DIGTALPOS.com, Samarinda – Rencana penerapan materi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta pemrograman dalam kurikulum sekolah di Samarinda mendapat sorotan serius dari DPRD Kota Samarinda. Di tengah dorongan modernisasi pendidikan dan percepatan transformasi digital, kesiapan tenaga pendidik dinilai menjadi faktor paling krusial agar kebijakan tersebut tidak berakhir hanya sebagai program simbolis tanpa dampak nyata bagi siswa.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, menegaskan bahwa perubahan kurikulum tidak cukup hanya dengan menambahkan mata pelajaran baru berbasis teknologi. Menurutnya, keberhasilan implementasi AI dan coding sangat bergantung pada kemampuan guru dalam memahami sekaligus mengajarkan materi tersebut secara efektif kepada peserta didik.
Ia mengingatkan, apabila penerapan dilakukan secara tergesa-gesa tanpa kesiapan sumber daya manusia, maka proses pembelajaran berpotensi berjalan tanpa substansi yang jelas. Akibatnya, siswa hanya mengikuti pelajaran secara administratif tanpa memperoleh pemahaman yang benar-benar bermanfaat.
“Jika program berbasis teknologi ini dipaksakan, sementara gurunya belum menguasai, pembelajaran hanya akan menjadi formalitas. Murid hadir, guru hadir, tetapi tidak ada yang benar-benar belajar,” ujar Novan, baru-baru ini.
Menurut Novan, transformasi pendidikan di era digital memang menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Namun, kebijakan tersebut harus dibangun di atas fondasi yang kuat dan realistis. Ia menilai, terdapat tiga aspek utama yang wajib dipersiapkan secara bersamaan, yakni kualitas kurikulum, kompetensi tenaga pendidik, serta ketersediaan sarana dan prasarana penunjang.
Ketiga elemen tersebut, kata dia, merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan. Kurikulum modern tidak akan berjalan optimal tanpa guru yang kompeten. Sebaliknya, guru yang siap juga akan kesulitan jika fasilitas pembelajaran seperti perangkat komputer, jaringan internet, maupun akses teknologi di sekolah masih terbatas.
“Jangan sampai sekolah dituntut mengikuti perkembangan teknologi, tetapi fasilitas dan SDM-nya belum siap. Ini harus dipikirkan secara menyeluruh,” tegasnya.
Komisi IV DPRD Samarinda juga menyoroti adanya ketimpangan kesiapan antarwilayah sekolah, terutama antara sekolah di pusat kota dengan sekolah yang berada di kawasan pinggiran. Novan menilai, pemerataan kualitas pendidikan harus menjadi perhatian utama agar implementasi kurikulum berbasis teknologi tidak justru memperlebar kesenjangan pendidikan.
Selain persoalan teknologi, Novan turut menyinggung tantangan lain yang dinilai tidak kalah penting, yakni mulai tergerusnya pelajaran Bahasa Kutai sebagai muatan lokal. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai sebuah paradoks dalam dunia pendidikan daerah.
Di satu sisi, sekolah didorong untuk mengikuti perkembangan teknologi global melalui pembelajaran AI dan coding. Namun di sisi lain, identitas budaya lokal justru menghadapi ancaman akibat semakin minimnya tenaga pengajar yang mampu mengajarkan Bahasa Kutai secara optimal.
Menurutnya, modernisasi pendidikan seharusnya tidak membuat daerah kehilangan jati diri budaya. Pendidikan harus mampu berjalan beriringan antara penguasaan teknologi dan pelestarian nilai-nilai lokal.
“Kita tentu mendukung kemajuan teknologi dalam pendidikan. Tetapi jangan sampai bahasa dan budaya lokal justru ditinggalkan karena kurang mendapat perhatian,” katanya.
Karena itu, DPRD Kota Samarinda mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) untuk segera menyusun program peningkatan kapasitas guru secara serius dan berkelanjutan. Pelatihan yang diberikan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga harus memiliki indikator keberhasilan yang jelas agar kemampuan guru benar-benar meningkat.
Program pelatihan tersebut dinilai penting dilakukan sebelum penerapan kurikulum berbasis teknologi diperluas ke seluruh sekolah. Dengan demikian, tenaga pendidik memiliki waktu yang cukup untuk beradaptasi dan memahami metode pembelajaran baru yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
DPRD berharap, langkah penguatan kompetensi guru dan penyediaan fasilitas pendidikan dapat berjalan seiring dengan kebijakan transformasi digital di dunia pendidikan. Dengan persiapan yang matang, penerapan materi AI dan coding di sekolah diharapkan mampu melahirkan generasi muda Samarinda yang adaptif, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan tanpa kehilangan identitas budaya daerahnya. (Adv)













