DIGTALPOS.com, Kaltim – Komoditas perikanan Kalimantan Timur (Kaltim) terus menunjukkan daya saing di pasar internasional. Udang windu beku dan kepiting hidup menjadi penyumbang utama nilai ekspor perikanan daerah tersebut, dengan total nilai mencapai Rp65,39 miliar sepanjang September 2026.
Berdasarkan data Balai Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BP2MHKP) Balikpapan, total ekspor perikanan Kaltim pada periode tersebut mencapai 360,32 ton. Capaian ini mencerminkan potensi hasil laut Kaltim yang mampu menembus pasar global sekaligus menghasilkan devisa bagi negara.
Udang windu beku menjadi komoditas dengan nilai ekspor terbesar, yakni mencapai Rp35,14 miliar. Nilai tersebut menempatkan udang windu sebagai salah satu produk unggulan yang berperan penting dalam menopang kinerja ekspor perikanan Kaltim.
Di posisi berikutnya, kepiting hidup mencatatkan nilai ekspor sebesar Rp13,44 miliar dengan volume pengiriman mencapai 85,86 ton. Permintaan dari pasar luar negeri menjadikan komoditas ini sebagai salah satu andalan sektor perikanan, khususnya bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari usaha penangkapan dan perdagangan kepiting.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Penguatan Daya Saing Produk Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim, Irma Listiawati, mengatakan kepiting hidup asal Kaltim memiliki pasar yang cukup kuat di tingkat internasional.
“Permintaan pasar internasional terhadap produk kepiting hidup asal perairan pesisir Kaltim tercatat sangat tinggi dan stabil,” ujar Irma, dilansir kotaku.co.id, Senin (19/10/2026).
Menurutnya, kepiting hidup asal Kaltim secara konsisten dipasarkan ke sejumlah negara, terutama China, Malaysia, dan Singapura. Ketiga negara tersebut menjadi tujuan utama pengiriman komoditas kepiting hidup dari wilayah ini.
Untuk mempertahankan kepercayaan pasar, DKP Kaltim terus mendorong pelaku usaha agar memperhatikan standar kebersihan, mutu, dan kualitas produk. Aspek tersebut dinilai penting agar komoditas perikanan daerah mampu memenuhi persyaratan negara tujuan serta mempertahankan daya saing di tengah persaingan pasar global.
“Kami berupaya memperluas akses pasar ekspor dan meningkatkan daya saing produk perikanan untuk memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat pesisir,” tegas Irma.
Selain udang windu beku dan kepiting hidup, sejumlah komoditas lain turut memberikan kontribusi terhadap nilai ekspor perikanan Kaltim selama September 2026.
Udang pink beku mencatatkan nilai ekspor sebesar Rp10,40 miliar, disusul udang putih beku senilai Rp2 miliar. Sementara itu, komoditas bawal segar menyumbang Rp1,55 miliar dan kerapu segar mencapai Rp1,04 miliar.
Beragamnya komoditas yang dipasarkan menunjukkan bahwa potensi ekspor perikanan Kaltim tidak hanya bertumpu pada satu jenis produk. Udang, kepiting, dan ikan segar maupun beku memiliki peluang untuk terus dikembangkan sesuai kebutuhan pasar.
Ke depan, penguatan kualitas hasil perikanan, perluasan akses pasar, serta peningkatan daya saing produk menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan ekspor. Upaya tersebut diharapkan mampu membuka peluang usaha lebih luas, meningkatkan nilai ekonomi hasil laut, dan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat pesisir Kalimantan Timur. (*)













