DIGTALPOS.com – Kemarau panjang yang diperparah fenomena El Nino mulai memberikan dampak terhadap aktivitas pertambangan batu bara di Kalimantan. Penurunan muka air di sejumlah sungai utama membuat jalur transportasi sungai tidak lagi bisa dimanfaatkan secara maksimal, terutama untuk pengangkutan batu bara menggunakan kapal tongkang.
Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengakui kondisi tersebut mulai menjadi perhatian karena rendahnya permukaan air sungai dapat menghambat distribusi batu bara dari wilayah tambang menuju pelabuhan.
Direktur Eksekutif APBI Gita Maharyani mengatakan, penurunan muka air sungai telah terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan dan mulai memengaruhi kelancaran aktivitas pengangkutan batu bara.
“Secara umum, kekeringan dan penurunan muka air sungai terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan dan mulai memengaruhi aktivitas pengangkutan batu bara,” ujar Gita kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (7/9/2026).
Menurut Gita, persoalan tidak hanya terjadi pada kelancaran perjalanan tongkang. Kondisi sungai yang semakin dangkal juga dapat membatasi kedalaman kapal atau draft yang diperbolehkan saat membawa muatan.
Akibatnya, operator tongkang terpaksa mengurangi jumlah batu bara yang diangkut agar kapal tetap dapat melintasi jalur sungai dengan aman. Kondisi ini membuat kapasitas angkut tidak bisa dimaksimalkan seperti dalam kondisi normal.
“Di beberapa wilayah sungai lainnya, penurunan muka air juga dapat membatasi draft tongkang sehingga muatan tidak dapat dimaksimalkan,” jelasnya.
Gangguan pada jalur pengangkutan tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya penumpukan batu bara untuk sementara waktu. Stok dapat meningkat, baik di area tambang maupun di stockpile yang berada di kawasan pelabuhan.
“Kondisi ini berpotensi meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan,” kata Gita.
Meski demikian, APBI menilai dampak kondisi tersebut terhadap harga batu bara belum dapat disimpulkan secara langsung. Pergerakan harga komoditas batu bara masih sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar global, terutama keseimbangan antara permintaan dan pasokan.
Gita menjelaskan, gangguan logistik di Indonesia memang berpotensi memberikan sentimen terhadap pasar batu bara. Namun, faktor tersebut bukan satu-satunya penentu arah pergerakan harga.
“Kondisi logistik di Indonesia dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar, namun bukan satu-satunya faktor penentu kenaikan harga,” ujarnya.
Dengan kondisi cuaca yang masih menjadi perhatian, perkembangan muka air sungai di sejumlah wilayah Kalimantan menjadi salah satu hal yang perlu dipantau. Jika kekeringan berlangsung lebih lama, hambatan distribusi berpotensi semakin terasa dan dapat memengaruhi rantai pasok batu bara dari tambang hingga pelabuhan.
Namun, seberapa besar pengaruhnya terhadap harga batu bara tetap akan bergantung pada perkembangan permintaan dan pasokan di pasar internasional. (*)













