DIGTALPOS.com – Erupsi gunung api tidak hanya membawa ancaman berupa lava pijar maupun awan panas. Material abu vulkanik yang terbawa angin dan kemudian menyelimuti permukiman juga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan dan mata.
International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN) menjelaskan, abu vulkanik merupakan material berupa pecahan batuan gunung api dengan ukuran kurang dari 2 milimeter. Bentuknya dapat menyerupai butiran pasir, namun sebagian lainnya berukuran sangat halus hingga menyerupai bedak.
Saat berada di sekitar kawah, abu vulkanik umumnya masih memiliki suhu tinggi. Namun, material tersebut akan mendingin ketika terbawa angin dan jatuh di wilayah yang lebih jauh dari pusat erupsi.
Dalam jumlah besar, abu yang memenuhi udara dapat mengurangi jarak pandang, menghalangi sinar matahari, bahkan membuat kondisi siang hari berubah menjadi gelap. Kondisi ini tak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga dapat meningkatkan risiko kecelakaan di jalan.
Yang perlu diwaspadai, partikel abu vulkanik berukuran sangat kecil dapat terhirup dan masuk cukup jauh ke dalam saluran pernapasan. Abu yang baru saja jatuh juga dapat memiliki lapisan asam pada permukaannya sehingga berpotensi menyebabkan iritasi pada mata dan paru-paru.
Lapisan asam tersebut umumnya berkurang setelah abu terkena air hujan. Namun, air hujan yang membawa endapan abu tetap harus diwaspadai karena dapat mencemari sumber air, terutama jika masuk ke penampungan terbuka.
Gangguan Pernapasan yang Perlu Diwaspadai
Paparan abu vulkanik dalam jumlah tinggi dapat membuat orang yang sebelumnya sehat mengalami batuk, rasa tidak nyaman pada dada hingga iritasi saluran pernapasan.
Sejumlah keluhan jangka pendek yang dapat muncul antara lain hidung mengalami iritasi dan mengeluarkan cairan, tenggorokan terasa sakit, batuk kering maupun berdahak, mengi serta sesak napas.
Bagi masyarakat yang memiliki riwayat asma, bronkitis, emfisema atau gangguan paru lainnya, paparan abu dapat memperburuk kondisi. Anak-anak yang menderita asma juga berpotensi mengalami batuk, sesak di dada dan mengi, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan saat abu masih beterbangan.
Risiko gangguan kesehatan dipengaruhi sejumlah faktor, seperti ukuran partikel abu, konsentrasi abu di udara, kandungan silika kristalin serta lamanya seseorang terpapar.
Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika terjadi hujan abu dan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai.
Mata Juga Rentan Mengalami Iritasi
Selain saluran pernapasan, mata menjadi salah satu bagian tubuh yang cukup rentan terkena dampak abu vulkanik. Butiran abu yang masuk ke mata dapat menimbulkan rasa mengganjal hingga menggores permukaan kornea.
Keluhan yang dapat muncul antara lain mata merah, gatal, berair, terasa sakit, sensitif terhadap cahaya, muncul cairan lengket hingga gangguan pada kornea.
Bagi pengguna lensa kontak, sebaiknya segera melepas lensa ketika terjadi hujan abu. Penggunaan kacamata biasa atau kacamata pelindung dapat menjadi pilihan untuk mengurangi risiko partikel abu masuk ke mata.
Kulit juga dapat mengalami kemerahan dan iritasi, meski kasusnya relatif lebih jarang. Jika muncul rasa gatal, masyarakat sebaiknya tidak menggaruk secara berlebihan karena dapat menyebabkan luka dan meningkatkan risiko infeksi.
Abu Vulkanik Bisa Mengganggu Aktivitas Warga
Dampak hujan abu tidak berhenti pada persoalan kesehatan. Abu yang menutupi jalan dapat membuat permukaan menjadi licin, mengaburkan marka jalan dan menurunkan jarak pandang pengendara.
Jika endapannya cukup tebal, abu bahkan dapat menghambat akses menuju sejumlah wilayah. Gangguan juga bisa terjadi pada jaringan listrik serta sistem penyediaan air bersih.
Penampungan air yang terbuka menjadi salah satu bagian yang paling mudah tercemar. Tangki air yang terhubung dengan talang atap juga perlu diperhatikan karena abu dapat ikut masuk bersama aliran air hujan.
Sementara itu, endapan abu dalam jumlah besar di atap bangunan tidak boleh dianggap sepele. Berat abu yang menumpuk dapat memberikan beban tambahan pada struktur atap dan dalam kondisi tertentu meningkatkan risiko kerusakan hingga keruntuhan bangunan.
Membersihkan abu dari atap pun harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Aktivitas tersebut memiliki risiko jatuh, terutama ketika permukaan atap menjadi licin akibat campuran abu dan air.
Karena itu, masyarakat di kawasan terdampak erupsi perlu mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait, membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara dipenuhi abu, serta memastikan rumah, sumber air dan lingkungan sekitar tetap aman selama periode hujan abu. (*)













