DIGTALPOS.com, Bontang – Hari Raya Iduladha tidak hanya menjadi momentum pelaksanaan ibadah kurban, tetapi juga mengandung pesan mendalam tentang makna ketaatan, keikhlasan, dan pengorbanan dalam kehidupan seorang Muslim.
Anggota DPRD Kota Bontang, Saeful Rizal, mengatakan bahwa peringatan Iduladha setiap tahunnya harus dimaknai lebih dari sekadar ritual keagamaan. Menurutnya, kisah Nabi Ibrahim AS yang rela menjalankan perintah Allah SWT untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, merupakan teladan besar tentang bagaimana seorang hamba menempatkan kehendak Tuhan di atas kepentingan pribadi.
Ia menilai, peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa ketaatan sejati tidak lahir dalam kondisi yang mudah. Sebaliknya, ketaatan sering kali diuji melalui situasi yang berat, penuh keraguan, bahkan menyentuh hal-hal yang paling dicintai oleh manusia.
“Iduladha mengajarkan bahwa ketaatan tidak boleh bersyarat. Ketika Allah memerintahkan sesuatu, maka yang dituntut adalah kepasrahan dan keyakinan. Nabi Ibrahim telah memberikan contoh luar biasa tentang bagaimana seorang hamba tetap teguh menjalankan perintah Allah meskipun harus menghadapi ujian yang sangat berat,” ujar Saeful Rizal, belum lama ini.

Menurutnya, hikmah yang terkandung dalam kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tetap relevan dengan kondisi kehidupan masyarakat saat ini. Meski tidak menghadapi ujian yang sama, setiap orang memiliki tantangan dan cobaan masing-masing yang menuntut kesabaran serta keteguhan iman.
Dalam kehidupan sehari-hari, kata dia, bentuk ketaatan dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan sederhana namun bernilai besar, seperti menjaga kejujuran, menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, serta tetap berpegang pada prinsip-prinsip kebaikan meskipun berada dalam tekanan.
“Sering kali seseorang dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Ada godaan untuk mengabaikan aturan, mengutamakan kepentingan pribadi, atau mengambil jalan pintas. Di situlah nilai-nilai Iduladha menjadi penting sebagai pengingat agar kita tetap berada di jalan yang benar,” jelasnya.
Saeful menambahkan bahwa salah satu pelajaran terbesar dari kisah Nabi Ibrahim adalah keyakinan bahwa setiap ujian yang diberikan Allah SWT pasti mengandung hikmah dan kebaikan bagi mereka yang mampu menjalaninya dengan sabar dan ikhlas.
Ia menilai, banyak orang mampu menjalankan ketaatan ketika kondisi sedang baik dan nyaman. Namun, ketika menghadapi kesulitan, tidak sedikit yang mulai goyah dan kehilangan arah. Karena itu, Iduladha menjadi momentum yang tepat untuk melakukan refleksi diri mengenai kualitas keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT.
“Kadang kita taat saat kondisi nyaman, tetapi ketika diuji justru goyah. Dari Nabi Ibrahim kita belajar tentang keteguhan yang luar biasa. Beliau tetap percaya bahwa apa yang diperintahkan Allah pasti memiliki tujuan dan hikmah terbaik,” katanya.
Selain itu, Saeful juga mengajak masyarakat untuk meneladani semangat pengorbanan yang menjadi inti dari peringatan Iduladha. Pengorbanan, menurutnya, tidak selalu berbentuk materi, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kesediaan untuk membantu sesama, berbagi kepada yang membutuhkan, serta mengesampingkan kepentingan pribadi demi kemaslahatan yang lebih besar.
Ia berharap nilai-nilai yang terkandung dalam Iduladha tidak hanya dirasakan saat hari raya berlangsung, tetapi dapat terus menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan mengedepankan keikhlasan, kepedulian, dan ketaatan kepada Allah SWT, masyarakat diyakini akan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan lebih baik.
“Semoga Iduladha menjadi momentum untuk memperkuat iman, mempererat kepedulian sosial, dan menumbuhkan semangat berkorban demi kebaikan bersama. Nilai-nilai inilah yang perlu terus kita jaga dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (Adv)













