DIGTALPOS.com, Bontang – Pemerintah Kota Bontang memutuskan menunda pengerjaan proyek Waduk Kanaan. Kebijakan tersebut mendapat tanggapan dari Anggota Komisi C DPRD Kota Bontang, Sumardi, yang menilai langkah itu sebagai keputusan realistis di tengah kondisi keuangan daerah yang masih mengalami tekanan.
Menurut Sumardi, penyesuaian sejumlah proyek pembangunan merupakan konsekuensi yang tidak bisa dihindari ketika kemampuan fiskal daerah mengalami penurunan. Karena itu, pemerintah perlu lebih cermat dalam menentukan program prioritas agar pengelolaan anggaran tetap sehat dan pembangunan dapat berjalan secara bertahap.
“Program itu anggarannya menggunakan sistem multiyears dan bukan kebutuhan mendadak,” kata Sumardi, baru-baru ini.

Ia menjelaskan, proyek dengan skema multiyears atau tahun jamak memang membutuhkan kesiapan keuangan yang kuat. Sebab, pembiayaan proyek dilakukan secara bertahap dalam beberapa tahun anggaran sehingga pemerintah harus memastikan kestabilan pendapatan daerah sebelum proyek dijalankan.
Menurutnya, dalam situasi fiskal yang belum stabil, Pemkot Bontang perlu mengutamakan program-program yang dianggap paling mendesak dan menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Langkah efisiensi anggaran juga dinilai penting agar tidak membebani APBD di masa mendatang.
Meski mendukung keputusan penundaan tersebut, Sumardi tidak menampik bahwa pembangunan Waduk Kanaan memiliki urgensi besar bagi Kota Bontang. Proyek itu dinilai menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan banjir yang hingga kini masih kerap terjadi di sejumlah wilayah saat intensitas hujan tinggi.
Waduk Kanaan selama ini diproyeksikan tidak hanya berfungsi sebagai kawasan penampungan air, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pengendalian banjir serta penataan kawasan di Kota Bontang. Karena itu, proyek tersebut telah lama menjadi perhatian masyarakat.
Namun, kondisi keuangan daerah yang terdampak berkurangnya dana transfer dari pemerintah pusat membuat sejumlah rencana pembangunan harus mengalami penyesuaian. Situasi tersebut memaksa pemerintah melakukan evaluasi ulang terhadap berbagai proyek strategis agar tidak memicu defisit anggaran yang lebih besar.
Tidak hanya proyek Waduk Kanaan, beberapa program pembangunan lain juga ikut terdampak kebijakan efisiensi anggaran. Salah satunya pembangunan lapangan mini soccer yang sebelumnya direncanakan dalam jumlah lebih banyak.
“Jumlah rencana pembangunan lapangan mini soccer juga terpaksa harus dikurangi,” katanya.
Sumardi memastikan penundaan proyek-proyek tersebut bukan berarti dibatalkan secara permanen. Ia menegaskan, langkah itu hanya bersifat sementara sambil menunggu kondisi keuangan daerah kembali stabil dan pendapatan daerah mengalami peningkatan.
Politisi tersebut berharap ke depan pendapatan asli daerah maupun dukungan anggaran dari pemerintah pusat dapat kembali membaik sehingga berbagai program pembangunan yang sempat tertunda bisa kembali dilanjutkan.
Ia juga meminta masyarakat memahami kondisi yang sedang dihadapi pemerintah daerah saat ini. Menurutnya, penyesuaian anggaran merupakan langkah yang harus diambil agar pembangunan di Kota Bontang tetap berjalan secara terukur tanpa mengganggu stabilitas keuangan daerah.
“Harapannya tentu kondisi fiskal segera membaik sehingga program-program yang menyangkut kepentingan masyarakat bisa kembali direalisasikan,” tutupnya. (Adv)













