DIGTALPOS.com, Bontang – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang di bawah kepemimpinan Wali Kota Neni Moerniaeni terus memperkuat langkah konkret menekan angka stunting di daerahnya. Melalui program Operasi Timbang Serentak Balita Jilid II yang berlangsung pada 4–8 November 2025 di seluruh posyandu, Pemkot Bontang kembali menegaskan komitmen untuk membangun generasi sehat dan bebas stunting.
Wali Kota Neni turun langsung memantau kegiatan di Posyandu Bontang Lestari, memastikan proses penimbangan, pengukuran, dan pencatatan data balita berjalan optimal. Ia menekankan pentingnya ketepatan data sebagai dasar intervensi dan kebijakan yang tepat sasaran.
“Sekarang kita lihat hasilnya. Apakah program ini berhasil menurunkan angka stunting di Bontang,” ujar Neni, Selasa (4/11/2025).
Kegiatan timbang serentak ini merupakan tahap evaluasi dari penimbangan sebelumnya pada Mei 2025 lalu. Dari sekitar 10.000 balita yang ditimbang, tercatat 1.200 anak mengalami stunting. Mereka kemudian mendapat intervensi gizi melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan pendampingan intensif oleh kader posyandu.
Dalam kesempatan itu, Wali Kota Neni juga menekankan pentingnya keselarasan data antara pemerintah daerah dan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bontang. Ia meminta agar BPS turut memantau dan mendampingi proses penimbangan di lapangan, guna memastikan data yang terkumpul valid, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan secara nasional.
“Saya minta BPS ikut memantau agar data kita sama, akurat, dan bisa jadi dasar kebijakan. Jangan sampai ada perbedaan antara data lapangan dan data nasional,” tegasnya.
Menurut Neni, data stunting yang tidak sinkron kerap menjadi hambatan dalam perumusan kebijakan dan evaluasi program nasional. Karena itu, kolaborasi antara Posyandu, Dinas Kesehatan, dan BPS menjadi kunci utama dalam mengawal keberhasilan program penurunan stunting di Kota Bontang.
Evaluasi kali ini juga menjadi ajang perbaikan dari pelaksanaan sebelumnya. Wali Kota menyoroti masih rendahnya partisipasi warga di beberapa kelurahan saat penimbangan Mei lalu. Beberapa keluarga belum membawa balitanya ke posyandu, yang berdampak pada ketidaklengkapan data.
“Makanya sekarang timbangnya serentak dan sistem jemput bola. Kalau menunggu warga datang sendiri, hasilnya tidak maksimal,” ujarnya.
Petugas posyandu kini ditugaskan untuk aktif mendatangi rumah warga yang tidak hadir, sekaligus memberikan edukasi tentang pentingnya menimbang dan mencatat tumbuh kembang anak secara rutin.
Selain kegiatan penimbangan, Pemkot juga menggelar pelatihan bagi kader posyandu, meliputi cara menimbang yang benar, mencatat lingkar lengan dan kepala balita, hingga mendata usia pernikahan ibu.
Wali Kota Neni menjelaskan, pendataan usia pernikahan penting dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antara pernikahan dini dan kasus stunting di lapangan.
“Saya ingin tahu apakah ada hubungan antara pernikahan muda dan stunting. Ini penting untuk kebijakan ke depan, supaya intervensi kita lebih tepat,” jelasnya.
Ia menegaskan, kader yang telah bekerja keras tidak akan diberikan sanksi, selama menjalankan tugas dengan benar dan jujur.
“Kalau mereka sudah bekerja dengan baik, tentu tidak ada hukuman. Yang penting mereka turun langsung dan mencatat data dengan benar,” tambahnya.
Dalam kunjungannya, Wali Kota Neni menyempatkan diri berinteraksi dengan para ibu dan meninjau perkembangan balita penerima program PMT. Hasilnya cukup menggembirakan sejumlah anak menunjukkan peningkatan berat dan tinggi badan signifikan dibanding pengukuran sebelumnya.
“Artinya, program PMT kita mulai menunjukkan hasil. Harapan saya, ke depan angka stunting di Bontang bisa turun drastis,” ungkapnya penuh optimisme.
Wali Kota menutup kunjungan dengan pesan agar seluruh pihak mulai dari kader posyandu, tenaga kesehatan, hingga masyarakat terus menjaga komitmen bersama dalam perang melawan stunting.
“Kalau kita disiplin menimbang, memberikan makanan tambahan bergizi, dan mendata dengan benar, saya yakin Bontang bisa jadi contoh nasional dalam penurunan stunting,” tutupnya. (Adv)













