DIGTALPOS.com, Bontang Baru – Di tengah lingkungan Kelurahan Bontang Baru, terdapat sebuah ruang yang menyimpan banyak bahan bacaan dan potensi untuk menjadi tempat belajar bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Ruang tersebut adalah Perpustakaan Satya Taru. Namun, keberadaannya ternyata belum sepenuhnya dikenal oleh masyarakat. Bahkan, masih terdapat anak-anak yang belum mengetahui bahwa di Kelurahan Bontang Baru terdapat sebuah perpustakaan yang dapat mereka manfaatkan sebagai tempat membaca dan belajar.
Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang menarik perhatian mahasiswa KKN Tematik Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda ketika melakukan observasi di lingkungan kelurahan. Perpustakaan Satya Taru sebenarnya telah memiliki ruang dan koleksi buku yang dapat mendukung kegiatan pendidikan dan literasi. Namun, sebelum adanya program Rumah Belajar, pemanfaatannya belum berjalan secara maksimal.
Aktivitas di perpustakaan masih terbatas sehingga ruang yang seharusnya dapat menjadi salah satu pusat kegiatan edukasi masyarakat tersebut belum banyak digunakan. Bagi mahasiswa KKN, kondisi ini bukan sekadar sebuah permasalahan, tetapi juga menjadi sebuah peluang untuk menghadirkan perubahan. Terlebih ketika masih ada anak-anak yang bahkan belum mengetahui keberadaan perpustakaan di lingkungan mereka sendiri. Dari sinilah muncul sebuah pertanyaan sederhana yang kemudian menjadi awal dari sebuah gagasan: bagaimana jika perpustakaan yang sudah tersedia ini kembali dihidupkan dan diperkenalkan kepada anak- anak melalui sebuah kegiatan yang dekat dengan kebutuhan mereka?
Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui Rumah Belajar, yang ditetapkan sebagai program kerja utama KKN Tematik UINSI Samarinda di Kelurahan Bontang Baru. Rumah Belajar tidak dirancang sebagai kegiatan yang sekadar dilaksanakan untuk memenuhi rangkaian program KKN, tetapi sebagai program utama yang diharapkan mampu memberikan dampak dan manfaat secara berkelanjutan. Fokus tersebut sejalan dengan KKN Tematik UINSI Samarinda tahun 2026 yang mengusung tema pendidikan, literasi, dan penguatan sumber daya manusia, dengan jargon “Mengabdi untuk Pendidikan, Membangun Generasi Masa Depan.” Karena itu, mahasiswa memilih untuk mengoptimalkan fasilitas yang sudah dimiliki masyarakat daripada membangun sesuatu yang baru. Perpustakaan Satya Taru kemudian dijadikan pusat kegiatan Rumah Belajar sekaligus menjadi ruang yang diharapkan dapat terus dimanfaatkan setelah masa pengabdian mahasiswa berakhir.
Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Mahasiswa menyadari bahwa masa KKN memiliki batas waktu, sedangkan pendidikan dan literasi membutuhkan proses yang panjang dan berkelanjutan. Dengan menjadikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan, Rumah Belajar tidak hanya memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar selama mahasiswa berada di Bontang Baru, tetapi juga memperkenalkan kembali Perpustakaan Satya Taru sebagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Harapannya, ketika kegiatan KKN telah selesai, perpustakaan tidak kembali menjadi ruang yang sepi, tetapi tetap menjadi tempat yang hidup melalui kegiatan membaca, belajar, dan berbagai aktivitas positif lainnya.
Rumah Belajar mulai dilaksanakan pada 21 Juli 2026 dan berlangsung secara rutin setiap hari Selasa dan Kamis hingga Agustus 2026. Kegiatan ini terbuka bagi anak-anak usia sekitar 5–12 tahun, dengan dua sesi pada setiap pelaksanaannya, yaitu pukul 14.00– 15.00 dan 16.00–17.00. Kegiatan tidak dibuat seperti pembelajaran formal di sekolah. Anak-anak diberikan ruang untuk belajar dengan cara yang lebih santai, interaktif, dan menyenangkan. Mereka dapat mengerjakan tugas sekolah, membaca buku, belajar membaca dan menulis, berhitung, menggambar, mewarnai, membuat karya sederhana, maupun mengikuti aktivitas kreatif lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan dan ketertarikan mereka.
Dalam setiap pertemuan, mahasiswa berusaha menciptakan suasana yang membuat anak-anak merasa nyaman untuk belajar. Ada anak yang datang membawa tugas sekolah dan membutuhkan bantuan untuk menyelesaikannya. Ada yang masih membutuhkan pendampingan dalam membaca dan menulis, sementara yang lainnya lebih antusias ketika kegiatan diisi dengan menggambar, mewarnai, atau membuat karya. Perbedaan tersebut justru membuat Rumah Belajar menjadi ruang yang lebih hidup. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pendamping dalam memahami materi, tetapi juga berusaha menjadi teman belajar yang dapat mendengarkan, membantu, dan memberikan semangat kepada anak-anak.
Perlahan, kehadiran Rumah Belajar mulai membawa perubahan pada suasana Perpustakaan Satya Taru. Anak-anak yang sebelumnya belum mengetahui keberadaan perpustakaan mulai mengenal dan datang ke tempat tersebut. Ruang yang sebelumnya relatif sepi mulai dipenuhi aktivitas belajar dan interaksi. Buku-buku yang sebelumnya tersusun di rak mulai kembali dibuka dan dibaca. Anak-anak mulai mendapatkan pengalaman bahwa perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi juga tempat untuk belajar, bertanya, berkreasi, dan menghabiskan waktu dengan kegiatan yang positif. Bagi mahasiswa KKN, perubahan sederhana ini justru menjadi salah satu bagian paling bermakna dari pelaksanaan Rumah Belajar.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa menghidupkan sebuah ruang tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Terkadang, sebuah ruang hanya membutuhkan kegiatan yang tepat, pendampingan yang konsisten, dan orang-orang yang mau mengajak masyarakat untuk kembali memanfaatkannya. Dari anak-anak yang awalnya belum mengetahui keberadaan perpustakaan, perlahan muncul rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu tersebut, mereka mulai datang. Dari kedatangan itu pula, tumbuh kesempatan untuk mengenalkan buku, membangun kebiasaan membaca, dan menumbuhkan semangat belajar.
Rumah Belajar kemudian menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan budaya literasi kepada anak-anak Bontang Baru. Ketika mereka mulai mengenal Perpustakaan Satya Taru, mereka memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan buku dan berbagai sumber pengetahuan yang tersedia. Upaya tersebut juga didukung melalui pengembangan koleksi buku sehingga pilihan bacaan di perpustakaan dapat semakin beragam. Harapannya, anak-anak tidak hanya datang ketika kegiatan Rumah Belajar berlangsung, tetapi secara perlahan memiliki kebiasaan untuk berkunjung, membaca, dan memanfaatkan fasilitas perpustakaan secara mandiri. Dengan demikian, Rumah Belajar tidak berhenti sebagai kegiatan belajar bersama mahasiswa, tetapi menjadi langkah awal untuk membangun lingkungan literasi yang dapat terus tumbuh di Kelurahan Bontang Baru.
Dalam perjalanan pelaksanaannya, Rumah Belajar juga mendapat dukungan dari PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) sebagai pihak yang turut mendukung terselenggaranya program utama KKN Tematik UINSI Samarinda di Bontang Baru. Dukungan tersebut membantu pemenuhan kebutuhan serta sarana pendukung kegiatan Rumah Belajar, sehingga kegiatan dapat berlangsung dengan lebih optimal. Bagi mahasiswa, dukungan ini menjadi bagian penting dari perjalanan program karena menunjukkan bahwa upaya menghadirkan ruang pendidikan dan literasi tidak dapat berjalan sendiri. Ada kepedulian dan kontribusi dari berbagai pihak yang bersama-sama melihat bahwa pendidikan anak merupakan investasi bagi masa depan.

Belajar KKN Tematik UINSI Samarinda. (Dok. KKN)
Keterlibatan PT Pupuk Kalimantan Timur juga memperlihatkan bahwa keberlanjutan sebuah program di masyarakat dapat dibangun melalui kolaborasi. Mahasiswa membawa gagasan dan pendampingan, pemerintah kelurahan memberikan ruang dan dukungan lingkungan, masyarakat menjadi bagian dari penerima sekaligus penjaga keberlanjutan program, sementara dukungan dari pihak perusahaan turut memperkuat sarana yang dibutuhkan. Pertemuan berbagai peran tersebut menjadi kekuatan tersendiri bagi Rumah Belajar untuk tidak hanya menjadi program sesaat, tetapi memiliki peluang untuk terus berkembang setelah mahasiswa menyelesaikan masa KKN.
Pada akhirnya, perjalanan Rumah Belajar bukan hanya tentang membuat Perpustakaan Satya Taru menjadi lebih ramai. Lebih dari itu, program ini adalah tentang mengembalikan fungsi sebuah ruang kepada masyarakat dan memperkenalkannya kembali kepada anak-anak yang sebelumnya bahkan belum mengetahui keberadaannya. Dari sebuah perpustakaan yang belum banyak dimanfaatkan, perlahan tumbuh ruang belajar yang mulai memiliki aktivitas. Dari buku-buku yang tersusun di rak, mulai tumbuh kebiasaan membaca. Dan dari anak-anak yang datang untuk belajar, tumbuh harapan akan generasi yang lebih percaya diri, kreatif, dan memiliki semangat untuk terus mencari pengetahuan.
Bagi mahasiswa KKN Tematik UINSI Samarinda, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu harus dimulai dengan membangun sesuatu yang benar-benar baru. Terkadang, pengabdian justru dimulai dengan melihat kembali apa yang sudah dimiliki masyarakat, menemukan potensinya, lalu bersamasama membuatnya kembali hidup. Perpustakaan Satya Taru sudah ada. Buku-buku sudah tersedia. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu dan semangat untuk belajar. Rumah Belajar hadir untuk mempertemukan semuanya dalam satu ruang.
Lebih jauh lagi, Rumah Belajar menjadi gambaran kecil tentang bagaimana sebuah program utama KKN Tematik dapat diarahkan untuk memberikan dampak yang berkelanjutan. Ketika mahasiswa nantinya meninggalkan Kelurahan Bontang Baru, harapannya semangat yang telah tumbuh tidak ikut berhenti. Perpustakaan Satya Taru dapat terus dimanfaatkan, anak-anak tetap memiliki ruang untuk membaca dan belajar, serta masyarakat dapat melanjutkan kegiatan yang telah dirintis bersama. Sebab, keberhasilan sebuah program pengabdian bukan hanya tentang seberapa banyak kegiatan yang terlaksana, tetapi juga tentang apa yang tetap hidup setelah kegiatan tersebut selesai.
Sebab, membangun generasi masa depan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari satu perpustakaan, satu ruang belajar, satu buku yang dibaca, dan satu anak yang menemukan bahwa belajar ternyata bisa menyenangkan. Dari Perpustakaan Satya Taru, satu ruang mulai dihidupkan kembali. Melalui Rumah Belajar, semangat belajar dan literasi mulai ditumbuhkan. Dengan dukungan berbagai pihak, termasuk PT Pupuk Kalimantan Timur, langkah kecil tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang dalam membangun generasi masa depan di Kelurahan Bontang Baru. “Mengabdi untuk Pendidikan, Membangun Generasi Masa Depan.” (*)













