DIGTALPOS.com, Bontang – Upaya mendorong transformasi pendidikan berbasis teknologi di Kota Bontang terus mendapat perhatian serius dari DPRD. Salah satunya melalui program digitalisasi sekolah yang dijalankan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) dengan menyalurkan sebanyak 1.651 unit tablet ke sejumlah sekolah tingkat SMP.
Program ini dinilai sebagai langkah strategis dalam menjawab tantangan era digital sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran di ruang kelas. Dengan adanya perangkat tersebut, siswa diharapkan dapat mengakses materi pembelajaran secara lebih interaktif, efisien, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Wakil Ketua DPRD Kota Bontang, Sitti Yara, menyampaikan bahwa kebijakan ini merupakan langkah positif yang tidak hanya mendukung proses belajar mengajar, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi keluarga siswa.
“Program ini tentu sangat membantu, terutama dalam mengurangi beban orang tua untuk menyediakan sarana belajar anak. Ini bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam mendukung pendidikan,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program digitalisasi tidak semata ditentukan oleh jumlah perangkat yang disalurkan. Lebih dari itu, aspek pengawasan dan pemanfaatan di lapangan menjadi faktor krusial yang harus diperhatikan secara serius.
Menurutnya, tanpa sistem kontrol yang baik, perangkat yang seharusnya menjadi sarana belajar justru berpotensi disalahgunakan. Ia menyoroti kecenderungan anak-anak yang mudah terdistraksi oleh media sosial, permainan digital, maupun konten yang tidak sesuai usia.
“Jangan sampai fasilitas yang sudah diberikan ini tidak dimanfaatkan secara optimal. Kita tahu, anak-anak sekarang sangat mudah teralihkan perhatiannya ke hal-hal di luar pembelajaran,” tegasnya.
Sitti Yara juga menekankan bahwa tanggung jawab pengawasan tidak hanya berada di lingkungan sekolah. Peran orang tua di rumah menjadi kunci penting dalam memastikan penggunaan tablet tetap sesuai dengan tujuan pendidikan.
Ia menyebut, tanpa keterlibatan aktif orang tua, risiko penyalahgunaan perangkat digital akan semakin besar dan dapat berdampak langsung pada menurunnya konsentrasi belajar hingga prestasi siswa.
“Kalau tidak diawasi dengan baik, justru potensi penyalahgunaannya bisa lebih besar daripada manfaatnya. Anak-anak bisa kehilangan fokus belajar karena lebih tertarik pada hiburan digital,” jelasnya.
Di sisi lain, DPRD juga mengakui bahwa perkembangan teknologi merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, adaptasi terhadap sistem digital harus dibarengi dengan peningkatan literasi digital, baik bagi siswa, guru, maupun orang tua.
“Zaman sekarang semuanya serba digital, kita tidak bisa mundur. Tapi harus tetap diarahkan agar teknologi ini digunakan sesuai fungsi utamanya, yaitu untuk pendidikan,” lanjutnya.
Sebagai bentuk penguatan, DPRD Bontang mendorong adanya sistem pengawasan terpadu yang melibatkan sekolah dan keluarga. Selain itu, peran guru juga dinilai penting dalam mengarahkan penggunaan perangkat secara efektif selama proses pembelajaran berlangsung.
Dengan sinergi yang baik antara pemerintah, sekolah, dan orang tua, program digitalisasi pendidikan diharapkan tidak hanya menjadi simbol kemajuan, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kota Bontang.
“Pada akhirnya, semua kembali kepada kita bersama, terutama orang tua. Apakah perangkat ini benar-benar dimanfaatkan untuk belajar, atau justru sebaliknya. Di situlah kunci keberhasilannya,” tutupnya. (Adv)













