DIGTALPOS.com, Samarinda – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Samarinda semakin menjadi perhatian. Hingga awal Oktober 2026, ratusan kejadian kebakaran tercatat dengan luas lahan terdampak mencapai ratusan hektare. Kondisi ini mendorong perlunya penguatan kesiapsiagaan, termasuk dukungan terhadap relawan yang berada di wilayah rawan kebakaran.
Salah satu kawasan yang menghadapi ancaman karhutla berulang adalah Belimau, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara. Cuaca panas dan kondisi lahan yang mengering meningkatkan risiko munculnya titik api, sehingga kesiapan peralatan dan kecepatan penanganan menjadi faktor penting untuk mencegah kebakaran meluas.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda hingga 7 Oktober 2026, tercatat sebanyak 259 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak mencapai 643,27 hektare.
Besarnya angka tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan petugas ketika api sudah membesar. Keterlibatan masyarakat dan relawan di tingkat lingkungan juga diperlukan untuk mendeteksi kebakaran sejak dini serta membantu melakukan penanganan awal.
Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya tersebut, Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Abdul Rohim, menyerahkan bantuan uang tunai kepada Karang Taruna Belimau, Kamis (15/10/2026).
Bantuan tersebut akan dimanfaatkan untuk pengadaan peralatan pemadam kebakaran lahan yang dibutuhkan relawan dalam menjalankan tugas di lapangan. Dengan perlengkapan yang lebih memadai, relawan diharapkan dapat merespons kejadian lebih cepat sekaligus membantu mencegah api menjalar ke area lain.
Dukungan ini dinilai penting mengingat relawan di tingkat lingkungan kerap menjadi pihak pertama yang mengetahui adanya kebakaran. Kedekatan mereka dengan lokasi rawan memungkinkan informasi mengenai titik api disampaikan lebih cepat kepada petugas terkait.
Namun, kecepatan respons perlu diimbangi dengan ketersediaan peralatan dan perhatian terhadap keselamatan personel. Penanganan karhutla memiliki risiko tinggi, terutama ketika api menjalar di lahan kering, asap semakin pekat, atau kondisi angin membuat kobaran sulit dikendalikan.
Karena itu, pengadaan alat pemadam diharapkan tidak hanya memperkuat kemampuan relawan dalam melakukan penanganan awal, tetapi juga mendukung pelaksanaan tugas yang lebih aman dan terkoordinasi.
Upaya penanggulangan karhutla, menurut Abdul Rohim, membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah daerah, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, aparat kelurahan, relawan, serta masyarakat perlu membangun koordinasi agar pencegahan dan penanganan kebakaran dapat berjalan efektif.
Selain kesiapan menghadapi kebakaran, langkah pencegahan juga tidak kalah penting. Pemantauan kawasan rawan, pelaporan cepat ketika ditemukan api atau kepulan asap, serta edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan untuk menekan potensi munculnya kebakaran baru.
Warga juga diimbau tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar, terutama saat cuaca panas dan vegetasi dalam kondisi kering. Api kecil yang tidak terkendali dapat dengan cepat meluas dan mengancam lingkungan sekitar.
Bagi Karang Taruna Belimau, bantuan tersebut diharapkan menjadi tambahan dukungan dalam menjalankan kegiatan sosial dan kemanusiaan, khususnya menghadapi ancaman karhutla di wilayah Belimau dan sekitarnya.
Dengan dukungan perlengkapan, koordinasi lintas instansi, serta partisipasi aktif masyarakat, penanganan karhutla di Samarinda diharapkan dapat dilakukan lebih cepat dan terarah. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya melindungi lingkungan, mengurangi risiko terhadap permukiman, dan menjaga keselamatan warga maupun relawan yang bertugas. (Adv)













