DIGTALPOS.com, Samarinda – Upaya melestarikan budaya daerah di tengah derasnya perkembangan teknologi membutuhkan keterlibatan generasi muda. Salah satu langkah yang dinilai efektif adalah memberikan ruang bagi anak-anak muda untuk mengenal, mempelajari, dan mengembangkan seni tradisional melalui kegiatan sanggar.
Dukungan terhadap upaya tersebut disampaikan Ketua DPRD Kota Samarinda, Helmi Abdullah, saat menerima audiensi perwakilan Sanggar Pilar Samarinda di Gedung DPRD Kota Samarinda, Senin (26/10/2026).
Helmi menilai sanggar seni memiliki peran penting dalam membentuk kreativitas sekaligus menanamkan kecintaan generasi muda terhadap tradisi dan kebudayaan daerah. Selain menjadi wadah pengembangan bakat, kegiatan seni juga dapat mengarahkan anak muda pada aktivitas yang produktif di tengah tingginya penggunaan media sosial.
Menurutnya, perkembangan platform digital seperti TikTok, Instagram, dan Facebook tidak seharusnya membuat generasi muda melupakan identitas budaya yang diwariskan oleh para pendahulu.
“Dengan adanya kegiatan ini, paling tidak anak-anak muda melek dengan tradisi dan tidak hanya berfokus pada media sosial,” kata Helmi.
Ia menjelaskan, keterlibatan dalam kegiatan kesenian tidak hanya memberikan pemahaman mengenai budaya lokal, tetapi juga membuka peluang bagi generasi muda untuk mengasah keterampilan yang bermanfaat di masa depan.
Kemampuan yang diperoleh melalui sanggar, lanjutnya, dapat dikembangkan menjadi bekal untuk memasuki dunia kerja, menghasilkan karya kreatif, hingga merintis usaha di bidang seni dan industri kreatif.
“Kegiatan ini diharapkan membuat anak muda lebih melek budaya tradisional, sekaligus memiliki keterampilan atau keahlian sebagai bekal untuk bekerja, berkreasi, atau berwirausaha,” ujarnya.
Sanggar Pilar Bawa Budaya Dayak ke Jakarta
Dalam audiensi tersebut, perwakilan Sanggar Pilar turut menyampaikan persiapan mereka mengikuti festival teater musikal tingkat nasional di Jakarta pada November 2026.
Sanggar Pilar sebelumnya dinyatakan lolos seleksi bersama perwakilan dari 11 provinsi. Mereka dijadwalkan tampil di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 26–29 November 2026, dengan membawakan karya berjudul “Bumi di Tanah Ulen”.
Karya tersebut mengangkat kebudayaan Dayak Kenyah, sekaligus menggambarkan hubungan erat antara manusia, alam, dan hutan adat. Melalui pertunjukan itu, Sanggar Pilar diharapkan dapat memperkenalkan kekayaan budaya Kalimantan Timur kepada masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.
Keikutsertaan tersebut juga menjadi kesempatan bagi para pelaku seni muda Samarinda untuk menunjukkan bahwa tradisi lokal tetap memiliki tempat di tengah perkembangan seni pertunjukan modern.
Helmi menyambut positif langkah Sanggar Pilar yang berupaya membawa kesenian daerah ke panggung nasional. Ia berharap kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memperluas pengenalan budaya Dayak sekaligus mengharumkan nama Samarinda.
“Mudah-mudahan mereka bisa meraih juara, sekaligus memasarkan seni dan budaya Dayak di tingkat nasional,” ucapnya.
Pemkot Samarinda Upayakan Dukungan Akomodasi
Selain memberikan dukungan moral, kebutuhan akomodasi rombongan selama berada di Jakarta turut menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut.
Pemerintah Kota Samarinda disebut akan mengupayakan bantuan sesuai kemampuan, termasuk menjajaki kemungkinan pemanfaatan fasilitas tempat tinggal milik pemerintah untuk mendukung kebutuhan peserta selama mengikuti festival.
Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu kelancaran keberangkatan dan pelaksanaan kegiatan, sehingga para peserta bisa lebih fokus mempersiapkan pertunjukan yang akan ditampilkan.
Helmi juga mengapresiasi konsistensi Sanggar Pilar dalam melibatkan generasi muda untuk mempelajari dan mempertahankan kesenian tradisional. Menurutnya, membangun ketertarikan anak muda terhadap budaya lokal bukan perkara mudah, terutama ketika mereka dihadapkan pada beragam hiburan dan tren digital.
“Tentu intinya kami sangat mendukung dan berterima kasih, karena saat ini tidak mudah mengajak generasi muda mendalami seni budaya tradisional di tengah maraknya media sosial,” katanya.
Ia berharap keberangkatan Sanggar Pilar ke festival nasional tidak hanya menjadi pencapaian bagi kelompok seni tersebut, tetapi juga memicu tumbuhnya sanggar-sanggar lain yang aktif membina generasi muda di Samarinda.
DPRD Samarinda pun berharap pelestarian budaya daerah dapat terus diperkuat melalui pembinaan yang berkelanjutan, dukungan fasilitas, serta kesempatan tampil di berbagai ajang seni. Dengan demikian, budaya Dayak tidak hanya terjaga sebagai warisan leluhur, tetapi juga terus berkembang dan dikenal lebih luas oleh generasi mendatang. (Adv)













