DIGTALPOS.com, Samarinda – Suasana hangat penuh kebersamaan terasa dalam gelaran Halal Bihalal Keluarga Besar Badan Pengelola Islamic Center (BPIC) Kalimantan Timur yang berlangsung di Aula Besar Islamic Center Kalimantan Timur, Jumat (10/4/2026).
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, bersama sang istri, Wahyu Hernaningsih. Dalam kesempatan itu Seno Aji menegaskan, keberadaan Islamic Center Kaltim memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pengembangan berbagai aktivitas keislaman yang menyentuh banyak aspek kehidupan masyarakat.
Menurutnya, Islamic Center yang dikelola oleh BPIC merupakan simbol kemajuan peradaban Islam di Benua Etam, khususnya di Samarinda sebagai ibu kota provinsi. Ia menyebut, fungsi Islamic Center kini telah berkembang menjadi pusat dakwah, pendidikan, kegiatan sosial, hingga kebudayaan Islam yang inklusif.
“Islamic Center tidak hanya untuk salat lima waktu. Kita patut bersyukur, BPIC sudah menghadirkan berbagai fasilitas seperti klinik kesehatan, lembaga pendidikan, hingga kegiatan sosial yang terus berkembang,” ujar Seno.
Lebih jauh, ia juga memberikan apresiasi terhadap langkah BPIC dalam membuka ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat. Salah satu upaya konkret yang dilakukan adalah menyediakan area bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memasarkan produknya, terutama saat akhir pekan.
Menurutnya, langkah tersebut bukan sekadar aktivitas ekonomi biasa, tetapi menjadi bagian penting dalam mendukung penurunan angka kemiskinan di Kalimantan Timur yang saat ini berada di kisaran 5 persen.
“Kita berharap keberadaan BPIC mampu memberi kontribusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya melalui pemberdayaan UMKM. Ini penting agar angka kemiskinan terus menurun secara bertahap,” jelasnya.
Tak hanya itu, Seno juga menyampaikan gagasan pengembangan program pendidikan keagamaan yang lebih inklusif. Ia mendorong BPIC untuk membuka kelas mengaji gratis bagi anak-anak yang dilaksanakan secara rutin setelah salat lima waktu.
Konsep ini, kata dia, terinspirasi dari sistem pembelajaran di Masjid Nabawi yang dikenal sebagai pusat pembinaan umat dengan akses pendidikan Al-Qur’an yang terbuka bagi semua kalangan.
“Kita ingin anak-anak di Kaltim memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik tanpa terbebani biaya. Insyaallah, tenaga pengajarnya bisa kita dukung melalui pembiayaan dari pemerintah provinsi,” ungkapnya optimistis.
Di sisi lain, Seno juga menyoroti potensi pengembangan kawasan Islamic Center yang dinilai masih sangat luas. Ia mendorong pemanfaatan lahan yang belum terkelola secara optimal untuk pembangunan fasilitas pendidikan berbasis asrama atau Islamic boarding school yang representatif.
Menurutnya, pengembangan tersebut akan semakin memperkuat fungsi Islamic Center sebagai pusat pembinaan umat, tempat kajian peradaban Islam, sekaligus destinasi wisata religi yang membanggakan bagi Kalimantan Timur.
“Ke depan, kawasan ini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, pengembangan peradaban, dan landmark wisata religi yang mampu menarik minat masyarakat luas,” pungkasnya. (*)













