DIGTALPOS.com, Bontang – Kasus penyalahgunaan narkotika di kalangan remaja, mendapat atensi dari Anggota DPRD Kota Bontang, Muhammad Yusuf. Ia menyoroti meningkatnya kasus pelajar yang harus menjalani rehabilitasi akibat kecanduan narkoba jenis sabu.
Perhatian itu muncul setelah seorang pelajar berusia 13 tahun diketahui masuk program rehabilitasi karena ketergantungan narkotika. Kondisi tersebut dinilai sangat memprihatinkan karena penyalahgunaan narkoba kini mulai menyasar anak-anak usia dini yang masih berada di bangku sekolah.
Muhammad Yusuf menilai, lingkungan pergaulan menjadi salah satu faktor paling dominan yang menyebabkan remaja mulai mengenal barang haram tersebut. Berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan Badan Narkotika Nasional Kota Bontang, sebagian besar anak yang direhabilitasi mengaku pertama kali mencoba sabu karena pengaruh teman sebaya maupun ajakan dari rekan yang lebih tua.
Menurutnya, modus yang digunakan para pelaku juga semakin mengkhawatirkan. Pada tahap awal, narkoba kerap diberikan secara gratis agar korban tertarik mencoba. Setelah itu, para pengguna perlahan mulai mengalami ketergantungan hingga akhirnya kesulitan lepas dari pengaruh zat adiktif tersebut.
“Pengaruh lingkungan menjadi faktor yang sangat kuat dalam membentuk perilaku remaja,” ujar Muhammad Yusuf, belum lama ini.

Data BNNK Bontang mencatat, sepanjang tahun 2026 terdapat enam anak di bawah umur yang harus menjalani rehabilitasi akibat kecanduan sabu. Mayoritas korban masih berstatus pelajar tingkat SMA dan SMK.
Tiga kasus pertama ditemukan pada periode Januari hingga Maret 2026. Namun memasuki April, kembali ada tiga keluarga yang datang meminta bantuan rehabilitasi bagi anak mereka yang diduga sudah terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran besar karena menunjukkan bahwa peredaran narkoba tidak lagi hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga mulai masuk ke lingkungan anak-anak dan pelajar.
Muhammad Yusuf menegaskan, pengawasan terhadap anak harus menjadi perhatian bersama. Ia menilai peran keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat sangat penting dalam mencegah anak terlibat penyalahgunaan narkotika.
Menurutnya, orang tua harus lebih aktif memantau aktivitas anak, termasuk lingkungan pertemanan dan kebiasaan sehari-hari. Begitu pula pihak sekolah diharapkan dapat memperkuat edukasi mengenai bahaya narkoba melalui kegiatan pembinaan maupun sosialisasi rutin.
“Intinya narkoba itu sangat membahayakan dan merusak masa depan anak-anak remaja dan pemuda pemudi, dan para pengedar harus ditangkap dan diberi hukuman yang seberat-beratnya,” tegasnya.
Selain penindakan terhadap pengedar, ia juga meminta agar upaya pencegahan terus diperkuat melalui edukasi yang masif di tengah masyarakat. Sosialisasi bahaya narkoba dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan agar anak-anak memiliki pemahaman tentang risiko besar yang ditimbulkan dari penggunaan narkotika.
Ia berharap seluruh elemen masyarakat tidak menutup mata terhadap kondisi tersebut. Menurutnya, kepedulian lingkungan sekitar sangat diperlukan untuk mendeteksi lebih dini apabila ada anak atau remaja yang mulai menunjukkan tanda-tanda terlibat penyalahgunaan narkoba.
Dengan pengawasan yang ketat, pendampingan yang baik, serta edukasi yang berkelanjutan, diharapkan generasi muda di Kota Bontang dapat terhindar dari ancaman narkotika yang semakin mengkhawatirkan. (Adv)













