DIGTALPOS.com, Bontang – DPRD Kota Bontang menyoroti hasil Survei Perilaku Remaja 2025 yang dirilis Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB), yang memuat sejumlah temuan terkait dinamika perilaku generasi muda di daerah tersebut.
Dalam survei tersebut, tercatat sebanyak 9,1 persen remaja usia 10–24 tahun di Bontang menunjukkan kecenderungan ketertarikan terhadap sesama jenis dari total 1.621 responden. Angka ini dinilai cukup signifikan dan menjadi perhatian serius bagi para pemangku kebijakan.
Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kota Bontang tahun 2025 yang mencapai 194.606 jiwa, temuan tersebut dianggap sebagai indikator penting yang tidak bisa diabaikan. DPRD menilai, data ini perlu ditindaklanjuti secara bijak melalui pendekatan yang tepat dan menyeluruh.
Sekretaris Komisi A DPRD Kota Bontang, Saeful Rizal, menegaskan bahwa fenomena yang terungkap dalam survei tersebut harus disikapi secara serius oleh seluruh elemen masyarakat. Namun, ia juga menekankan pentingnya penanganan yang tidak bersifat diskriminatif atau menghakimi.
“Saya melihat ini perlu menjadi perhatian bersama. Bukan untuk disikapi secara berlebihan, tetapi bagaimana kita merespons dengan langkah yang tepat melalui pembinaan dan edukasi,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (3/5/2026).

Menurutnya, pendekatan yang efektif dalam menghadapi persoalan remaja adalah melalui jalur edukasi, pembinaan nilai-nilai moral dan keagamaan, serta pendampingan psikologis. Ia menilai, cara-cara yang humanis dan persuasif jauh lebih berdampak dalam membentuk karakter generasi muda dibandingkan pendekatan yang bersifat represif.
Lebih lanjut, Saeful menyoroti pentingnya peran lingkungan dalam membentuk perilaku remaja. Ia menyebut bahwa keluarga menjadi garda terdepan dalam memberikan pengawasan dan pembinaan, disusul oleh lingkungan sosial seperti RT, kelurahan, hingga institusi pendidikan.
“Peran keluarga sangat penting. Selain itu, lingkungan sekolah dan masyarakat juga harus mampu menciptakan suasana yang sehat dan kondusif bagi perkembangan anak-anak kita,” jelasnya.
Ia juga mendorong pihak sekolah untuk meningkatkan pengawasan serta kepekaan terhadap perubahan perilaku siswa. Guru dan tenaga pendidik diharapkan tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing yang mampu mendeteksi dan merespons persoalan yang dihadapi peserta didik sejak dini.
DPRD Kota Bontang berharap, melalui kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan keluarga, berbagai tantangan yang dihadapi remaja dapat diatasi secara komprehensif.
Dengan langkah bersama yang terarah, diharapkan generasi muda Bontang dapat tumbuh menjadi individu yang sehat secara sosial, kuat secara mental, serta mampu berkontribusi positif bagi pembangunan daerah di masa depan. (Adv)













