Petani Garam Bahagia, El Nino Bawa Panen Berkarung-karung dan Produksi Melonjak

Petani Garam Bahagia, El Nino Bawa Panen Berkarung-karung dan Produksi Melonjak
Ilustrasi.

DIGTALPOS.com – Musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino membawa berkah bagi para petani garam di sejumlah daerah di Indonesia. Cuaca yang panas dengan intensitas hujan rendah membuat proses penguapan air laut berlangsung lebih cepat, sehingga produksi garam meningkat signifikan dan hasil panen melimpah hingga memenuhi karung-karung garam setiap pekannya.

Dilansir berbagai sumber, salah satu daerah yang merasakan dampak positif tersebut adalah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Petani garam mengaku produksi meningkat tajam sejak musim kemarau berlangsung. Jika sebelumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan garam, kini proses kristalisasi hanya memerlukan sekitar satu pekan berkat teriknya matahari dan angin timur yang cukup kencang.

Petani garam di Desa Dresi Kulon, Kecamatan Kaliori, Rembang, bahkan menyebut hasil panennya meningkat dibandingkan awal musim kemarau. Sementara petani lain yang menggunakan tambak dengan lapisan geoisolator mengaku produksi garamnya naik dari sekitar 2,5 ton menjadi sekitar 5 ton per pekan. Meski harga garam sempat turun akibat melimpahnya pasokan, peningkatan volume panen tetap memberikan keuntungan bagi para petani.

Kondisi serupa juga terjadi di Kawasan Penggaraman Talise, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Fenomena El Nino membuat frekuensi panen meningkat dari rata-rata satu kali menjadi dua kali dalam sepekan. Produksi garam pun dilaporkan naik hingga sekitar 50 persen dibandingkan kondisi normal.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya juga menjelaskan bahwa El Nino tidak selalu berdampak negatif. Di sektor pergaraman, musim kemarau yang lebih panjang justru berpotensi meningkatkan produksi, terutama di wilayah sentra garam seperti Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. BMKG juga mendorong pemerintah untuk memanfaatkan momentum tersebut dengan memperkuat sistem penyimpanan dan distribusi hasil produksi garam.

Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa keuntungan tersebut bersifat musiman. Ketika fenomena El Nino berakhir dan berganti menjadi La Nina yang ditandai meningkatnya curah hujan, produksi garam diperkirakan akan kembali menurun karena proses penguapan air laut menjadi kurang optimal. (*)