DIGTALPOS.com, Bontang – Suasana penuh semangat dan antusiasme mewarnai Mini Theater Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Bontang, saat Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, secara resmi membuka Final Lomba Bertutur tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kota Bontang, Rabu (29/04/2026).
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang melalui DPK dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sejak usia dini, khususnya dalam penguatan budaya literasi di kalangan generasi muda.
Wali Kota Neni, yang juga menjabat sebagai Bunda Literasi Kota Bontang, mengungkapkan rasa bangga terhadap para peserta yang tampil percaya diri di hadapan dewan juri dan penonton. Menurutnya, keberanian anak-anak dalam bertutur bukan hanya sekadar kemampuan berbicara, melainkan cerminan dari keberhasilan pembinaan literasi yang telah dilakukan di lingkungan sekolah maupun keluarga.
“Anak-anak yang berani tampil dan mampu bertutur dengan baik menunjukkan bahwa budaya literasi mulai tumbuh dengan kuat. Ini tentu menjadi kebanggaan bagi kita semua,” ujarnya.
Orang nomor satu di Kota Taman (sebutan Bontang) itu menekankan bahwa konsep literasi saat ini tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, melainkan telah berkembang seiring pesatnya kemajuan teknologi dan arus globalisasi. Sebab itu, ia mengingatkan pentingnya peran semua pihak, mulai dari sekolah, keluarga, hingga masyarakat, dalam menanamkan budaya literasi sejak dini.
“Budaya membaca harus dimulai dari rumah. Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan kecil yang nantinya akan berdampak besar pada perkembangan anak,” tegasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya literasi digital sebagai bekal utama bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman. Menurutnya, anak-anak tidak hanya dituntut untuk cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan informasi.
Melalui lomba bertutur ini, Neni berharap anak-anak tidak hanya melatih keberanian tampil di depan umum, tetapi juga semakin mencintai dunia membaca, memperkaya kosakata, serta mengembangkan imajinasi dan daya pikir kritis.
“Secara tidak langsung, kegiatan ini membentuk karakter anak menjadi pribadi yang percaya diri, komunikatif, dan memiliki kecintaan terhadap budaya,” tambahnya.
Menariknya, sebagian besar cerita yang dibawakan para finalis berasal dari kisah-kisah lokal karya penulis daerah. Hal ini dinilai sebagai langkah strategis dalam mengenalkan identitas dan kearifan lokal kepada generasi muda.
“Ini penting agar anak-anak kita tidak melupakan akar budayanya. Bontang bukan hanya dikenal sebagai kota industri, tetapi juga memiliki kekayaan cerita dan nilai budaya yang luar biasa,” ungkap Neni.
Ia memastikan bahwa Pemkot Bontang akan terus menggencarkan berbagai program literasi, mulai dari penguatan perpustakaan, gerakan membaca di sekolah, hingga pelibatan keluarga dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan membaca.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bontang, Retno Febriarianti, menjelaskan bahwa lomba bertutur ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan juga sarana pembinaan karakter dan pengembangan kemampuan literasi anak.
“Melalui kegiatan ini, anak-anak dilatih untuk memahami isi cerita, mengolahnya, lalu menyampaikan kembali dengan ekspresi yang hidup dan penuh percaya diri,” jelasnya.
Retno menyebutkan, lomba ini diikuti oleh 50 peserta yang berasal dari 19 SD dan MI di seluruh Kota Bontang. Dari jumlah tersebut, dilakukan proses seleksi ketat hingga akhirnya terpilih 10 peserta terbaik yang melaju ke babak final.
Di hadapan dewan juri, para finalis menampilkan kemampuan terbaik mereka dalam bertutur, menunjukkan kreativitas, penghayatan, serta kemampuan komunikasi yang memukau.
Lebih lanjut, Retno menambahkan bahwa peserta yang berhasil meraih juara pertama akan menjadi wakil Kota Bontang di ajang serupa di tingkat Provinsi Kalimantan Timur, bahkan berpeluang melaju hingga ke tingkat nasional.
Ia berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan semakin berkembang setiap tahunnya, sehingga budaya literasi benar-benar mengakar dalam kehidupan masyarakat.
“Dari 10 finalis ini, Juara 1 akan mewakili Kota Bontang ke tingkat provinsi hingga nasional. Kami berharap ini menjadi awal lahirnya generasi literat yang membanggakan daerah,” pungkasnya. (adv)













