DPRD Samarinda Ajak Warga Lebih Kritis Menyaring Informasi di Media Sosial

DPRD Samarinda Ajak Warga Lebih Kritis Menyaring Informasi di Media Sosial
Anggota DPRD Kota Samarinda, Samri Shaputra. (ist)

DIGTALPOS.com, Samarinda – Derasnya penyebaran informasi di media sosial mendapat perhatian DPRD Kota Samarinda. Masyarakat diminta lebih berhati-hati dalam menerima maupun membagikan informasi, terutama jika kebenarannya belum terverifikasi.

Anggota DPRD Kota Samarinda, Samri Shaputra, mengatakan media sosial saat ini menjadi salah satu ruang utama penyebaran informasi. Namun, tidak semua konten yang beredar dapat langsung dipercaya, sebab sebagian informasi kerap tersebar tanpa melalui proses konfirmasi kepada pihak terkait.

“Yang membuat suasana jadi gaduh itu banyak berasal dari media sosial. Informasi yang belum tentu benar sudah terlanjur menyebar luas tanpa konfirmasi,” ujar Samri, 16 Juni 2026.

Menurut Samri, informasi yang belum jelas sumber dan validitasnya dapat dengan cepat membentuk opini publik. Kondisi itu dinilai berbahaya apabila masyarakat langsung mempercayai atau menyebarkan informasi tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu.

Ia menilai rendahnya literasi informasi menjadi salah satu penyebab masyarakat mudah terpengaruh oleh kabar yang belum teruji kebenarannya. Banyak pengguna media sosial, kata dia, langsung membagikan unggahan karena dianggap menarik atau viral, tanpa memastikan apakah informasi tersebut benar, utuh, dan sesuai konteks.

Samri menekankan pentingnya budaya verifikasi dalam menerima informasi. Prinsip tersebut, menurutnya, sejalan dengan praktik jurnalistik yang mengharuskan informasi diperiksa, dikonfirmasi, dan disajikan secara berimbang.

“Informasi itu harus berimbang. Tidak bisa hanya dari satu pihak tanpa klarifikasi,” tegasnya.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu juga menyoroti adanya pihak-pihak yang mengatasnamakan diri sebagai jurnalis, tetapi tidak menjalankan kerja jurnalistik sesuai prinsip dan etika profesi. Kondisi tersebut dinilai dapat memperbesar risiko penyebaran informasi yang tidak akurat di tengah masyarakat.

Selain persoalan akurasi, Samri juga menilai konten di media sosial cenderung lebih mudah menarik perhatian ketika menonjolkan sisi negatif. Akibatnya, ruang digital kerap dipenuhi polemik yang dapat memicu kegaduhan, bahkan berpotensi menimbulkan konflik sosial apabila tidak disikapi dengan bijak.

Fenomena lain yang turut menjadi perhatian adalah beredarnya kembali informasi atau pemberitaan lama tanpa disertai penjelasan mengenai perkembangan terbaru. Menurutnya, informasi lama yang diangkat kembali tanpa konteks dapat menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.

“Kadang berita lama diangkat lagi, padahal situasinya sudah berbeda. Ini yang akhirnya bikin gaduh lagi,” katanya.

Karena itu, Samri mengajak masyarakat lebih bijak menggunakan media sosial. Ia meminta warga tidak terburu-buru menilai suatu persoalan hanya berdasarkan informasi yang viral, melainkan memastikan terlebih dahulu fakta dan sumber informasinya.

“Kita harap masyarakat lebih bijak. Jangan langsung percaya sebelum tahu fakta sebenarnya,” pungkasnya. (Adv)