DIGTALPOS.com, Bontang – Kasus tiga perempuan di bawah umur yang melahirkan di salah satu rumah sakit swasta di Kota Bontang menjadi perhatian berbagai pihak. Peristiwa tersebut dinilai tak hanya menjadi persoalan individu maupun keluarga, tetapi juga menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat edukasi kesehatan reproduksi bagi kalangan remaja.
Anggota Komisi A DPRD Bontang, Arfian Arsyad, menegaskan bahwa kejadian tersebut harus dijadikan momentum untuk meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai kesehatan reproduksi, risiko kehamilan usia dini, serta dampak sosial dan psikologis yang dapat muncul akibat pergaulan yang tidak terkontrol.
Menurut Arfian, masih banyak anak dan remaja yang belum memiliki pengetahuan yang memadai terkait perubahan fisik, kesehatan reproduksi, hingga konsekuensi dari hubungan seksual di usia muda. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat remaja rentan mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.
“Kasus seperti ini harus menjadi perhatian bersama. Edukasi kesehatan reproduksi perlu diperkuat agar anak-anak memahami risiko yang dapat terjadi dan mampu melindungi diri mereka sendiri,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).

Ia menegaskan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi bukanlah hal yang tabu untuk dibahas. Justru, menurutnya, penyampaian informasi yang benar dan sesuai usia sangat penting agar remaja tidak mencari jawaban dari sumber-sumber yang belum tentu akurat.
Arfian menjelaskan, di tengah perkembangan teknologi dan pesatnya arus informasi digital saat ini, anak-anak dapat dengan mudah mengakses berbagai konten melalui internet dan media sosial. Sayangnya, tidak semua informasi yang mereka peroleh memiliki nilai edukatif atau dapat dipertanggungjawabkan dari sisi kesehatan maupun psikologi.
Sebab itu, peran keluarga dan lembaga pendidikan dinilai sangat penting dalam memberikan pemahaman yang tepat kepada anak sejak dini. Orang tua diharapkan mampu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak, sementara sekolah dapat menjadi ruang edukasi yang aman untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi remaja.
“Karena itu, sekolah dan keluarga perlu hadir memberikan pemahaman yang benar berdasarkan aspek kesehatan, psikologis, dan sosial,” kata Arfian.
Lebih lanjut, ia menilai edukasi yang komprehensif dapat menjadi salah satu langkah efektif dalam menekan angka kehamilan pada usia anak. Selain berpotensi menghambat pendidikan, kehamilan di usia sekolah juga dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan bagi ibu maupun bayi yang dikandung.
Tak hanya itu, kehamilan usia dini juga sering kali berdampak pada kondisi mental remaja, termasuk tekanan psikologis, stigma sosial, hingga keterbatasan dalam melanjutkan pendidikan dan meraih cita-cita di masa depan.
Oleh sebab itu, Arfian mendorong pemerintah daerah melalui instansi terkait untuk terus menggencarkan program sosialisasi dan penyuluhan yang menyasar pelajar di berbagai jenjang pendidikan. Program tersebut diharapkan tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membangun kesadaran remaja mengenai pentingnya menjaga kesehatan, pergaulan yang sehat, serta perencanaan masa depan.
Ia juga mengajak seluruh pihak, mulai dari orang tua, tenaga pendidik, pemerintah, hingga masyarakat, untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara positif.
“Anak-anak harus mendapatkan informasi yang benar agar mampu menjaga diri dan merencanakan masa depan mereka dengan lebih baik,” tutupnya. (Adv)













