DIGTALPOS.com, Samarinda – Struktur Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Samarinda menjadi sorotan dalam diskusi publik bertajuk “Samarinda sebagai Tulang Punggung Pembangunan Kaltim” yang diselenggarakan oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia atau KAMMI Samarinda.
Dalam forum tersebut, Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Abdul Rohim, menilai kondisi PAD Samarinda masih memiliki kerentanan karena terlalu didominasi oleh sektor pajak daerah. Menurutnya, pemerintah kota perlu segera melakukan diversifikasi sumber pendapatan agar ketahanan fiskal daerah menjadi lebih kuat dan berkelanjutan.
Abdul Rohim menjelaskan, capaian PAD Kota Samarinda yang kini menyentuh angka sekitar Rp1 triliun memang patut diapresiasi. Namun di balik capaian tersebut, terdapat tantangan besar yang harus diantisipasi sejak dini, terutama jika sebagian besar pendapatan masih bertumpu pada satu sektor utama.
“Kalau PAD masih bertumpu pada satu sektor saja, tentu ada kerentanan. Samarinda perlu memperluas sumber pendapatan daerah,” ujarnya dalam diskusi tersebut.
Ia menegaskan, ketergantungan yang terlalu besar terhadap pajak daerah berpotensi menimbulkan persoalan ketika terjadi perlambatan ekonomi, penurunan aktivitas usaha, maupun perubahan kebijakan fiskal nasional. Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu mulai mencari potensi-potensi baru yang dapat menjadi sumber pemasukan alternatif.
Menurut Abdul Rohim, Samarinda memiliki peluang besar untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif, jasa, perdagangan, hingga pengelolaan aset daerah secara lebih optimal. Dengan langkah itu, struktur pendapatan daerah tidak hanya kuat dalam jangka pendek, tetapi juga mampu menopang pembangunan secara berkesinambungan.
“Ketahanan fiskal daerah harus dibangun dari banyak sektor. Jangan sampai ketika satu sektor melemah, kondisi keuangan daerah ikut terguncang,” tegasnya.
Pandangan tersebut turut diperkuat oleh akademisi sekaligus ekonom Hairul Anwar yang hadir dalam diskusi publik itu. Ia menilai, Samarinda memiliki karakter ekonomi yang berbeda dibanding sejumlah daerah lain di Kalimantan Timur yang selama ini bergantung pada sektor sumber daya alam.
Menurut Hairul, ketergantungan terhadap sektor SDA tidak dapat dijadikan fondasi utama pembangunan jangka panjang. Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk memperkuat ekonomi berbasis jasa, perdagangan, dan sektor-sektor produktif lainnya yang lebih berkelanjutan.
“Samarinda harus memanfaatkan posisinya sebagai kota jasa dan perdagangan. Ini yang perlu diperkuat agar ekonomi daerah lebih tahan menghadapi perubahan global,” ujarnya.
Sementara itu, TWAP Bidang Ekonomi, Investasi dan PAD Pemerintah Kota Samarinda, Aji Sofyan Effendi, menjelaskan bahwa struktur ekonomi Samarinda memang sejak awal berkembang sebagai kota perdagangan dan jasa. Hal itu menjadi pembeda utama dibanding daerah lain di Kalimantan Timur yang banyak mengandalkan hasil sumber daya alam.
Ia menyebutkan, pemerintah daerah saat ini terus berupaya memperkuat investasi dan meningkatkan iklim usaha guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat dan mandiri.
Diskusi publik yang digelar KAMMI Samarinda tersebut juga menjadi ruang pertukaran gagasan antara mahasiswa, akademisi, legislatif, dan pemerintah daerah terkait arah pembangunan ekonomi Kota Samarinda ke depan.
Melalui forum itu, KAMMI Samarinda mendorong lahirnya kebijakan fiskal yang lebih inovatif, mandiri, dan berkelanjutan demi memperkuat ketahanan ekonomi daerah di tengah tantangan pembangunan Kalimantan Timur yang terus berkembang. (Adv)













