DIGTALPOS.com – Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah tinggal menghitung hari. Momen besar bagi umat Islam ini identik dengan pelaksanaan salat Id, penyembelihan hewan kurban, hingga gema takbir yang berkumandang di berbagai penjuru masjid dan musala.
Namun, menjelang pelaksanaan salat Idul Adha, masih banyak masyarakat yang mempertanyakan satu hal penting, yakni apakah diperbolehkan makan dan minum sebelum menunaikan sholat Idul Adha?
Pertanyaan tersebut kerap muncul lantaran terdapat perbedaan anjuran antara Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Jika pada Idul Fitri umat Islam dianjurkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat sholat Id, maka pada Idul Adha justru dianjurkan menunda makan hingga selesai melaksanakan sholat.
Anjuran Tidak Makan Sebelum Sholat Idul Adha
Melansir penjelasan dari NU Online, umat Islam dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat Idul Adha. Rasulullah SAW mencontohkan untuk baru makan setelah pulang dari sholat Id dan menikmati sebagian daging hewan kurban.
Hal tersebut sebagaimana hadis riwayat Imam Ahmad dari sahabat Buraidah RA:
“Rasulullah SAW tidak berangkat untuk sholat Idul Fitri sebelum makan dan tidak makan pada hari Idul Adha kecuali setelah pulang (dari sholat), lalu beliau makan dari hewan kurbannya.”
Anjuran tersebut menjadi salah satu sunah Rasulullah SAW yang dianjurkan untuk diikuti umat Islam sebagai bentuk kecintaan dan keteladanan kepada Nabi Muhammad SAW.
Meski demikian, hukum tidak makan sebelum sholat Idul Adha bersifat sunah, bukan kewajiban. Artinya, seseorang tetap diperbolehkan makan apabila memiliki kebutuhan tertentu, seperti kondisi kesehatan atau alasan lain. Namun, meneladani sunah Rasulullah SAW diyakini membawa keberkahan dan pahala tersendiri.
Hikmah Menunda Makan Sebelum Sholat Id
Di balik anjuran tersebut, terdapat sejumlah hikmah yang sarat makna spiritual dan sosial.
Pertama, menahan diri dari makan dan minum sebelum sholat Idul Adha menjadi bentuk latihan pengendalian diri, mirip seperti semangat berpuasa. Setelah menunaikan sholat Id, umat Islam kemudian dianjurkan menikmati hidangan dari hewan kurban sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.
Kedua, sunah ini juga mengandung nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Rasulullah SAW memberi teladan agar umat Islam yang berkurban dapat terlebih dahulu menyembelih hewan kurbannya, lalu menikmati hasilnya bersama keluarga maupun masyarakat sekitar.
Selain itu, kebiasaan ini menjadi pembelajaran sederhana untuk melatih kesabaran dan menahan hawa nafsu, terutama bagi mereka yang belum terbiasa menjalankan puasa sunah.
Dalam kitab Al-Mughni, Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan bahwa Idul Fitri dan Idul Adha memiliki perbedaan makna dalam anjuran makan sebelum sholat.
Pada Idul Fitri, umat Islam dianjurkan segera makan sebagai tanda berakhirnya kewajiban puasa Ramadan. Sedangkan pada Idul Adha, umat Islam dianjurkan menunda makan agar berbuka dengan daging hasil kurban yang telah disembelih.
Idul Adha, Momentum Memperbanyak Amal Ibadah
Selain melaksanakan sholat Id dan ibadah kurban, Hari Raya Idul Adha juga menjadi momentum memperbanyak amalan sunah. Berbagai amalan ini dilakukan untuk menyempurnakan ibadah sekaligus meneladani kebiasaan Rasulullah SAW.
Berikut sejumlah amalan sunah yang dianjurkan saat Idul Adha:
1. Mengumandangkan Takbir
Takbir menjadi salah satu syiar utama dalam perayaan Idul Adha. Umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir sejak malam Idul Adha hingga hari tasyrik berakhir pada 13 Dzulhijjah.
Gema takbir biasanya dikumandangkan di masjid, musala, hingga rumah-rumah sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.
Selain memperbanyak takbir, umat Islam juga dianjurkan menghidupkan malam Idul Adha dengan berbagai ibadah seperti salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa.
2. Mandi Sebelum Sholat Id
Sebelum berangkat menuju tempat pelaksanaan sholat Id, umat Islam disunahkan mandi terlebih dahulu untuk membersihkan dan menyegarkan diri.
Mandi sunah Idul Adha dapat dilakukan sejak pertengahan malam hingga sebelum pelaksanaan sholat Id. Amalan ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan, termasuk perempuan yang sedang berhalangan sehingga tidak dapat melaksanakan sholat Id.
Selain menjaga kebersihan, mandi sunah juga menjadi simbol kesiapan menyambut hari besar umat Islam dengan penuh kesucian dan kegembiraan.
3. Memakai Wewangian dan Membersihkan Diri
Amalan lain yang dianjurkan adalah memakai wewangian, memotong kuku, merapikan rambut, serta membersihkan tubuh dari bau tidak sedap.
Dalam berbagai kitab fiqih dijelaskan bahwa hari raya merupakan momen istimewa sehingga umat Islam dianjurkan tampil bersih dan rapi saat bertemu sesama muslim.
Namun, penggunaan wewangian dan penampilan tetap dianjurkan secara sederhana serta tidak berlebihan.
4. Menggunakan Pakaian Terbaik
Rasulullah SAW juga mencontohkan memakai pakaian terbaik saat hari raya. Umat Islam dianjurkan mengenakan pakaian yang bersih, rapi, dan suci ketika menghadiri sholat Idul Adha.
Bagi laki-laki, pakaian berwarna putih disebut sebagai pilihan yang utama. Sedangkan perempuan dianjurkan memakai pakaian yang sederhana dan tidak berlebihan dalam berhias.
Anjuran ini tidak semata-mata soal penampilan, tetapi sebagai bentuk penghormatan terhadap hari raya dan syiar Islam.
Menyambut Idul Adha dengan Penuh Makna
Idul Adha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi juga momentum memperkuat ketakwaan, kepedulian sosial, dan semangat berbagi kepada sesama.
Dengan menjalankan amalan-amalan sunah yang diajarkan Rasulullah SAW, umat Islam diharapkan dapat meraih keberkahan serta menjadikan Hari Raya Idul Adha sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sebab itu, selain mempersiapkan hewan kurban dan kebutuhan hari raya, umat Islam juga dianjurkan mempersiapkan hati dan memperbanyak ibadah agar dapat menyambut Idul Adha dengan penuh keikhlasan dan kebahagiaan. (*)













