Abu Vulkanik Bukan Sekadar Debu, Ini 5 Bahayanya bagi Pesawat dan Pilot

Abu Vulkanik Bukan Sekadar Debu, Ini 5 Bahayanya bagi Pesawat dan Pilot
Ilustrasi/Gemini AI.

DIGTALPOS.com – Abu vulkanik yang muncul akibat erupsi gunung api mungkin terlihat seperti debu biasa. Namun bagi dunia penerbangan, material tersebut merupakan salah satu ancaman serius yang tidak boleh diremehkan.

Partikel abu vulkanik umumnya mengandung silikat serta serpihan kaca dan batuan yang sangat keras dan tajam. Ketika masuk ke dalam mesin pesawat, material tersebut dapat menimbulkan kerusakan serius, bahkan berpotensi menyebabkan mesin kehilangan tenaga.

Dihimpun berbagai sumber, InJourney Airports melalui akun Instagram resminya @injourneyairports menjelaskan bahwa abu vulkanik dapat mengganggu sejumlah komponen penting pesawat.

“Abu vulkanik mengandung partikel kaca dan batuan tajam yang dapat merusak mesin serta sistem navigasi pesawat secara mendadak,” tulis InJourney Airports.

Selain mengancam mesin, abu vulkanik juga dapat mengurangi jarak pandang pilot hingga mengganggu berbagai sensor dan sistem pesawat.

Berikut sejumlah bahaya abu vulkanik terhadap penerbangan:

1. Mesin pesawat bisa kehilangan tenaga

Mesin menjadi bagian pesawat yang paling rentan ketika berhadapan dengan awan abu vulkanik.

Saat abu tersedot masuk ke mesin yang memiliki suhu sangat tinggi, partikel tersebut dapat meleleh. Material yang semula berupa partikel keras kemudian kembali mengeras ketika mencapai bagian mesin yang temperaturnya lebih rendah.

Material yang mengeras tersebut dapat menempel pada bilah turbin dan mengganggu aliran udara di dalam mesin. Akibatnya, performa mesin dapat menurun drastis dan dalam kondisi tertentu mesin bahkan bisa mengalami stall atau mati.

Pelita Air menjelaskan, abu vulkanik yang meleleh kemudian membeku kembali dan menempel pada komponen mesin. Kondisi tersebut dapat membuat mesin kehilangan tenaga.

Situasi ini tentu sangat berbahaya, terutama ketika pesawat sedang berada di ketinggian jelajah dan jauh dari bandara.

2. Kaca kokpit bisa tergores hingga buram

Bahaya lainnya berasal dari sifat abu vulkanik yang abrasif. Partikel tersebut bukan hanya berukuran sangat kecil, tetapi juga memiliki permukaan keras dan tajam.

Air Resources Laboratory milik National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyebut abu vulkanik terdiri dari serpihan kaca vulkanik dan mineral berukuran kecil.

Ketika partikel tersebut menghantam permukaan pesawat dalam kecepatan tinggi, efeknya dapat menyerupai proses pengamplasan. Kaca kokpit pun berpotensi mengalami goresan parah atau sandblasted.

Jika kondisi ini terjadi, kaca depan kokpit dapat menjadi buram dan mengurangi kemampuan pilot melihat kondisi di luar pesawat.

3. Sensor dan sistem pesawat dapat terganggu

Abu vulkanik juga dapat menjadi masalah bagi berbagai sensor yang digunakan pesawat untuk membaca kondisi penerbangan.

Partikel abu yang masuk atau menempel pada komponen tertentu dapat menyebabkan kesalahan pembacaan instrumen. Salah satunya berkaitan dengan sensor yang digunakan untuk mengukur kecepatan pesawat.

Data yang tidak akurat tentu dapat menyulitkan pilot karena keputusan selama penerbangan sangat bergantung pada informasi dari berbagai instrumen.

Tidak hanya sensor, partikel abu juga berpotensi mengganggu sistem navigasi, komunikasi serta komponen elektronik yang sensitif.

4. Jarak pandang pilot dapat menurun drastis

Awan abu vulkanik juga dapat mengurangi jarak pandang dari dalam kokpit. Kondisi tersebut membuat pilot kesulitan melihat lingkungan di sekitar pesawat.

Masalahnya, keberadaan abu vulkanik tidak selalu mudah dikenali secara kasatmata. Awan abu dapat terlihat menyerupai awan biasa, asap atau lapisan debu di atmosfer.

Selain itu, partikel abu berukuran sangat kecil sehingga keberadaannya tidak selalu mudah terdeteksi hanya dengan mengandalkan penglihatan pilot.

Karena itu, informasi dari Volcanic Ash Advisory Centers (VAAC) menjadi penting bagi keselamatan penerbangan. Pusat tersebut memberikan informasi mengenai lokasi dan pergerakan awan abu vulkanik berdasarkan pemantauan atmosfer.

Pelita Air menegaskan bahwa keberadaan abu vulkanik tidak cukup dinilai hanya berdasarkan pandangan mata. Data satelit dan pemeriksaan di lapangan menjadi bagian penting dalam menentukan kondisi penerbangan.

5. Awan abu sulit diprediksi dan terus bergerak

Ancaman abu vulkanik tidak berhenti di sekitar gunung yang sedang erupsi. Material yang terlontar ke atmosfer dapat terbawa angin dan bergerak ke wilayah lain.

Erupsi besar bahkan dapat membuat abu mencapai ketinggian yang menjadi jalur penerbangan dalam waktu relatif singkat. Setelah berada di atmosfer, awan abu dapat bergerak mengikuti arah dan kecepatan angin.

Pergerakannya juga bisa berubah-ubah berdasarkan kondisi atmosfer, sehingga wilayah yang aman pada satu waktu belum tentu terbebas dari abu beberapa jam kemudian.

Dalam kondisi tertentu, abu vulkanik dapat bertahan di atmosfer selama beberapa hari. Inilah yang membuat dampak erupsi terhadap penerbangan bisa meluas jauh dari lokasi gunung api. (*)