DIGTALPOS.com, Samarinda – DPRD Kota Samarinda mendorong RSUD I.A. Moeis mengembangkan layanan bayi tabung untuk memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan reproduksi. Gagasan tersebut kini mulai dibahas bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dan berpeluang dimasukkan dalam perencanaan anggaran tahun 2027.
Wakil Ketua DPRD Kota Samarinda, Celni Pita Sari, mengatakan rencana menghadirkan layanan bayi tabung masih berada pada tahap awal pembahasan. Sejumlah aspek perlu dikaji secara menyeluruh, mulai dari kesiapan fasilitas, kebutuhan tenaga medis, peralatan penunjang, hingga besaran anggaran yang dibutuhkan.
“Kita juga berharap kita bisa mempunyai program bayi tabung. Ini tadi sudah kita rencanakan, kita juga bicara apa saja yang dibutuhkan,” kata Celni, Senin (7/9/2026).
Menurut Celni, kajian teknis menjadi bagian penting sebelum layanan tersebut benar-benar direalisasikan. DPRD dan Pemkot Samarinda perlu memastikan seluruh kebutuhan, termasuk spesifikasi peralatan serta fasilitas yang sesuai dengan standar pelayanan, dapat dipenuhi.
“ Kita lihat rencananya bagaimana dan biayanya berapa, sehingga nanti warga Samarinda khususnya tidak perlu jauh-jauh lagi untuk melakukan proses bayi tabung di luar daerah,” ujarnya.
Selama ini, pasangan yang membutuhkan program bayi tabung harus mendatangi fasilitas kesehatan di luar Samarinda. Kondisi tersebut tidak hanya membutuhkan biaya pengobatan, tetapi juga menambah beban transportasi dan akomodasi karena proses bayi tabung membutuhkan rangkaian pemeriksaan dan tindakan medis yang tidak dilakukan hanya dalam satu kali kunjungan.
Dengan tersedianya layanan tersebut di RSUD I.A. Moeis, masyarakat diharapkan dapat memperoleh pelayanan lebih dekat dengan tempat tinggal. Selain menghemat biaya perjalanan, keberadaan fasilitas di dalam daerah juga dinilai memberikan kemudahan bagi pasien untuk menjalani tahapan pelayanan secara lebih terkontrol.
“Itu juga bisa menghemat ongkos dan juga keamanan bayinya lebih terjaga karena enggak perlu bolak-balik naik pesawat,” kata Celni.
Meski demikian, ia menegaskan rencana tersebut belum menjadi program yang telah diputuskan untuk langsung dijalankan. Pemerintah daerah masih harus melakukan perhitungan dan kajian agar investasi yang dilakukan benar-benar sesuai kebutuhan serta mampu menunjang pelayanan secara berkelanjutan.
“Masih kita rencanakan. Kita juga mau lihat teknisnya bagaimana, terus anggarannya berapa, harga alatnya berapa,” ujarnya.
Celni menyebut penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2027 dapat menjadi momentum untuk mulai memasukkan kebutuhan pengembangan layanan tersebut apabila seluruh kajian telah memenuhi persyaratan.
“Kalau bisa segera direalisasikan, mungkin di anggaran 2027, mumpung sekarang lagi masa perencanaan,” katanya.
Namun, ia mengingatkan pembangunan layanan kesehatan tidak cukup hanya dengan menyediakan ruangan dan membeli peralatan. Kesiapan sumber daya manusia, standar operasional, kompetensi tenaga kesehatan, serta kualitas pelayanan juga harus menjadi perhatian agar layanan bayi tabung nantinya dapat berjalan secara optimal.
Dorongan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya DPRD untuk memperluas jenis pelayanan kesehatan yang tersedia di RSUD I.A. Moeis. Dalam beberapa waktu terakhir, Pemkot Samarinda juga terus melakukan pengembangan sarana kesehatan di rumah sakit tersebut.
Sejumlah fasilitas baru telah diresmikan, di antaranya Gedung Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Instalasi Gizi, serta Laboratorium Kateterisasi Jantung. Pengembangan fasilitas itu dinilai menunjukkan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kapasitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat Samarinda.
Celni mengapresiasi langkah Pemkot Samarinda dalam memperkuat sarana kesehatan, termasuk pembangunan dan pembaruan fasilitas di sejumlah puskesmas.
“Kita bersyukur ada empat fasilitas puskesmas yang sudah kita resmikan. Dilihat dari fasilitasnya, kita bersyukur bahwa di era efisiensi ini kita masih bisa mewujudkan fasilitas untuk masyarakat yang kualitasnya jauh lebih baik,” katanya.
Ia mengatakan DPRD juga telah melakukan studi banding untuk melihat perkembangan fasilitas pelayanan kesehatan di daerah lain. Dari hasil tersebut, Celni menilai fasilitas puskesmas di Samarinda memiliki kualitas yang cukup baik.
“Kita sudah studi banding puskesmas. Kita adalah salah satu yang terbaik,” ujarnya.
Meski pembangunan fisik terus digenjot, Celni menilai peningkatan fasilitas harus dibarengi dengan penguatan kualitas pelayanan. Gedung dan peralatan yang memadai perlu ditunjang tenaga kesehatan yang kompeten agar masyarakat benar-benar merasakan manfaat dari pembangunan sektor kesehatan.
“Saya berharap fasilitasnya sudah ditunjang dengan baik. Semoga pelayanannya juga bisa jauh lebih baik,” katanya.
Menurutnya, penguatan sektor kesehatan di Samarinda ke depan tidak hanya berfokus pada pembangunan gedung, tetapi juga memperluas jenis layanan yang dapat diakses masyarakat di dalam daerah.
Rencana menghadirkan layanan bayi tabung di RSUD I.A. Moeis menjadi salah satu gagasan yang tengah didorong DPRD Samarinda. Jika kajian teknis dan pembiayaan dapat diselesaikan, layanan tersebut diharapkan menjadi tambahan fasilitas kesehatan strategis yang dapat membantu pasangan yang membutuhkan program reproduksi berbantu tanpa harus berobat ke luar daerah. (Adv)













