DIGTALPOS.com, Bontang – Kepala bidang Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Bontang, Indra Nopika Wijaya, mengatakan saat ini kartu pelajar hanya berfungsi sebagai identitas peserta didik.
Selain kartu pelajar, peserta didik juga punya kartu perpustakaan, karena mereka punya 2 buah kartu. Indra menyebut hal ini menjadi tidak efisien. Untuk itu DPK Bontang punya inisiatif buat Kartu Pelajar yang terhubung dengan kartu perpustakaan.
Kartu ini juga dapat membantu peserta didik lebih mudah mengakses buku yang tersedia. Melalui strategi ini, kata Indra, jelas mampu meningkatkan daya baca di Kota Taman.
“Pertama untuk tingkatkan daya baca yang jelas kita tingkatkan kunjungan. Ini mau kita coba semua kartu pelajar akan terkoneksi dengan kartu perpustakaan. Ini kan belum, harus daftar dulu,” kata saat ditemui Digtalpos belum lama ini.
Indra mengatakan inisiatif itu tidak lama lagi bakal dilakukan DPK. Karena untuk saat ini kartu perpustakaan dan kartu pelajar itu menggunakan barcode. “Ini baru kita mau coba. Ini masi barcode yang panjang. Makanya nanti kita akan bikin yang qris lebih kecil, bisa terbaca, simpel kan,” ucapnya.

Lebih jauh dia menyampaikan, bahwa DPK Bontang ke depannya bakal galakan program investasi sosial yang mengajarkan kepada masyarakat meningkatkan skill agar bisa mendapatkan pekerjaan.
“Kita akan memberikan kegiatan yang lebih menarik lagi yaitu inklusi sosial. Program kita di sini kan bukan hanya datang membaca aja, tapi kita akan memberikan inklusi sosial juga. Jadi tiap membaca buku nanti ada pelatihannyanya. Ini sangat membantu dalam hal kesejahteraan sosial, di mana yang tadinya nggak punya kerjaan, terus dia dilatih, lalu bisa bekerja punya penghasilan,” terangnya.
Sebelumnya pihak DPK juga sudah melakukan beberapa pelatihan termasuk mendongeng bagi para ayah. Semua itu bentuk peningkatan literasi.
“Kita lalukan beberapa kegiatan. Harapannya kita kegiatan itu tidak dilakukan hanya sekali. Karena kan tugas kita semua bukan hanya tingkatkan daya baca, tapi juga untuk kesejahteraan masyarakat,” katanya.
“Jadi pelatihan dan program kita ini terus menerus. Jadi bukan hanya gelar pelatihan lalu selesai, menghilang. Kita harapnya ini terus dilakukan,” tutupnya. (ADV)













