DIGTALPOS.com, Bontang – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Bontang kembali menghadirkan Gebyar Literasi Kota Bontang 2026 sebagai upaya meningkatkan minat baca dan memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan. Mengusung tema Out of the Box, kegiatan yang berlangsung selama 11 hari, mulai 8 hingga 18 Oktober 2026, ini menghadirkan pameran buku, diskusi, pelatihan, hingga beragam aktivitas kreatif untuk berbagai kalangan.
Menariknya, kegiatan tersebut tetap terlaksana tanpa alokasi anggaran khusus dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) DPK Bontang. Dukungan Pemerintah Kota Bontang, komunitas literasi, penerbit, sponsor, relawan, serta berbagai pihak lainnya menjadi kunci terselenggaranya agenda tahunan tersebut.
Kepala DPK Kota Bontang, Retno Febriaryanti, mengatakan Gebyar Literasi dirancang bukan sekadar menjadi tempat berburu buku, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat dunia literasi dan layanan perpustakaan.
Dalam kegiatan ini, pengunjung dapat menemukan beragam koleksi buku yang diklaim mencapai 20 juta buku dari lebih dari 100 penerbit. Koleksi yang tersedia mencakup buku-buku terbaru hingga judul terlaris dari berbagai kategori.
Pameran buku dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 21.00 Wita. Pengunjung juga bisa memanfaatkan potongan harga hingga 50 persen dan sejumlah penawaran menarik, termasuk paket bundling Rp100 ribu untuk 14 buku.
“ Apa yang kita lakukan adalah untuk masyarakat Kota Bontang, bagaimana meningkatkan literasi dengan semakin mengenal Perpustakaan Kota Bontang, kemudian jumlah kunjungannya meningkat dan semakin berminat membaca buku,” kata Retno.
Menurutnya, peningkatan budaya membaca membutuhkan upaya bersama agar buku semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, Gebyar Literasi dikemas dengan berbagai kegiatan yang tidak hanya menyasar pengunjung yang gemar membaca, tetapi juga anak-anak, pelajar, komunitas, hingga masyarakat umum.
Sejumlah agenda yang disiapkan di antaranya English Book Party, wayang sinematik, bedah buku, pembuatan pembatas buku, pemutaran dan diskusi film, kegiatan membaca nyaring (read aloud), serta aktivitas mendongeng untuk anak-anak.
Selain itu, terdapat talkshow mengenai peran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), pameran Pusaka Nusantara, seminar pendidikan karakter, hingga pelatihan menulis. Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka ruang belajar yang lebih interaktif sekaligus mendorong kreativitas masyarakat.
Tanpa Anggaran Khusus, Mengandalkan Kolaborasi
Retno menjelaskan, pelaksanaan Gebyar Literasi 2026 tidak menggunakan anggaran khusus yang dialokasikan dalam DPA DPK Bontang. Meski demikian, kegiatan tetap berjalan berkat dukungan dan sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, DPK Provinsi Kalimantan Timur, Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB), Bunda Literasi, penerbit, komunitas, hingga relawan.
“Pelaksanaan Gebyar Literasi Kota Bontang tahun ini tidak menggunakan anggaran khusus. Jadi, di dalam DPA tidak ada. Alhamdulillah, semua didukung oleh Pemerintah Kota Bontang,” ujarnya, Jumat (9/10/2026).
Ia menilai keterlibatan komunitas menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan gerakan literasi. Peran Bunda Literasi di tingkat kecamatan dan kelurahan juga diperlukan untuk mendorong kebiasaan membaca agar tumbuh di lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Kami tidak akan bisa maju dan meningkatkan IPLM (Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat) kalau tanpa bantuan dari komunitas dan juga ibu-ibu Bunda Literasi kecamatan dan kelurahan,” tuturnya.
Besarnya dukungan masyarakat juga terlihat sejak pelaksanaan soft launching. Retno menyebut sekitar 600 orang menghadiri kegiatan tersebut. Dari jumlah itu, sekitar 450 orang tercatat membeli buku, dengan nilai penjualan yang menembus lebih dari Rp30 juta.
Capaian awal tersebut menunjukkan tingginya ketertarikan masyarakat terhadap kegiatan literasi yang dikemas melalui pameran buku dan berbagai aktivitas pendukung.
Literasi Jadi Benteng Menghadapi Hoaks
Staf Ahli Bidang Pembangunan Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Lukman, yang hadir mewakili Wali Kota Bontang, turut mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
Ia menyampaikan terima kasih kepada GPMB Provinsi Kalimantan Timur, DPK Provinsi Kalimantan Timur, DPK Bontang, penerbit, komunitas, panitia, dan seluruh relawan yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan Gebyar Literasi.
Menurut Lukman, penguatan literasi semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital. Masyarakat tidak cukup hanya mampu membaca, tetapi juga perlu memiliki kemampuan memahami, memeriksa, dan menilai kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.
“Literasi yang kuat adalah benteng agar masyarakat tidak mudah termakan hoaks, disinformasi, dan ujaran kebencian,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar perpustakaan terus dikembangkan menjadi ruang belajar, bertukar gagasan, dan berdiskusi yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Salah satu upaya yang dilakukan DPK Bontang adalah menyediakan layanan perpustakaan pada malam hari. Layanan ini memberikan kesempatan kepada masyarakat yang bekerja atau memiliki kesibukan pada siang hari agar tetap dapat mengakses bahan bacaan.
Lukman menambahkan, pembentukan kebiasaan membaca perlu dimulai sejak usia dini. Orang tua dapat mengambil peran melalui kegiatan sederhana di rumah, seperti membacakan buku, membaca bersama anak, dan mendiskusikan cerita yang telah dibaca.
“Jangan biarkan buku hanya menjadi pajangan. Buka bukunya, baca bersama, dan diskusikan agar menjadi sumber inspirasi,” pesannya.
Kolaborasi Dinilai Lebih Penting daripada Besarnya Anggaran
Ketua GPMB Provinsi Kalimantan Timur, Syafruddin Pernyata, juga menyoroti pentingnya kolaborasi dalam mengembangkan gerakan literasi. Menurutnya, keberhasilan perpustakaan tidak semata-mata ditentukan oleh kemegahan gedung, kelengkapan koleksi, maupun besarnya anggaran yang tersedia.
Lebih dari itu, kemampuan membangun jejaring dan melibatkan banyak pihak menjadi faktor penting agar kegiatan literasi dapat menjangkau masyarakat secara luas.
“Kalau ada perpustakaan dengan gedung megah dan koleksi banyak, tetapi berjalan sendiri-sendiri, hasilnya tidak jauh berbeda. Namun, dengan kemampuan berkolaborasi, meski tidak ada anggaran dalam DPA, bisa menghadirkan sesuatu yang luar biasa,” ungkapnya.
Syafruddin memperkirakan, apabila seluruh rangkaian Gebyar Literasi dibiayai melalui mekanisme penganggaran konvensional, kebutuhan anggarannya dapat mencapai sekitar Rp400 juta.
Karena itu, pelaksanaan Gebyar Literasi Kota Bontang 2026 menjadi contoh bagaimana sinergi pemerintah, komunitas, penerbit, sponsor, dan relawan dapat menghadirkan kegiatan publik yang bermanfaat meski tanpa anggaran khusus.
Melalui kegiatan yang berlangsung hingga 18 Oktober 2026 ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memanfaatkan kesempatan mendapatkan buku dengan harga terjangkau, tetapi juga menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari.
Pada akhirnya, keberhasilan gerakan literasi tidak hanya diukur dari banyaknya buku yang terjual atau jumlah pengunjung yang datang, melainkan juga dari tumbuhnya budaya membaca, meningkatnya kemampuan masyarakat menyaring informasi, serta semakin kuatnya peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat. (*)













