Rumah Hijau di Tengah Banjir Bandang Nepal Jadi Simbol Keajaiban, Seluruh Penghuni Selamat

Rumah Hijau di Tengah Banjir Bandang Nepal Jadi Simbol Keajaiban, Seluruh Penghuni Selamat
Sebuah rumah selamat dan tidak rusak saat banjir bandang di Nepal menerjang wilayah tersebut, Rabu (26/8/2026).

DIGTALPOS.com – Di tengah dahsyatnya banjir bandang yang menerjang wilayah Trishuli, Nepal, sebuah rumah bercat hijau berdiri sendirian di antara lumpur dan puing-puing bangunan. Ketika sebagian besar permukiman di sekitarnya luluh lantak diterjang arus deras, rumah tersebut justru masih berdiri kokoh.

Pemandangan tak biasa itu sontak menarik perhatian publik dan viral di media sosial. Bangunan yang berada di kawasan Trishuli Bazaar, Distrik Nuwakot, tersebut bahkan mendapat julukan “rumah ajaib” karena mampu bertahan dari terjangan banjir sekaligus menyelamatkan seluruh anggota keluarga yang berada di dalamnya.

Dalam video yang beredar, terlihat air bah menerjang bagian bawah rumah dengan membawa lumpur, batu, es, dan berbagai material. Lantai dasar bangunan mengalami kerusakan cukup parah. Pintu dan jendela rusak, sementara bagian dalam rumah dipenuhi endapan lumpur.

Meski demikian, struktur utama bangunan yang menggunakan beton bertulang tetap berdiri. Kondisi tersebut memungkinkan keluarga yang berada di lantai atas berlindung hingga situasi kembali memungkinkan untuk dievakuasi.

Terjebak di Lantai Atas

Rumah tersebut dihuni Prakash Pandey Pyakurel (45), bersama istrinya, dua anak mereka, serta kedua orang tua Pyakurel yang sudah lanjut usia.

Saat bencana terjadi pada Rabu (26/8/2026), Pyakurel dan istrinya sedang berada di sebuah toko yang lokasinya tidak jauh dari rumah. Putra mereka yang berusia tujuh tahun baru saja berangkat ke sekolah sekitar 15 menit sebelumnya, sedangkan putrinya yang berusia 11 tahun tengah bersiap meninggalkan rumah.

Situasi berubah drastis ketika banjir bandang datang secara tiba-tiba. Pyakurel dan istrinya segera berlari kembali ke rumah. Mereka kemudian berkumpul bersama seluruh anggota keluarga di lantai atas karena tidak ada cukup waktu untuk menyelamatkan diri ke lokasi yang lebih jauh.

Selama hampir dua jam, keluarga tersebut hanya bisa bertahan sambil menyaksikan arus banjir menghantam rumah mereka. Suara benturan material dan getaran bangunan membuat mereka yakin keselamatan berada di ujung tanduk.

“Kami sangat ketakutan. Kami bersiap diri, ini adalah akhir zaman. Saya memberi tahu semua orang bahwa kita harus mati bersama,” ujar Pyakurel kepada The Telegraph.

Namun, ketakutan tersebut akhirnya berubah menjadi kelegaan. Seluruh anggota keluarganya berhasil selamat tanpa mengalami luka serius.

“Kami mendapatkan kehidupan baru. Semua orang mengatakan bahwa ini adalah keajaiban. Kami masih tidak percaya bisa hidup. Setelah melihat video-videonya, kami tidak percaya bagaimana kami masih bisa selamat,” katanya.

Dalam rekaman lain, salah seorang anggota keluarga terlihat mengibarkan bendera merah dari lantai atas rumah. Sinyal tersebut digunakan untuk menarik perhatian helikopter penyelamat agar mengetahui bahwa masih ada warga yang membutuhkan pertolongan.

Bencana Meluluhlantakkan Wilayah Hilir

Ketahanan rumah hijau tersebut menjadi pemandangan kontras dengan kehancuran yang terjadi di sepanjang aliran Sungai Trishuli.

Banjir bandang menerjang wilayah sepanjang sekitar 168 kilometer ke arah hilir dari kawasan perbatasan Nepal-China. Arus deras membawa batu berukuran besar dan berbagai material yang menghantam permukiman, gedung, jalan, serta infrastruktur penting.

Hingga Senin, jumlah korban meninggal dunia di Nepal dan China dilaporkan mencapai 908 orang, sementara lebih dari 3.000 lainnya masih dinyatakan hilang.

Bencana tersebut juga menyebabkan sedikitnya 19 jembatan rusak dan sekitar 40 kilometer jalan raya hancur. Berdasarkan data Stimson Center, dampaknya turut mengganggu lebih dari 10 persen kapasitas pembangkit listrik Nepal.

Besarnya kekuatan banjir digambarkan oleh Keshav Prasad Baral, warga Desa Tupche yang berada sekitar 25 kilometer di hilir kawasan perbatasan.

“Itu bukan air. Itu adalah semburan lumpur dalam jumlah sangat besar yang langsung mengarah ke kami,” kata Keshav.

Ia bahkan sempat berusaha mempertahankan istrinya ketika arus datang. Namun derasnya lumpur membuat mereka terpisah.

“Saya mencoba memegang tangan istri saya, tetapi dia hanyut terbawa lumpur,” ujarnya.

Sistem Peringatan Tak Sempat Berfungsi Optimal

Rekaman CCTV menunjukkan luapan banjir mulai memasuki wilayah Nepal sekitar pukul 08.32 waktu setempat. Kecepatan arus yang membawa lumpur dan material membuat warga nyaris tidak memiliki waktu untuk melakukan evakuasi.

Sekitar 26 menit kemudian, pada pukul 08.58, ahli hidrologi pemerintah Nepal, Binod Parajuli, menerima informasi mengenai kondisi darurat di Sungai Trishuli dari Kepala Otoritas Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional (NDRRMA).

Namun, upaya pemantauan menghadapi kendala serius. Stasiun pemantau di kawasan perbatasan diketahui telah rusak dan berhenti mengirimkan data sejak pukul 08.40.

Tim Parajuli kemudian berupaya memastikan kondisi di lapangan sebelum mengirimkan peringatan darurat kepada masyarakat. Peringatan massal melalui telepon seluler baru dapat dikirim sekitar pukul 09.13, setelah adanya konfirmasi dari otoritas setempat.

Saat peringatan tersebut disampaikan, sedikitnya empat stasiun pemantau sungai telah lebih dahulu hancur diterjang banjir.

Di tengah keterbatasan waktu dan besarnya kekuatan bencana, rumah hijau di Trishuli Bazaar kini menjadi salah satu gambaran paling dramatis tentang bagaimana sebuah bangunan dapat menjadi benteng terakhir bagi penghuninya. Di tengah kehancuran yang begitu luas, bangunan tersebut sekaligus menjadi saksi bahwa keselamatan keluarga Pyakurel hanya berjarak beberapa meter dari bencana yang menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya. (*)