DIGTALPOS.com – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan pada pembukaan perdagangan Selasa (7/4/2026), seiring meningkatnya tekanan dari faktor global dan domestik. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,25 persen ke level Rp17.077 per dolar Amerika Serikat (AS), melanjutkan tren negatif dari penutupan hari sebelumnya.
Pada perdagangan Senin (6/4/2026), rupiah telah lebih dulu melemah dan ditutup di posisi Rp17.035 per dolar AS. Sejumlah analis pasar memprediksi tekanan terhadap mata uang Garuda ini masih akan berlanjut dalam jangka pendek.
Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai pergerakan rupiah saat ini masih berada dalam fase pelemahan. Ia menyebut bahwa rupiah telah menyentuh target minimal di kisaran Rp17.032 hingga Rp17.044 per dolar AS.
“Jika rupiah kembali menembus level Rp17.044, maka potensi pelemahan selanjutnya bisa mencapai Rp17.070 hingga Rp17.118 per dolar AS. Namun demikian, masih ada peluang penguatan terbatas ke kisaran Rp16.983 hingga Rp17.000,” jelasnya.
Menurut Herditya, tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang global. Selain itu, ketidakpastian geopolitik yang belum mereda turut memperburuk sentimen pasar, meskipun wacana gencatan senjata mulai mencuat.
“Dari dalam negeri, kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak mentah serta kondisi fiskal juga menjadi faktor yang membebani rupiah,” tambahnya.
Senada, analis Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, memperkirakan pelemahan rupiah masih akan berlanjut. Ia memproyeksikan kurs referensi JISDOR berpotensi terdepresiasi hingga menyentuh Rp17.050 per dolar AS.
Sebagai informasi, JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) merupakan kurs referensi transaksi dolar AS terhadap rupiah antarbank yang dipantau secara real-time oleh Bank Indonesia melalui sistem Sismontavar.
Fikri juga menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik global sebagai salah satu pemicu utama tekanan terhadap rupiah. Penolakan Teheran terhadap proposal perdamaian yang diajukan AS memperbesar ketidakpastian di pasar.
“Selain itu, harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan, yang turut memperparah kekhawatiran inflasi global,” ujarnya.
Data Bloomberg pada pukul 09.08 WIB menunjukkan rupiah melemah 43 poin atau 0,25 persen ke level Rp17.078 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat menguat 0,14 persen ke posisi 100,12, menandakan dominasi mata uang Negeri Paman Sam di pasar global.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memprediksi pergerakan rupiah hari ini akan cenderung fluktuatif, namun tetap berakhir di zona merah dengan kisaran Rp17.030 hingga Rp17.080 per dolar AS.
Menurutnya, perhatian investor saat ini tertuju pada tenggat waktu yang diberikan Presiden AS, Donald Trump, kepada Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz jalur vital distribusi energi dunia.
“Lonjakan harga minyak mentah akibat ketegangan tersebut meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Biaya energi yang tinggi berpotensi menekan sektor transportasi, manufaktur, hingga konsumsi masyarakat secara luas,” ungkap Ibrahim.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah semakin besar setelah pemerintah merilis data defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Maret 2026 yang mencapai Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka ini meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang hanya sebesar Rp99,8 triliun atau 0,41 persen terhadap PDB. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas fiskal Indonesia.
Dengan kombinasi tekanan eksternal dan internal yang masih kuat, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap berada dalam bayang-bayang pelemahan dalam waktu dekat. Pelaku pasar pun diimbau untuk mencermati perkembangan global serta kebijakan ekonomi domestik yang dapat mempengaruhi arah pergerakan mata uang nasional. (*)











