DIGTALPOS.com, Bontang – Ancaman kebakaran di kawasan pulau-pulau pesisir Kota Bontang mendapat atensi dari Ketua Komisi C DPRD Kota Bontang, Alfin Rausan Fikry. Dalam rapat bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Bontang, ia menegaskan pentingnya kesiapan mitigasi bencana di wilayah pesisir yang selama ini dinilai memiliki tingkat kerentanan cukup tinggi.
Menurut Alfin, perhatian pemerintah terhadap kawasan pulau tidak boleh kalah dibanding wilayah perkotaan. Pasalnya, permukiman di pulau-pulau seperti Kampung Malahing, Gusung, Tihi-Tihi hingga Selangan mayoritas merupakan kawasan padat penduduk dengan bangunan berbahan kayu yang rawan terbakar.
Dalam forum tersebut, Alfin mempertanyakan sejauh mana kesiapan sarana dan prasarana penanggulangan kebakaran di kawasan pulau. Ia menilai keberadaan alat pemadam api ringan (APAR), floating pump, hingga edukasi kebencanaan kepada masyarakat menjadi hal mendasar yang harus dipastikan tersedia secara optimal.

“Bagaimana mitigasi bencana kita di pulau-pulau itu, terutama soal kebakaran. Apakah ada APAR, floating pump, dan apakah pernah dilakukan edukasi kepada masyarakat di sana. Itu penting karena mereka juga bagian dari wilayah kita,” ujar Alfin saat memimpin rapat, Senin (11/5/2026).
Politisi muda tersebut juga mengingatkan agar pelayanan Disdamkartan tak hanya berfokus pada penanganan kebakaran di pusat kota. Menurutnya, masyarakat pesisir memiliki tantangan tersendiri karena akses penanganan darurat cenderung lebih sulit dibanding kawasan daratan.
Ia menilai, keterlambatan penanganan kebakaran di wilayah pulau dapat berakibat fatal mengingat jarak tempuh dan keterbatasan akses armada pemadam. Karena itu, kesiapan alat dan personel di lokasi menjadi faktor utama dalam meminimalisir dampak kebakaran.
“Jangan sampai kita sibuk mengurusi hal-hal kecil, tapi lupa dengan mitigasi bencana di pulau-pulau. Karena musibah bisa terjadi di mana saja,” tegasnya.
Sorotan tersebut langsung mendapat tanggapan dari Kepala Disdamkartan Bontang, Amiluddin. Ia memastikan, seluruh pulau berpenghuni di wilayah Bontang kini telah memiliki staf damkar serta perlengkapan dasar untuk penanganan kebakaran.
“Semua pulau sekarang sudah punya staf damkar. Malahing, Tihi-Tihi, Gusung, Selangan itu sudah ada semuanya,” jelas Amiluddin.
Tak hanya menempatkan personel, Disdamkartan juga telah mendistribusikan sejumlah perlengkapan penanganan kebakaran. Setiap pulau, kata dia, kini dilengkapi lima unit alat pemadam api ringan serta floating pump yang digunakan untuk menyedot air laut sebagai sumber pemadaman ketika terjadi kebakaran.
Menurut Amiluddin, keberadaan fasilitas tersebut terbukti efektif saat insiden kebakaran yang terjadi di Kampung Malahing beberapa bulan lalu. Saat itu, api berhasil dikendalikan lebih cepat sehingga tidak menjalar ke rumah-rumah lain di kawasan padat penduduk.
“Alhamdulillah waktu kejadian di Malahing bisa tertangani karena alat sudah tersedia di sana. Kalau tidak ada, mungkin dampaknya bisa lebih besar,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pihaknya juga terus melakukan edukasi dan pelatihan kepada masyarakat pesisir terkait langkah awal penanganan kebakaran. Edukasi tersebut dinilai penting agar warga dapat melakukan tindakan cepat sebelum bantuan utama tiba di lokasi kejadian.
Dengan adanya perhatian dari DPRD dan penguatan fasilitas dari Disdamkartan, diharapkan sistem mitigasi kebakaran di kawasan pesisir Bontang semakin optimal. Pemerintah pun diminta terus meningkatkan kesiapsiagaan, mengingat wilayah pulau memiliki risiko kebakaran yang cukup tinggi akibat kondisi permukiman yang padat dan akses penanganan yang terbatas. (Adv)













