DIGTALPOS.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak musim kemarau yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada Agustus 2026. Kondisi kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih kering dengan curah hujan yang berada di bawah kondisi normal.
Berdasarkan proyeksi BMKG pada Dasarian I Agustus 2026, sekitar 91,43 persen wilayah Indonesia telah memasuki periode puncak musim kemarau dengan kondisi curah hujan sangat rendah. Dominasi cuaca kering tersebut meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG sebelumnya memperkirakan puncak musim kemarau nasional terjadi pada periode Juli hingga September 2026. Khusus Agustus, menjadi bulan dengan wilayah terdampak paling luas, yakni mencapai sekitar 369 Zona Musim (ZOM) atau hampir setengah dari luas daratan Indonesia.
Sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kondisi kering meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Kondisi ini diperkuat oleh prediksi bahwa musim kemarau 2026 cenderung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan rata-rata normal.
Pengaruh El Niño dan Risiko Karhutla
BMKG menyebut fenomena iklim global El Niño turut berpengaruh terhadap meningkatnya peluang musim kemarau yang lebih kering. Kondisi tersebut dapat menyebabkan hari tanpa hujan berlangsung lebih lama di sejumlah daerah.
Pada akhir Juli 2026, BMKG juga melaporkan dampak musim kemarau mulai terlihat di beberapa wilayah, seperti berkurangnya ketersediaan air serta meningkatnya titik panas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat, khususnya di wilayah rawan karhutla, diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membuka lahan dengan cara membakar. Pemerintah daerah juga diminta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bencana hidrometeorologi akibat musim kering berkepanjangan.
Waspadai Dampak Siklon Tropis
Selain kemarau, BMKG juga mengingatkan adanya dinamika atmosfer berupa aktivitas sistem siklon tropis di sekitar wilayah regional yang dapat memberikan dampak tidak langsung terhadap cuaca Indonesia.
Keberadaan sistem siklon tropis dapat memengaruhi pola angin, meningkatkan kecepatan angin di sejumlah wilayah perairan, serta menyebabkan perubahan distribusi hujan. Meski sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam periode kemarau, beberapa daerah masih berpotensi mengalami hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat akibat pengaruh dinamika atmosfer tersebut.
Imbauan BMKG
BMKG mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air, menjaga sumber daya air, serta mengikuti informasi cuaca resmi. Sektor pertanian juga diminta melakukan penyesuaian pola tanam dengan memilih varietas yang lebih tahan terhadap kondisi kering.
Pemerintah daerah dan instansi terkait diminta memperkuat langkah mitigasi, terutama untuk menghadapi ancaman kekeringan, gangguan kualitas udara akibat asap karhutla, serta dampak terhadap sektor pangan dan energi.
Dengan kondisi kemarau yang semakin dominan, BMKG meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan hingga puncak musim kering berakhir pada periode September 2026. (*)













