DIGTALPOS.com, Samarinda – Capaian Tes Kemampuan Akademik atau TKA jenjang Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Samarinda pada 2026 menunjukkan hasil positif. Nilai rata-rata siswa tercatat berada di atas rata-rata nasional maupun rata-rata Provinsi Kalimantan Timur.
Kendati begitu, DPRD Kota Samarinda menilai capaian tersebut tidak boleh hanya dipandang sebagai angka keberhasilan. Pemerintah diminta melakukan pemetaan lebih rinci terhadap hasil TKA di setiap sekolah agar peningkatan kualitas pendidikan dapat berlangsung secara merata.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, mengatakan hasil TKA yang baik perlu dijadikan dasar evaluasi menyeluruh. Menurutnya, pemerintah perlu mengetahui sekolah mana saja yang masih mencatat nilai rendah agar persoalan yang dihadapi dapat segera diidentifikasi.
“Kalau ada daerah yang nilainya masih rendah, kita bisa cari penyebabnya. Apakah gurunya kurang, fasilitasnya belum memadai, atau akses ke sekolah yang masih sulit. Dari situ baru bisa dicarikan solusinya,” ujar Puji, Senin (15/6/2026).
Pada pelaksanaan TKA tahun ini, kemampuan siswa diukur melalui dua mata pelajaran, yakni Matematika dan Bahasa Indonesia. Hasil tersebut menunjukkan kemampuan akademik peserta didik di Samarinda berada di atas capaian rata-rata sejumlah daerah lainnya.
Puji menilai capaian tersebut merupakan hasil dari berbagai faktor pendukung dalam proses pendidikan. Di antaranya kualitas tenaga pendidik, ketersediaan sarana dan prasarana, serta lingkungan belajar yang menunjang perkembangan siswa.
Namun, ia mengingatkan bahwa nilai akademik tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan. Menurutnya, masih terdapat sejumlah persoalan mendasar yang perlu mendapat perhatian pemerintah, terutama terkait kondisi fasilitas sekolah.
Salah satu persoalan yang disoroti adalah infrastruktur ruang kelas. Berdasarkan data yang dimiliki DPRD, sekitar seribu ruang kelas di Samarinda masih mengalami kerusakan dengan tingkat ringan hingga berat.
Puji menyebut, persoalan tersebut banyak ditemukan pada sekolah-sekolah di wilayah pinggiran kota, terutama pada jenjang SD. Beberapa sekolah masih menghadapi kondisi bangunan yang kurang layak, mulai dari atap bocor, plafon rusak, genangan banjir saat hujan, hingga akses jalan menuju sekolah yang sulit dilalui.
“Masih ada sekolah yang atapnya bocor, plafonnya roboh, terendam banjir, bahkan akses jalannya rusak. Ini juga harus menjadi perhatian,” katanya.
Menurut Puji, peningkatan mutu pendidikan harus dilihat secara menyeluruh. Pemerintah tidak cukup hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga wajib memastikan seluruh peserta didik memperoleh fasilitas belajar yang aman, nyaman, dan layak.
Ia menegaskan, keberhasilan Samarinda mencatat nilai TKA di atas rata-rata nasional memang patut diapresiasi. Namun, capaian tersebut tidak boleh membuat pemerintah merasa persoalan pendidikan telah selesai sepenuhnya.
“Bersyukur tentu karena hasil TKA bagus. Tetapi jangan sampai kita merasa semua persoalan pendidikan sudah selesai. Masih banyak yang harus dibenahi,” tegasnya. (Adv)













