DIGTALPOS.com – Mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, akhirnya angkat bicara setelah dijatuhi sanksi disiplin oleh Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA). Meski mengaku memiliki banyak hal yang ingin disampaikan terkait kasus yang menimpanya, pelatih berusia 56 tahun itu memilih menahan diri demi melindungi orang-orang yang pernah bekerja bersamanya.
Keputusan tersebut disampaikan Shin Tae-yong dalam wawancara melalui sambungan telepon dengan media Korea Selatan, Channel A. Ia mengungkapkan bahwa ada banyak fakta yang menurutnya belum terungkap ke publik, namun ia khawatir jika berbicara secara terbuka justru akan merugikan mantan anak asuh maupun staf yang pernah mendampinginya.
“Ada banyak aspek yang menurut saya tidak adil, dan saya ingin mengungkapkan kebenaran, tetapi murid-murid saya bisa terluka jika saya berbicara, dan suasana sepak bola domestik tidak baik,” ujar Shin Tae-yong seperti dikutip dari Channel A.
Pernyataan tersebut menjadi komentar pertama Shin Tae-yong sejak KFA menjatuhkan hukuman atas sejumlah dugaan pelanggaran yang terjadi ketika dirinya menangani klub Ulsan HD. Pelatih asal Korea Selatan itu diketahui hanya memimpin tim selama 65 hari sebelum akhirnya diberhentikan pada Agustus lalu.
Selama masa kepemimpinannya di Ulsan HD, Shin Tae-yong diterpa berbagai kontroversi. Mulai dari persoalan hubungan dengan sejumlah pemain, dugaan tindakan penyerangan, hingga isu mengenai aktivitas bermain golf ketika tim sedang menjalani pertandingan tandang. Rangkaian polemik tersebut kemudian menjadi bahan penyelidikan oleh otoritas sepak bola Korea Selatan.
Sebelumnya, Pusat Etika Olahraga di bawah naungan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan telah lebih dulu mengeluarkan keputusan terkait kasus tersebut. Berdasarkan hasil rekomendasi lembaga itu, KFA kemudian menggelar rapat Komite Fair Play pada awal bulan ini untuk menentukan bentuk sanksi disiplin yang akan dijatuhkan kepada Shin Tae-yong.
Meski menerima keputusan tersebut, Shin Tae-yong menilai masih banyak hal yang tidak berjalan secara adil dalam proses penanganan kasusnya. Namun hingga kini ia memilih memikul seluruh persoalan itu sendiri dan belum ingin membuka seluruh kronologi yang menurutnya dapat memperkeruh situasi sepak bola di negaranya.
“Saya memilih menanggung semuanya sendiri,” ungkapnya.
Walau demikian, Shin Tae-yong belum sepenuhnya menutup pintu untuk mengambil langkah hukum atau administratif. Ia mengisyaratkan masih mempertimbangkan kemungkinan mengajukan banding terhadap keputusan yang telah ditetapkan KFA apabila memang diperlukan.
Di tengah polemik tersebut, karier Shin Tae-yong justru memasuki babak baru di Indonesia. Setelah mengakhiri kiprahnya bersama Tim Nasional Indonesia, ia kini resmi menjadi pelatih kepala Persija Jakarta. Klub berjuluk Macan Kemayoran itu mengontraknya selama tiga tahun sejak diumumkan pada Juni lalu sebagai bagian dari proyek membangun tim yang lebih kompetitif menghadapi musim 2026/2027.
Menariknya, sanksi yang dijatuhkan KFA tidak serta-merta menghambat aktivitas kepelatihannya di Indonesia. Hukuman tersebut hanya berlaku dalam lingkup federasi sepak bola Korea Selatan sehingga tidak memengaruhi statusnya sebagai pelatih Persija Jakarta.
Dengan demikian, Shin Tae-yong tetap dapat menjalankan seluruh tugasnya bersama Persija, termasuk memimpin sesi latihan, menyusun strategi, dan mempersiapkan tim menghadapi kompetisi Liga 1 musim 2026/2027.
Kasus yang menimpa Shin Tae-yong pun masih menjadi perhatian publik sepak bola, baik di Korea Selatan maupun Indonesia. Banyak pihak kini menantikan apakah mantan pelatih Timnas Indonesia tersebut akan tetap memilih bungkam atau akhirnya membuka seluruh fakta yang selama ini ia simpan melalui proses banding maupun pernyataan resmi di kemudian hari. (*)













