DIGTALPOS.com – Operasi pencarian dan pertolongan terhadap delapan orang yang hilang di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, resmi dihentikan setelah tim SAR gabungan selama 10 hari belum menemukan tanda-tanda keberadaan kapal Arupadhatu I.
Delapan orang tersebut terdiri atas lima jurnalis, dua anak buah kapal (ABK), dan seorang pemandu (guide) yang berada di dalam kapal saat dilaporkan hilang ketika hendak melakukan aktivitas peliputan di kawasan Gunung Anak Krakatau.
Penghentian operasi disampaikan Gubernur Banten Andra Soni di Carita, Kabupaten Pandeglang, Kamis (17/9/2026). Keputusan tersebut diambil setelah operasi pencarian dilakukan sejak hari pertama hingga masa perpanjangan selama tiga hari, namun belum membuahkan hasil yang mengarah pada keberadaan kapal maupun delapan orang di dalamnya.
“Tadi disampaikan bahwa sejak pelaksanaan hari pertama operasi gabungan pencarian dan pertolongan sampai dengan hari ke-10, setelah perpanjangan tiga hari, secara umum tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun penumpang atau awak yang berada di kapal tersebut,” kata Andra.
Selama operasi berlangsung, tim SAR menemukan sedikitnya 13 objek di sejumlah titik perairan yang menjadi lokasi pencarian. Beberapa di antaranya berupa jaket pelampung, terpal, helm, hingga galon.
Meski demikian, seluruh temuan tersebut telah diperiksa dan dikonfirmasi oleh Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud). Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada objek yang dapat dipastikan berkaitan dengan kapal Arupadhatu I.
“Bahwa kemudian ada beberapa temuan material atau objek, dicatat ada 13 objek yang ditemukan selama operasi, dan itu sudah dikonfirmasi oleh Polairud. Setelah dicek dan diteliti, dinyatakan bahwa saat ini temuan tersebut tidak terhubung dengan Arupadhatu I,” jelas Andra.
Dengan pertimbangan efektivitas operasi, Basarnas bersama unsur SAR terkait kemudian memutuskan untuk menghentikan pencarian secara aktif. Meski demikian, penghentian operasi bukan berarti upaya untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan kapal dan para penumpangnya sepenuhnya berakhir.
Andra mengatakan pemantauan tetap akan dilakukan di kawasan perairan Selat Sunda. Apabila di kemudian hari ditemukan informasi atau tanda baru yang berkaitan dengan Arupadhatu I, proses pencarian dapat kembali dilakukan.
“Dan kemudian telah perpanjangan pihak Basarnas tadi menyampaikan bahwa karena sudah dinilai tidak efektif dalam pelaksanaannya, dalam pencarian dan pertolongan ini, maka dengan berat hati pelaksanaan operasi gabungan dan pertolongan ini oleh pihak yang berkepentingan atau pihak yang memiliki kewenangan dinyatakan dihentikan,” ujarnya.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad menegaskan, penghentian operasi SAR tidak berarti pencarian benar-benar berakhir. Pemantauan terhadap kemungkinan munculnya informasi baru akan tetap dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur.
Menurutnya, pemantauan akan dilakukan melalui sistem pemantauan pelayaran, termasuk SROP VTS, unsur Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal), serta Polairud. Kapal-kapal yang melintas di perairan Selat Sunda juga diharapkan dapat membantu memberikan informasi apabila menemukan benda atau tanda yang diduga berkaitan dengan Arupadhatu I.
“Operasi SAR ini tidak berhenti sampai di sini. Setelah pencarian ini kita hentikan, kita lakukan dengan pemantauan melalui SROP VTS, termasuk Lanal, termasuk dari Polairud yang melakukan patroli, termasuk aktivitas kapal yang melintas di Selat Sunda yang akan menjadi ujung tombak apabila menemukan informasi lebih lanjut,” kata Al Amrad.
Ia menambahkan, apabila ditemukan tanda-tanda baru yang mengarah pada keberadaan kapal Arupadhatu I maupun para penumpangnya, operasi SAR dapat kembali dibuka.
“Dan apabila itu ada tanda-tanda, operasi SAR akan dinyatakan dibuka kembali,” imbuhnya.
Dengan dihentikannya operasi pencarian aktif tersebut, keberadaan lima jurnalis, dua ABK, dan seorang guide yang berada dalam kapal Arupadhatu I hingga kini masih belum diketahui. Tim terkait akan tetap memantau perairan Selat Sunda sambil menunggu adanya informasi baru yang dapat menjadi petunjuk dalam pencarian. (*)













