Kemenkes Pantau Kenaikan Kasus Influenza, Dokter Ingatkan Risiko Pneumonia

Kemenkes Pantau Kenaikan Kasus Influenza, Dokter Ingatkan Risiko Pneumonia
Ilustrasi.

DIGTALPOS.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah memantau perkembangan kasus influenza yang belakangan dilaporkan mengalami peningkatan di sejumlah wilayah Indonesia. Pemantauan dilakukan melalui sejumlah titik sentinel untuk melihat tren penyebaran penyakit yang menyerang saluran pernapasan tersebut.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, peningkatan kasus influenza merupakan kondisi yang terus dipantau pemerintah. Ia menyebut laporan kenaikan kasus telah ditemukan di sejumlah daerah, salah satunya di Jawa Timur.

“Ada kenaikan influenza ini selalu kita monitor. Saya dengar ada yang di Jawa Timur, di beberapa titik agak naik,” kata Budi saat ditemui setelah menghadiri Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) ke-4 di Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Budi menuturkan, dirinya telah meminta jajaran Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2) Kemenkes untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap wilayah yang menunjukkan peningkatan kasus.

Menurutnya, pemantauan penting dilakukan karena influenza merupakan penyakit yang dapat menular dari satu orang ke orang lainnya.

“Memang saya sudah minta teman-teman dari P2 untuk lihat di daerah-daerah mana khususnya. Karena itu kan menular,” ujarnya.

Meski demikian, Budi menegaskan Influenza A yang saat ini ditemukan tidak serta-merta sama dengan jenis influenza yang selama ini dikenal memiliki risiko berat, seperti virus influenza A subtipe H5 yang berkaitan dengan flu burung.

Ia menyebut masyarakat tidak perlu langsung mengaitkan temuan Influenza A saat ini dengan virus H5 yang pernah menjadi perhatian karena tingkat bahayanya.

“Cuma kalau Influenza A ini, ini kan bukan influenza yang mematikan ya. Yang kita takutkan karena yang ada H5, yang dulu pernah kejadian yang flu burung,” jelas Budi.

Kemenkes juga masih mengevaluasi penanganan kasus di daerah yang mengalami peningkatan. Budi mengatakan, dengan langkah perlindungan dan penanganan yang tepat, kasus influenza pada umumnya dapat ditangani.

“Saya lagi lihat apakah penanganannya di sana juga baik apa enggak. Jadi sebenarnya dengan perlindungan biasa harusnya bisa,” katanya.

Dokter Temukan Banyak Pasien Positif Influenza

Peningkatan kasus influenza juga dirasakan oleh dokter di lapangan. Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan dr. Harman Prayitno Sp.P mengungkapkan, dalam sepekan terakhir cukup banyak pasien yang datang dengan keluhan batuk, demam, sakit kepala, dan gejala lain yang mengarah pada influenza.

“Sejak seminggu terakhir ini, memang banyak merawat pasien-pasien dengan gejala batuk, disertai demam dan nyeri kepala. Ketika dicek, hasil swab-nya menunjukkan influenza positif, baik itu Influenza A atau Influenza B,” kata Harman melalui akun Threads @dr.harmanprayitno.paru.onko.

Harman menjelaskan, secara umum Influenza A memang dapat menimbulkan gejala yang lebih berat dibandingkan Influenza B. Namun, tipe virus bukan satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keparahan penyakit.

Ia mengatakan pernah menemukan pasien yang terinfeksi Influenza B tetapi mengalami kondisi cukup berat hingga berkembang menjadi pneumonia atau infeksi pada paru-paru.

“Memang secara teori, gejala pada Influenza A lebih berat daripada Influenza B. Namun kemarin sempat menjumpai pasien dengan Influenza B yang gejalanya berat hingga pneumonia,” ujarnya.

Menurut Harman, hingga saat ini masih terdapat pasien yang berasal dari instalasi gawat darurat (IGD) dan harus mendapat konsultasi lebih lanjut karena hasil pemeriksaan menunjukkan positif influenza disertai pneumonia.

Influenza biasanya ditandai dengan munculnya demam tinggi secara mendadak yang dapat mencapai 40 derajat Celsius. Gejala lainnya meliputi batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri tubuh, sakit kepala berat, hingga kelelahan.

Berbeda dengan batuk pilek biasa atau common cold, gejala influenza cenderung muncul secara tiba-tiba dan terasa lebih berat.

“Berbeda dengan batuk pilek biasa (common cold), gejala influenza jauh lebih berat. Lebih mirip dengan gejala Covid yang dulu itu,” kata Harman.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap influenza sebagai penyakit ringan yang selalu dapat sembuh tanpa komplikasi. Pada kondisi tertentu, influenza dapat berkembang menjadi infeksi paru atau pneumonia, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko tertentu.

Untuk penanganan awal, masyarakat yang mengalami gejala disarankan memperbanyak istirahat, menjaga asupan cairan, serta mengonsumsi obat sesuai gejala. Pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan diperlukan apabila kondisi tidak membaik atau justru semakin berat.

Harman juga mengingatkan pentingnya kembali menerapkan sejumlah langkah pencegahan, terutama ketika berada di ruang publik. Penggunaan masker, menjaga jarak dengan orang yang sedang sakit, menghindari kerumunan, serta mencuci tangan secara rutin dapat membantu mengurangi risiko penularan.

“Bila memang sedang tidak fit, sebaiknya stay di rumah saja,” ujarnya.

Influenza A Berbeda dengan Flu Biasa

Kemenkes menjelaskan, influenza merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus dan menyerang sistem pernapasan, mulai dari hidung, tenggorokan hingga paru-paru. Virus penyebab influenza terdiri atas beberapa tipe, antara lain influenza A, B, dan C.

Influenza A memiliki sejumlah subtipe dan menjadi tipe yang paling sering dikaitkan dengan kejadian wabah. Beberapa subtipe yang dikenal antara lain H1N1 dan H3N2. Sementara Influenza B umumnya lebih banyak menyebabkan kejadian yang bersifat lokal.

Gejala influenza dapat berupa demam tinggi yang muncul secara tiba-tiba, batuk kering, sakit tenggorokan, pilek, sakit kepala, kelelahan, serta nyeri otot dan sendi. Pada sebagian kasus, penderita juga dapat mengalami muntah maupun diare.

Kelompok rentan, termasuk bayi dan balita, perlu mendapat perhatian lebih karena influenza dapat berkembang menjadi komplikasi serius. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain pneumonia, bronkiolitis, peradangan otot, ensefalitis atau peradangan otak, hingga gangguan pada jantung.

Karena itu, pencegahan menjadi langkah penting untuk menekan risiko penularan. Masyarakat dapat melakukan vaksinasi influenza secara berkala, menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit, rajin mencuci tangan menggunakan sabun, serta tidak menyentuh mata, hidung, dan mulut sebelum memastikan tangan dalam kondisi bersih.

Dengan meningkatnya laporan kasus di sejumlah wilayah, masyarakat juga diimbau tetap waspada tanpa perlu panik. Mengenali gejala sejak dini dan segera memeriksakan diri ketika kondisi memburuk menjadi bagian penting dalam mencegah influenza berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius. (*)