DIGTALPOS.com, Kutai Timur – Komitmen menghadirkan hunian yang tak sekadar layak ditempati, tetapi juga menjamin kesehatan penghuninya, kembali ditegaskan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim). Pada tahun 2026 ini, melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), pemerintah daerah mengalokasikan pembangunan 1.024 unit septik tank sehat bagi masyarakat, dengan total anggaran mencapai Rp4 miliar.
Saat ditemui di belum lama ini, Kepala Dinas Perkim Kutim Ahmad Iip Makruf melalui Kepala Bidang Permukiman Muhammad Noor menjelaskan, langkah ini menjadi bukti bahwa pembangunan infrastruktur dasar, khususnya sanitasi, tetap menjadi prioritas strategis daerah. Bagi Pemkab Kutim, rumah layak huni bukan hanya perkara dinding kokoh dan atap yang teduh, melainkan juga sistem sanitasi yang aman, sehat, dan ramah lingkungan.
Program tersebut bukan proyek yang digarap secara serampangan. Rancang bangun serta spesifikasi teknisnya telah mengantongi rekomendasi laboratorium dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Dengan demikian, mutu konstruksi hingga standar teknisnya merujuk pada ketentuan nasional, sehingga aspek keamanan, ketahanan, dan keberlanjutannya terukur secara jelas.
“Kami berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan menyiapkan jamban dan biliknya, sedangkan Dinas Perkim menyiapkan septik tank-nya. Jadi ini saling melengkapi agar sanitasi rumah tangga benar-benar layak dan sehat,” terangnya.
Menurutnya, integrasi program ini penting agar masyarakat tidak hanya memiliki fasilitas jamban secara fisik, tetapi juga sistem pengolahan limbah domestik yang memenuhi standar kesehatan. Dengan begitu, potensi pencemaran lingkungan dan penyebaran penyakit berbasis sanitasi buruk dapat ditekan secara signifikan.
Muhammad Noor menuturkan, perjalanan program septik tank individual di Kutim memiliki rekam jejak panjang. Gagasan awalnya berangkat dari hibah septik tank individual yang digulirkan Kementerian PUPR pada 2017 hingga 2018. Program tersebut menjadi fondasi awal perbaikan sanitasi rumah tangga di sejumlah wilayah.
Memasuki 2019, Pemkab Kutim mulai menunjukkan kemandirian pembiayaan dengan mengalokasikan anggaran daerah secara mandiri. Pada tahun itu, sekitar 400 unit septik tank telah terpasang (existing). Capaian tersebut menjadi tonggak penting dalam memperluas akses sanitasi yang lebih layak bagi warga.
Namun, badai pandemi Covid-19 yang melanda pada 2020 hingga 2022 membuat laju program sempat tertahan. Fokus dan prioritas anggaran bergeser untuk penanganan kedaruratan kesehatan serta pemulihan sosial ekonomi masyarakat. Meski demikian, komitmen terhadap perbaikan sanitasi tidak pernah benar-benar surut.
Setelah kondisi berangsur stabil, pembiayaan program kembali dilanjutkan melalui APBD Kutim. Keputusan ini menandai kesinambungan tekad pemerintah daerah dalam membenahi kualitas lingkungan permukiman, sekaligus memastikan program yang sempat tertunda tetap berlanjut.
Muhammad Noor menegaskan, keterbatasan fiskal bukan alasan untuk mengendurkan ikhtiar. Ia menekankan bahwa dampak program ini jauh melampaui pembangunan fisik semata.
“Sanitasi yang baik bukan hanya soal infrastruktur, tapi soal masa depan keluarga. Dengan lingkungan yang bersih, risiko penyakit berbasis lingkungan seperti diare, infeksi saluran pencernaan, dan penyakit lainnya bisa ditekan,” tegasnya.
Program pembangunan 1.024 unit septik tank sehat ini juga tercatat sebagai salah satu program unggulan Bupati Kutim dalam mendorong peningkatan mutu hunian dan derajat kesehatan masyarakat. Pelaksanaannya melibatkan sejumlah Perangkat Daerah yang tergabung dalam Tim Pokja Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), sehingga perencanaan, verifikasi calon penerima manfaat, hingga implementasi di lapangan berjalan terarah dan tepat sasaran.
Dengan pendekatan kolaboratif dan standar teknis yang jelas, Pemkab Kutim berharap program ini mampu memperluas cakupan akses sanitasi aman, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang selama ini belum memiliki sistem pengolahan limbah domestik memadai.
Bagi Pemkab Kutim, pembangunan sanitasi bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas hidup warga. Sebab dari ruang domestik yang bersih dan tertata, tumbuh keluarga yang sehat. Dan dari keluarga yang sehat, masa depan Kutai Timur disemai dengan lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih berdaya saing. (*)













