DIGTALPOS.com, Kutai Timur – Aksi memilukan seekor orang utan yang terekam mengais sisa makanan di tumpukan sampah liar di jalur Perdau, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur, pekan lalu akhirnya berujung pada penanganan serius dari pihak berwenang. Video tersebut dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu gelombang keprihatinan publik atas nasib satwa liar yang kian terdesak akibat rusaknya habitat alami.
Dalam rekaman yang viral itu, orang utan tampak mendekati pinggir jalan, memunguti sisa makanan yang dibuang sembarangan. Pemandangan tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana tekanan terhadap hutan mendorong satwa dilindungi keluar dari wilayah jelajah alaminya demi bertahan hidup.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bergerak cepat. Bersama tim gabungan dari Conservation Action Network (CAN) dan Center for Orangutan Protection (COP), upaya pencarian dan evakuasi segera dilakukan untuk mencegah risiko yang lebih besar, baik bagi satwa maupun masyarakat.
Orang utan jantan dewasa yang kemudian diberi nama Sam itu berhasil ditemukan pada Rabu, 27 Januari 2026, tak jauh dari lokasi awal kemunculannya. Sam diperkirakan berusia antara 18 hingga 20 tahun.
Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, menjelaskan bahwa berdasarkan pemeriksaan tiga dokter hewan di lapangan, kondisi fisik Sam tergolong baik dan tidak ditemukan luka serius maupun tanda penyakit berbahaya.
“Secara medis kondisinya baik dan masih menunjukkan perilaku liar. Namun lokasi keberadaannya sangat tidak ideal karena berada di pinggir jalan yang berbatasan langsung dengan kebun sawit dan area pertambangan,” ujar Ari.
Keberadaan orang utan di kawasan tersebut dinilai sangat berisiko. Selain rawan tertabrak kendaraan, intensitas perjumpaan dengan manusia juga berpotensi mengubah perilaku alaminya. Satwa yang terbiasa dengan makanan manusia dikhawatirkan kehilangan naluri liarnya dan semakin sering mendekati permukiman atau jalan umum.
Atas pertimbangan tersebut, tim gabungan memutuskan untuk melakukan translokasi. Sam kemudian dipindahkan ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kutai Timur kawasan yang masih memiliki tutupan hutan cukup baik serta ketersediaan pakan alami yang memadai bagi orang utan.
Direktur CAN Borneo, Paulinus Kristanto, mengungkapkan bahwa kemunculan orang utan di tepi jalan bukanlah kejadian pertama di wilayah tersebut. Menurutnya, fragmentasi habitat akibat pembukaan lahan secara masif untuk perkebunan dan pertambangan menjadi faktor utama yang memaksa satwa liar keluar dari hutan.
“Di kiri dan kanan lokasi itu hutannya sudah habis. Jarak 50 sampai 100 meter saja sudah masuk kawasan tambang. Satwa tidak punya banyak pilihan selain keluar untuk mencari makan,” jelas Paulinus.
Ia juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang membuang sisa makanan di pinggir jalan. Tanpa disadari, perilaku ini justru menjadi pemicu utama satwa liar mendekat ke manusia.
“Begitu orang utan mengenal bau dan rasa makanan manusia, perilakunya bisa berubah. Ia akan menganggap jalan sebagai sumber makanan, bahkan bisa menghadang kendaraan. Ini sangat berbahaya, baik bagi orang utan maupun pengguna jalan,” tegasnya.
Saat ini, Sam telah dilepasliarkan kembali di habitat yang lebih aman dan jauh dari aktivitas manusia. BKSDA Kaltim pun mengimbau seluruh pihak baik perusahaan, pemerintah daerah, maupun masyarakat untuk bersama-sama menjaga koridor satwa liar, khususnya di kawasan yang berbatasan langsung dengan tambang dan perkebunan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kerusakan habitat bukan hanya mengancam kelestarian satwa dilindungi seperti orang utan, tetapi juga meningkatkan potensi konflik antara manusia dan alam. Tanpa upaya serius menjaga hutan dan lingkungan, kejadian serupa dikhawatirkan akan terus berulang di masa mendatang. (*)













