DIGTALPOS.com, Bontang – Malam kini tak lagi sepi di Perpustakaan Umum Kota Bontang. Sejak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) membuka layanan hingga malam hari, suasana gedung berarsitektur modern itu justru semakin ramai menjelang senja. Dari pelajar SMP hingga mahasiswa, dari pekerja kantoran hingga orang tua muda, semua datang membawa semangat belajar dan haus akan ilmu.
Kebijakan memperpanjang jam layanan hingga malam hari mulai Senin sampai Kamis merupakan langkah inovatif yang lahir dari pengamatan sederhana Kepala DPK Bontang, Retno Febriariyanti. Ia sering melihat pemandangan yang mengharukan setiap kali pulang kerja.
“Sekitar pukul setengah lima sore, banyak anak-anak duduk di teras perpustakaan sambil membuka buku atau mengerjakan tugas kelompok. Mereka mengira perpustakaan sudah tutup, padahal masih ingin belajar,” kenangnya.
Dari situlah ide membuka layanan malam hari muncul. Retno berpikir, jika anak-anak rela belajar di selasar, mengapa tidak memberikan mereka ruang yang lebih nyaman di dalam?
Kini, perpustakaan itu benar-benar hidup di malam hari. Ruang baca dipenuhi aktivitas, ada yang sibuk mengetik tugas kuliah, berdiskusi kelompok kecil, atau tenggelam dalam bacaan favorit.
Menurut Retno, pada siang hari perpustakaan lebih banyak dikunjungi anak-anak usia PAUD, sedangkan pelajar SMP, SMA, dan mahasiswa baru cenderung memiliki waktu luang setelah pukul 16.00.
“Dengan layanan malam, mereka bisa datang setelah pulang sekolah atau kuliah. Fasilitas bisa dimanfaatkan untuk membaca, berdiskusi, meminjam buku, hingga riset kecil-kecilan,” jelasnya.
“Kami ingin perpustakaan menjadi pusat informasi, pusat edukasi, dan pusat penelitian bagi masyarakat,” tambahnya.

Tak hanya bagi pelajar, perpustakaan kini juga dirancang sebagai destinasi wisata literasi keluarga. Retno mengajak masyarakat menjadikan perpustakaan sebagai tempat rekreasi yang edukatif namun tetap hemat.
“Kalau ingin jalan-jalan tapi dananya terbatas, datang saja ke perpustakaan. Anak bisa membaca, orang tua bisa mendampingi atau membacakan dongeng. Itu membangun kedekatan emosional, ada bonding di situ,” tuturnya.
DPK juga aktif menata ruangan agar semakin nyaman. Beberapa sudut kini dilengkapi area baca santai, pojok anak, hingga spot foto bertema literasi yang digemari pengunjung muda.
Kebijakan membuka layanan malam ternyata berdampak nyata. Selain menambah kenyamanan, juga meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kota Bontang.
“Dengan tambahan layanan malam serta layanan akhir pekan, kunjungan masyarakat naik cukup signifikan. Alhamdulillah, nilai indeks literasi kami ikut meningkat,” kata Retno.
Kepala Bidang Perpustakaan, Indra Nopika Wijaya, menambahkan bahwa respons masyarakat luar biasa positif.
“Rata-rata kunjungan harian bisa mencapai 150 orang, bahkan kadang lebih. Pengunjungnya beragam, mulai dari kalangan pelajar, pekerja, hingga orang tua yang menemani anaknya belajar,” ujarnya.
Indra berharap, ke depan perpustakaan tidak hanya dikenal sebagai tempat meminjam buku, melainkan menjadi ruang belajar publik yang hidup dan inklusif bagi seluruh warga Kota Bontang.
“Kami ingin perpustakaan menjadi tempat bertemu gagasan, tempat orang tumbuh, dan tempat Bontang membangun masa depan melalui literasi,” pungkasnya. (Adv)













