DIGTALPOS.com, Tangerang – Peran imam masjid di era modern tidak lagi cukup hanya sebagai pemimpin ibadah. Di tengah berbagai tantangan global, mulai dari perkembangan teknologi digital, penyebaran hoaks, meningkatnya polarisasi sosial, hingga ancaman ekstremisme, imam masjid dituntut mampu tampil sebagai pemimpin masyarakat yang adaptif, moderat, dan menjadi jembatan perdamaian antarumat.
Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Bridging to International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 yang dirangkaikan dengan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Imam Masjid Provinsi Banten 2026, di Masjid Raya Baitul Mukhtar BSD City, Tangerang, Jumat (3/7/2026).
Kegiatan ini menjadi rangkaian penting menjelang pelaksanaan International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 yang akan mempertemukan imam-imam masjid dari berbagai negara.
Seminar tersebut menghadirkan akademisi, ulama, tokoh agama, hingga para pemangku kebijakan yang memiliki pandangan serupa mengenai pentingnya transformasi peran imam masjid. Mereka menilai imam harus mampu menjawab berbagai persoalan umat, tidak hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga sosial, pendidikan, literasi digital, hingga diplomasi kemanusiaan.
Ketua Panitia IGIC 2026, Faried F. Saenong, menegaskan bahwa seminar nasional ini menjadi momentum strategis untuk membangun paradigma baru kepemimpinan imam masjid di tengah dinamika dunia yang terus berubah.
Menurutnya, imam masa kini harus mampu menghubungkan nilai-nilai luhur Islam dengan berbagai tantangan kemanusiaan yang dihadapi masyarakat global.
“IGIC 2026 ingin menghadirkan imam masjid sebagai pemimpin umat yang mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan tantangan kemanusiaan kontemporer. Imam harus menjadi penjaga moderasi, penggerak transformasi sosial, sekaligus diplomat peradaban yang membawa pesan Islam rahmatan lil ‘alamin kepada dunia,” ujar Faried.
Ia menambahkan, konsep “diplomat peradaban” bukan sekadar simbolik. Imam diharapkan mampu menjadi representasi wajah Islam yang damai, terbuka, dan mampu membangun komunikasi lintas budaya maupun lintas agama dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang harmonis.
Pandangan tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, yang menempatkan imam masjid sebagai figur sentral dalam pembangunan karakter masyarakat.
Menurut Nasaruddin, imam memiliki posisi strategis sebagai agen perdamaian dan pemersatu bangsa. Di tengah derasnya arus informasi digital, imam juga diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menangkal penyebaran hoaks, ujaran kebencian, serta berbagai paham ekstrem yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Dengan demikian, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga berkembang menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan karakter, pemberdayaan masyarakat, sekaligus ruang dialog yang menghadirkan kesejukan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sementara itu, Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Muhammad Ishom, dalam paparannya yang bertajuk “Reposisi Imam Masjid: Dari Pemimpin Ritual Menuju Diplomat Peradaban”, menjelaskan bahwa imam harus melampaui fungsi tradisional sebagai pemimpin salat.
Menurutnya, imam masa depan perlu mengembangkan peran sebagai aktor diplomasi berbasis nilai-nilai Islam wasatiyah atau Islam moderat.
“Imam masjid harus melampaui fungsi ritual menuju peran sebagai diplomat peradaban melalui penguatan soft diplomacy Islam wasatiyah, sehingga masjid menjadi pusat lahirnya dialog, kolaborasi, dan solusi bagi persoalan kemanusiaan global,” jelasnya.
Ia menilai, pendekatan tersebut akan memperkuat posisi masjid sebagai institusi yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap penyelesaian berbagai persoalan sosial, baik di tingkat lokal maupun internasional.
Senada dengan itu, Ketua IPIM Provinsi Banten, Ahmad Tholabi, menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas intelektual para imam agar mampu mengikuti perkembangan zaman.
Menurutnya, imam masa depan harus memiliki kompetensi yang lebih luas, tidak hanya menguasai ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga memahami perkembangan teknologi digital, dinamika sosial, wawasan kebangsaan, hingga kemampuan berkomunikasi dengan berbagai kalangan.
“Imam harus mampu menghadirkan dakwah yang adaptif, inklusif, serta relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Kompetensi keagamaan harus berjalan beriringan dengan kemampuan sosial dan digital agar dakwah semakin efektif,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama RI, Arsad Hidayat, menegaskan bahwa peningkatan kualitas imam merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan bangsa.
Ia mengatakan, pembinaan imam harus dilakukan secara berkelanjutan melalui penguatan kompetensi keagamaan, kepemimpinan, pelayanan umat, hingga kemampuan merespons berbagai persoalan sosial secara arif dan bijaksana.
Menurut Arsad, langkah tersebut akan memperkuat fungsi masjid sebagai pusat pemberdayaan masyarakat yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai tantangan kehidupan.
Melalui Seminar Nasional ini, International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 kembali menegaskan komitmennya untuk membangun ekosistem kepemimpinan imam yang berwawasan global, berakar kuat pada nilai-nilai Islam moderat, sekaligus mampu berkontribusi dalam menciptakan perdamaian, memperkuat harmoni sosial, dan mendorong kemajuan peradaban dunia.
Dengan semakin kompleksnya tantangan global, para peserta seminar berharap lahir generasi imam yang tidak hanya menjadi pemimpin di mimbar masjid, tetapi juga menjadi tokoh penggerak perubahan sosial, penjaga persatuan, serta duta nilai-nilai Islam yang damai di tingkat nasional maupun internasional. (*)













