DIGTALPOS.com – Kehadiran iklan yang memenuhi layar televisi pintar terkadang mengganggu kenyamanan pengguna. Hal inilah yang mendorong seorang developer bernama Gathin mencari solusi untuk smart TV Xiaomi milik orang tuanya. Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) Claude Code, ia berhasil mengurangi gangguan aplikasi bawaan dan menghadirkan tampilan televisi yang lebih sederhana, menyerupai Apple TV.
Menariknya, proses modifikasi tersebut diklaim hanya memakan waktu satu sore. Gathin menggunakan bantuan AI untuk mengidentifikasi dan menonaktifkan 25 paket perangkat lunak bawaan Xiaomi, termasuk sejumlah layanan yang berkaitan dengan iklan dan analitik.
Eksperimen itu dibagikan Gathin melalui akun X miliknya, @gathint. Ia mengungkapkan rasa kesalnya karena orang tuanya harus berhadapan dengan iklan di layar televisi, bahkan sebelum bisa membuka layanan streaming seperti Netflix.
Alih-alih membeli perangkat tambahan atau mencari televisi baru, Gathin memilih memanfaatkan Claude Code, asisten pemrograman berbasis AI yang dikembangkan Anthropic, untuk merancang solusi sendiri.
Manfaatkan AI untuk Memodifikasi Android TV
Proses modifikasi dimulai dengan memasukkan nomor model televisi Xiaomi ke Claude Code. Selanjutnya, AI membantu mengarahkan proses koneksi komputer dengan televisi melalui jaringan Wi-Fi menggunakan Android Debug Bridge (ADB).
ADB merupakan perangkat pengembangan Android yang memungkinkan komputer berkomunikasi dengan perangkat lain untuk menjalankan perintah tertentu, termasuk memeriksa aplikasi dan mengelola paket perangkat lunak.
Melalui koneksi tersebut, Gathin mengidentifikasi berbagai paket bawaan yang tidak dibutuhkan dalam penggunaan sehari-hari. Dengan bantuan Claude Code, ia kemudian menonaktifkan 25 paket perangkat lunak Xiaomi yang dinilai berkontribusi terhadap pengalaman penggunaan yang kurang nyaman.
Namun, perubahan tidak berhenti pada pengurangan aplikasi bawaan. Gathin juga meminta AI membuat launcher baru, yakni antarmuka utama yang pertama kali muncul ketika televisi dinyalakan atau dioperasikan.
Hasilnya, tampilan layar menjadi lebih minimalis dengan latar belakang gelap, jam berukuran besar, serta deretan aplikasi favorit yang dapat diakses dengan mudah menggunakan remote televisi.
Pengguna pun bisa langsung menuju aplikasi yang diinginkan tanpa harus melewati berbagai rekomendasi konten, promosi, dan elemen lain yang memenuhi halaman utama bawaan.
Meski tampilannya menyerupai Apple TV, perangkat tersebut tetap menjalankan sistem operasi Android TV. Modifikasi hanya dilakukan pada antarmuka dan sejumlah layanan bawaan, bukan mengubah sistem operasi televisi menjadi tvOS milik Apple.
Dibagikan Gratis dan Bisa Dipulihkan
Gathin tidak hanya menggunakan hasil eksperimennya untuk kebutuhan keluarga. Ia juga membagikan proyek tersebut secara gratis melalui GitHub dengan nama tv-vibehack.
Proyek bersifat open-source itu menyediakan kode sumber, petunjuk pemasangan, serta skrip yang memungkinkan pengguna memulihkan pengaturan sebelumnya. Dengan demikian, orang lain dapat mempelajari pendekatan yang digunakan sekaligus menyesuaikannya dengan perangkat masing-masing.
Launcher tersebut dirancang agar ringan dan dapat berjalan pada perangkat Android TV dengan RAM 1 GB. Proses modifikasi juga tidak mensyaratkan akses root ataupun pemasangan firmware khusus.
Berdasarkan dokumentasi proyek, pendekatan ini dapat dicoba pada sejumlah perangkat berbasis Android TV dan Google TV, termasuk produk Xiaomi, TCL, Sony, dan Hisense. Meski demikian, keberhasilan penerapan tetap bergantung pada model televisi, versi sistem operasi, serta konfigurasi perangkat lunak yang digunakan.
Pengalaman Gathin sekaligus memperlihatkan bagaimana AI dapat membantu pekerjaan teknis yang sebelumnya membutuhkan pemahaman pemrograman dan sistem Android. Dengan memberikan instruksi yang tepat, pengguna dapat memanfaatkan AI untuk mengidentifikasi masalah, menyusun perintah, hingga mengembangkan antarmuka alternatif.
Kendati demikian, modifikasi sistem televisi tetap membutuhkan kehati-hatian. Menonaktifkan paket perangkat lunak yang salah berpotensi menyebabkan fitur tertentu tidak berfungsi, mengganggu pembaruan sistem, atau menimbulkan masalah pada perangkat.
Karena itu, pengguna yang ingin mencoba proyek serupa sebaiknya membaca dokumentasi dengan teliti, memastikan kompatibilitas perangkat, dan menyiapkan cara untuk memulihkan pengaturan awal sebelum melakukan perubahan.
Eksperimen ini menjadi contoh pemanfaatan AI yang praktis dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya membantu menulis kode, teknologi tersebut juga dapat digunakan untuk menyesuaikan perangkat agar lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna, termasuk menghadirkan pengalaman menonton televisi yang lebih bersih dan nyaman. (*)













