Daerah  

Dari Ruang Kelas hingga Rumah Mengaji: Menumbuhkan Semangat Belajar Bersama Anak-Anak Bontang Baru

Dari Ruang Kelas hingga Rumah Mengaji Menumbuhkan Semangat Belajar Bersama Anak-Anak Bontang Baru
Pendampingan mahasiswa KKN dalam kegiatan belajar mengajar bersama peserta didik SDN 06 Bontang Utara. (Dok. KKN)

DIGTALPOS.com, Bontang Baru – Ada banyak hal sederhana yang dapat menjadi awal dari tumbuhnya semangat belajar seorang anak, sebuah pertanyaan yang berani dilontarkan, tangan kecil yang terangkat untuk mencoba menjawab, atau seseorang yang bersedia duduk dan menemani ketika pelajaran terasa sulit. Di balik setiap proses belajar, ada rasa ingin tahu yang perlahan tumbuh, ada keberanian yang sedang dibangun, dan ada harapan yang mungkin belum terlihat hari ini, tetapi sedang dipersiapkan untuk hari-hari yang akan datang. Karena itu, pendidikan bukan hanya tentang menyampaikan pengetahuan, melainkan juga tentang menghadirkan ruang yang membuat anak merasa aman untuk belajar, mencoba, dan berkembang.

Berangkat dari semangat tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Kelompok Bontang Baru mengambil bagian dalam mendampingi proses pendidikan di lingkungan masyarakat melalui kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SDN 06 Bontang Utara dan TPA An-Namirah. Kedua tempat tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengabdian mahasiswa untuk hadir di tengah anak-anak, membantu proses pembelajaran, serta membangun interaksi yang tidak hanya berorientasi pada materi, tetapi juga pada terciptanya pengalaman belajar yang lebih aktif dan menyenangkan.

Sebelum berhadapan langsung dengan peserta didik, langkah pertama yang dilakukan mahasiswa KKN adalah membangun komunikasi dengan pihak SDN 06 Bontang Utara. Koordinasi dilakukan untuk menyampaikan rencana kegiatan sekaligus memperoleh izin pelaksanaan pendampingan pembelajaran. Bagi mahasiswa, pertemuan awal tersebut bukan sekadar bagian dari persiapan kegiatan, tetapi menjadi pintu pertama untuk mengenal lingkungan sekolah dan memahami bahwa pengabdian harus dibangun melalui komunikasi serta kerja sama dengan pihak yang berada di dalamnya. Melalui koordinasi tersebut, pelaksanaan kegiatan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pembelajaran yang ada di sekolah.

Setelah koordinasi dilakukan, kegiatan belajar mengajar mulai dilaksanakan secara rutin setiap hari Rabu, pukul 07.00 hingga 12.00. Mahasiswa KKN terlibat dalam pendampingan pembelajaran pada kelas 3A, 3B, 4A, 4B, 5A, 5B, 6A, dan 6B. Kehadiran mahasiswa bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan untuk memberikan pendampingan tambahan selama proses pembelajaran berlangsung. Materi pembelajaran tetap mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah dengan memanfaatkan buku maupun media pembelajaran yang tersedia. Di tengah proses tersebut, mahasiswa berusaha menjadi bagian yang membantu menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan menyenangkan bagi peserta didik.

Di dalam ruang kelas, kegiatan belajar tidak selalu berjalan dengan suasana yang sama. Ada saat ketika peserta didik tampak antusias mengikuti pembelajaran, tetapi ada pula waktu ketika konsentrasi mulai menurun dan rasa jenuh perlahan muncul. Pada saat seperti itulah mahasiswa berupaya menghadirkan suasana yang lebih hidup. Permainan sederhana dan ice breaking disisipkan di sela-sela pembelajaran dengan menyesuaikan kondisi kelas. Bukan sekadar untuk membuat suasana menjadi lebih ramai, kegiatan tersebut menjadi cara untuk mengembalikan perhatian peserta didik, mencairkan suasana, dan memberi kesempatan kepada mereka untuk kembali menikmati proses belajar.

Di balik permainan, tawa, dan interaksi yang terjadi, terdapat pengalaman yang lebih dalam bagi mahasiswa KKN. Anak-anak menunjukkan bahwa belajar memiliki banyak cara untuk dinikmati. Ada yang lebih mudah memahami materi melalui penjelasan, ada yang membutuhkan pendampingan, dan ada pula yang menjadi lebih berani ketika suasana belajar dibuat lebih santai. Interaksi tersebut membuat mahasiswa tidak hanya membantu peserta didik memahami pembelajaran, tetapi juga belajar mengenali karakter dan kebutuhan mereka. Setiap pertemuan menjadi kesempatan untuk belajar bahwa mendampingi seorang anak bukan hanya tentang membantu ketika ia mengalami kesulitan, tetapi juga tentang memberikan ruang agar ia percaya bahwa dirinya mampu mencoba.

Dari Ruang Kelas hingga Rumah Mengaji Menumbuhkan Semangat Belajar Bersama Anak-Anak Bontang Baru (1)
Evaluasi dan penyampaian masukan dari ustadzah/pengurus TPA An-Namirah kepada mahasiswa KKN setelah kegiatan belajar mengajar. (Dok.KKN)

Penutupan kegiatan di SDN 06 Bontang Utara menjadi salah satu momen yang mengingatkan mahasiswa bahwa setiap pertemuan memiliki batas waktu. Selama pendampingan, mahasiswa tidak hanya memberikan tambahan tenaga bagi guru, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk berkomunikasi secara langsung dengan peserta didik dan memahami keberagaman karakter mereka. Dari satu kelas ke kelas lainnya, mahasiswa belajar beradaptasi dengan suasana yang berbeda, belajar menyampaikan sesuatu dengan cara yang dapat diterima anak-anak, dan belajar bahwa kehadiran yang sederhana pun dapat memberikan warna tersendiri dalam proses pembelajaran.

Namun, perjalanan pengabdian belum berhenti di lingkungan sekolah. Setelah menemani anak-anak belajar di ruang kelas, langkah mahasiswa KKN berlanjut menuju ruang belajar yang berbeda: TPA An-Namirah. Jika di sekolah anak-anak belajar berbagai pengetahuan melalui buku dan pembelajaran di kelas, di tempat ini mereka belajar mengenal dan membaca Al-Qur’an sekaligus memperoleh pendidikan keagamaan. Perpindahan ruang tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan pendidikan anak berlangsung melalui banyak tempat dan banyak orang yang hadir untuk mendampinginya. Bagi mahasiswa KKN, TPA An-Namirah menjadi ruang baru untuk berbagi, belajar, sekaligus mengenal bentuk pengabdian dalam suasana yang berbeda.
Seperti halnya di sekolah, kegiatan di TPA An-Namirah diawali dengan koordinasi bersama ustadzah dan pengurus TPA.

Mahasiswa menyampaikan rencana kegiatan pendampingan sekaligus menyesuaikan keterlibatan mereka dengan pembelajaran yang telah berjalan. Dari proses tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami bagaimana kegiatan pembelajaran di TPA dilaksanakan dan bentuk pendampingan apa yang dapat diberikan kepada peserta didik. Komunikasi sejak awal menjadi bagian penting agar kehadiran mahasiswa tidak berjalan sendiri, tetapi dapat menyatu dengan kegiatan yang telah dibangun oleh pihak TPA.

Kegiatan belajar mengajar di TPA An-Namirah dilaksanakan secara rutin setiap hari Rabu dan Jumat. Pada hari Rabu, kegiatan berlangsung mulai pukul 15.00 hingga 17.30, sedangkan pada hari Jumat dilaksanakan mulai pukul 15.00 hingga 17.00. Pendampingan diberikan kepada seluruh peserta didik yang terbagi dalam empat kelas Iqra dan tiga kelas Al-Qur’an. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN bekerja sama dengan ustadz dan ustadzah untuk mendampingi peserta didik sesuai dengan materi dan kegiatan yang telah diterapkan di TPA. Kehadiran mahasiswa menjadi dukungan tambahan dalam proses pembelajaran sekaligus memberikan ruang interaksi yang lebih luas bagi peserta didik selama kegiatan berlangsung.

Di tempat ini, mahasiswa kembali melihat bahwa proses belajar tidak selalu tentang seberapa cepat seseorang dapat memahami sesuatu. Ada proses yang membutuhkan pengulangan, ada bacaan yang perlu dilatih berkali-kali, dan ada keberanian yang harus terus ditumbuhkan ketika seorang anak belum berhasil melakukan sesuatu dengan sempurna. Dari proses mendampingi tersebut, mahasiswa belajar untuk lebih sabar dalam memberikan arahan dan lebih peka terhadap kebutuhan setiap peserta didik. Hal-hal yang tampak kecil selama pembelajaran justru menjadi bagian yang membuat pengalaman pengabdian terasa berarti.

Semakin sering berinteraksi dengan anak-anak, semakin mahasiswa menyadari bahwa kegiatan mengajar tidak hanya memberikan manfaat kepada mereka yang didampingi. Ada banyak hal yang justru kembali dipelajari oleh mahasiswa. Anak-anak mengajarkan arti kesabaran ketika sebuah bacaan harus diulang, keberanian ketika mereka tetap mencoba setelah melakukan kesalahan, dan ketulusan dalam menikmati proses belajar tanpa terlalu memikirkan hasil. Dari ruang kelas hingga tempat mengaji, mahasiswa menemukan bahwa pendidikan tumbuh melalui hubungan yang saling memberi. Mahasiswa datang membawa ilmu dan tenaga, tetapi pulang membawa pelajaran yang tidak seluruhnya dapat ditemukan di dalam buku.

Setelah kegiatan belajar mengajar selesai, mahasiswa KKN memperoleh evaluasi dan masukan dari ustadzah serta pengurus TPA An-Namirah. Evaluasi tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat kembali proses pendampingan yang telah dilakukan, baik dalam cara berinteraksi dengan peserta didik maupun dalam pengelolaan waktu selama kegiatan. Setiap masukan menjadi bahan refleksi agar pertemuan berikutnya dapat berjalan dengan lebih baik dan sesuai dengan kondisi serta kebutuhan pembelajaran. Dari sini mahasiswa kembali belajar bahwa pengabdian bukan tentang merasa telah melakukan semuanya dengan benar, melainkan tentang kesediaan untuk mendengarkan, memperbaiki diri, dan terus memberikan yang terbaik selama kesempatan itu masih ada.

Hari-hari pendampingan akhirnya sampai pada penghujungnya. Kegiatan yang semula dimulai dengan koordinasi dan perkenalan perlahan berubah menjadi rutinitas yang menghadirkan kebersamaan. Anak-anak yang awalnya hanya ditemui dalam kegiatan belajar kemudian menjadi bagian dari cerita perjalanan KKN. Ustadz dan ustadzah yang mendampingi proses pembelajaran juga menjadi bagian dari ruang belajar mahasiswa untuk memahami arti kerja sama dan pengabdian. Ketika waktu pendampingan harus berakhir, yang tersisa bukan hanya dokumentasi kegiatan, tetapi juga pengalaman dan kenangan dari pertemuan yang telah dilalui bersama.

Penutupan kegiatan belajar mengajar di TPA An-Namirah menjadi penanda berakhirnya masa pendampingan mahasiswa KKN dalam proses pembelajaran. Namun, berakhirnya kegiatan tidak serta-merta menghapus kebersamaan yang telah terbentuk. Selama pelaksanaan KBM, mahasiswa bersama ustadz dan ustadzah telah melalui berbagai proses dalam mendampingi peserta didik, mulai dari kegiatan mengaji hingga aktivitas pendukung selama pembelajaran. Setiap pertemuan meninggalkan cerita tersendiri dan menjadi bagian dari perjalanan pengabdian mahasiswa di Kelurahan Bontang Baru.

Pada akhirnya, kegiatan belajar mengajar di SDN 06 Bontang Utara dan TPA An-Namirah bukan hanya tentang apa yang telah dilakukan mahasiswa selama masa KKN. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi perjalanan untuk memahami bahwa pengabdian hadir melalui kepedulian, kesediaan untuk mendampingi, dan kemauan untuk tumbuh bersama masyarakat. Di sekolah, mahasiswa belajar tentang keberagaman karakter anak dan dinamika ruang kelas. Di TPA, mahasiswa belajar tentang kesabaran, ketekunan, dan nilai kebersamaan dalam mendampingi proses belajar. Semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang mungkin tidak tertulis dalam silabus, tetapi akan selalu memiliki tempat dalam ingatan.

Mungkin anak-anak kelak tidak mengingat seluruh materi, permainan, atau percakapan yang pernah dilalui bersama mahasiswa KKN. Namun, semoga mereka tetap mengingat bahwa pernah ada yang hadir untuk menemani, mendengarkan, membantu ketika kesulitan, dan membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan. Bagi mahasiswa, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa ilmu akan lebih bermakna ketika dibagikan, dan sebuah kehadiran akan berarti ketika disertai kepedulian. Meskipun masa KKN berakhir, pertemuan dan kebaikan yang terjalin tidak harus ikut berakhir; sebagian dapat tinggal sebagai kenangan dan pelajaran.

Dari ruang kelas hingga rumah mengaji, perjalanan ini mengajarkan bahwa pengabdian bukan hanya tentang apa yang diberikan, tetapi juga tentang apa yang dibawa pulang dari orang-orang yang ditemui. Anak-anak menghadirkan semangat, para pendidik memberikan teladan, dan masyarakat memberi ruang bagi mahasiswa untuk belajar. Pada akhirnya, KKN bukan sekadar datang untuk berbagi, tetapi juga pulang dengan membawa pelajaran dan kenangan yang akan tetap bermakna. (*)