Alumni SMKN 1 Bone Muhammad Aras Prabowo Dipercaya Jadi Dekan FEB Unusia Jakarta

Alumni SMKN 1 Bone Muhammad Aras Prabowo Dipercaya Jadi Dekan FEB Unusia Jakarta
Alumni SMKN 1 Bone Muhammad Aras Prabowo Dipercaya Jadi Dekan FEB Unusia Jakarta.

DIGTALPOS.com, Jakarta — Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta memasuki periode baru kepemimpinan 2026–2030. Salah satu perubahan penting terjadi di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), yang kini dipimpin Muhammad Aras Prabowo, alumni SMKN 1 Bone.

Aras resmi dipercaya sebagai Dekan FEB Unusia setelah pelantikan dan pengukuhan 53 pejabat pengelola Unusia yang berlangsung di Aula Jakoeb Oetama, Unusia Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Dalam menjalankan tugasnya, Aras akan didampingi Maryam, Psikolog, sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama. Sementara itu, posisi pimpinan program studi juga mengalami penguatan. Asiroch Yulia Agustina dipercaya sebagai Ketua Program Studi Ekonomi Syariah, sedangkan Habsyah Fitri Aryani menjabat Ketua Program Studi Akuntansi.

Pelantikan tersebut menjadi titik awal bagi jajaran baru FEB Unusia untuk membawa fakultas ke arah yang lebih kompetitif, terutama dalam menghadapi perubahan dunia pendidikan tinggi, perkembangan teknologi, serta kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis.

Aras menegaskan, periode kepemimpinan 2026–2030 harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk mempercepat konsolidasi internal sekaligus meningkatkan daya saing FEB.

“Kami ingin FEB Unusia tidak hanya tumbuh secara kelembagaan, tetapi juga memiliki keunggulan yang terukur dalam akademik, riset, inovasi, dan jejaring. Amanah ini akan kami jalankan dengan semangat kolaborasi agar FEB semakin relevan dengan kebutuhan zaman dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi Unusia dan masyarakat,” ujar Aras.

Menurutnya, penguatan fakultas tidak dapat dilakukan hanya melalui program kerja jangka pendek. Diperlukan budaya kerja yang konsisten, kolaborasi antarelemen kampus, serta keberanian menghadirkan inovasi yang mampu menjawab tantangan masa depan.

Arah tersebut sejalan dengan pesan Rektor Unusia, Fariz Alnizar, yang meminta seluruh jajaran pengelola menjadikan pekerjaan di lingkungan kampus sebagai budaya dan gerakan bersama.

“Kita geser semua hal kerja Unusia yang tadinya program menjadi budaya. Jika menjadi budaya, kita tidak hanya berhenti setelah program itu selesai, tapi akan terus berlanjut menjadi tanggung jawab dan gerakan kita bersama,” kata Fariz.

Di sisi kemahasiswaan, Maryam menilai kemajuan FEB harus dapat dirasakan secara langsung oleh mahasiswa. Karena itu, pengembangan prestasi, karakter, pengalaman organisasi, jejaring, hingga kesiapan memasuki dunia profesional menjadi perhatian utama.

“Kemajuan FEB harus dirasakan langsung oleh mahasiswa. Karena itu, penguatan prestasi, karakter, jejaring, pengalaman organisasi, dan kesiapan mahasiswa memasuki dunia profesional akan menjadi bagian penting dari kerja kami,” ujar Maryam.

Ia menyebut keterlibatannya dalam jajaran kepemimpinan FEB merupakan kehormatan sekaligus tantangan. Menurutnya, diperlukan lingkungan akademik yang adaptif terhadap perubahan zaman serta dukungan bersama dari dosen, staf, dan mahasiswa untuk mewujudkan fakultas yang progresif.

Sementara itu, Ketua Program Studi Ekonomi Syariah Asiroch Yulia Agustina menilai perubahan kepemimpinan menjadi kesempatan untuk semakin memperkuat posisi ekonomi syariah dalam menjawab berbagai persoalan ekonomi kontemporer.

“Ekonomi syariah harus hadir sebagai disiplin ilmu yang mampu menjawab persoalan ekonomi kontemporer. Kami ingin membangun pembelajaran dan riset yang kuat, inovatif, serta tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan kemaslahatan,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Ketua Program Studi Akuntansi Habsyah Fitri Aryani. Ia menekankan pentingnya membekali mahasiswa dengan kompetensi yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan analitis, literasi digital, integritas, dan kemampuan beradaptasi.

“Akuntansi ke depan tidak cukup hanya menguasai aspek teknis. Mahasiswa harus memiliki kemampuan analitis, literasi digital, integritas, dan kesiapan menghadapi perubahan dunia bisnis. Karena itu, kami ingin memperkuat pembelajaran yang semakin relevan dengan kebutuhan profesi dan industri,” tutur Habsyah.

Rektor Unusia Fariz Alnizar pun optimistis kepemimpinan baru akan membawa kampus memasuki fase pertumbuhan yang lebih agresif.

“Kita tidak hanya bertumbuh, tapi juga akan melesat jauh lebih baik,” tegas Fariz.

Dengan komposisi kepemimpinan baru tersebut, FEB Unusia memiliki target besar untuk menjadikan periode 2026–2030 bukan sekadar pergantian pejabat, tetapi sebagai fase akselerasi. Fakultas diharapkan semakin unggul dalam bidang akademik, produktif dalam riset, adaptif terhadap perkembangan teknologi, kuat dalam jejaring, serta mampu melahirkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan dunia profesional.

Bagi Muhammad Aras Prabowo, amanah sebagai Dekan FEB Unusia sekaligus menjadi kesempatan untuk membawa pengalaman dan gagasan baru ke lingkungan akademik. Kepemimpinan lima tahun ke depan pun diarahkan untuk membangun tradisi kerja yang berkelanjutan, menjadikan inovasi sebagai kebiasaan, dan menjadikan keunggulan sebagai gerakan bersama seluruh civitas akademika. (*)