terkait keseriusan realisasi relokasi tersebut.
Perkembangan terbaru disampaikan Wali Kota Samarinda, Andi Harun, pada Maret 2026 lalu. Ia menyebut proses pembangunan sudah memasuki tahap persiapan konstruksi dengan distribusi solar sebagai tahap awal perpindahan operasional.
Dalam rencana yang turut melibatkan Danantara, Terminal BBM Palaran ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2028. Pemerintah berharap keberadaan terminal baru nantinya dapat meningkatkan efisiensi distribusi bahan bakar sekaligus mengurangi potensi risiko bagi masyarakat di kawasan pusat kota.
Meski demikian, DPRD Samarinda meminta agar target tersebut benar-benar dikawal ketat dan tidak kembali mengalami penundaan. Samri menekankan pentingnya peran aktif Pemerintah Kota Samarinda dalam menjembatani komunikasi dan koordinasi dengan pihak Pertamina agar proses relokasi berjalan sesuai jadwal.
Menurutnya, masyarakat membutuhkan kepastian, bukan sekadar janji pembangunan yang terus berulang tanpa progres nyata di lapangan. Ia berharap seluruh pihak terkait dapat menjadikan persoalan ini sebagai prioritas bersama demi menciptakan rasa aman bagi warga Samarinda.
“Keselamatan masyarakat harus menjadi pertimbangan utama. Jangan sampai kita menunggu situasi darurat baru semua bergerak cepat,” pungkasnya. (Adv)













