DIGTALPOS.com – Kasus dugaan pencabulan yang menyeret seorang guru di SMAN 1 Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, terus bergulir. Polisi mengungkap adanya perkembangan baru dalam penyelidikan, setelah jumlah siswi yang diduga menjadi korban bertambah dari sebelumnya satu orang menjadi 11 orang.
Kanit PPA Satreskrim Polres Subang, Aiptu Nenden Nurfatimah, mengatakan hingga Rabu (9/9/2026), pihaknya telah mendata sebanyak 11 siswi yang diduga menjadi korban. Namun, dari jumlah tersebut baru satu korban yang secara resmi membuat laporan kepada kepolisian.
“Sejauh ini berdasarkan pendataan kami sudah terdata ada 11 siswi yang diduga jadi korban. Namun yang laporan baru satu orang yang viral kemarin,” ujar Nenden, Rabu.
Polisi selanjutnya akan memanggil seluruh siswi yang telah teridentifikasi untuk menjalani pemeriksaan. Langkah tersebut dilakukan guna menggali keterangan secara lebih mendalam dan memastikan rangkaian peristiwa yang terjadi.
“Kita akan panggil dan mintai keterangan dari 11 siswi yang diduga jadi korban. Sejauh ini baru satu yang melapor dan sudah dimintai keterangan,” katanya.
Dalam perkara ini, Ahmad Taoji telah ditetapkan sebagai tersangka. Polisi juga telah melakukan penahanan terhadap yang bersangkutan sejak Selasa (8/9/2026) untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut.
“Guna pemeriksaan lebih lanjut, pelaku sudah kita amankan di Rutan Polres Subang,” ujar Nenden.
Kasus tersebut sebelumnya mencuat setelah terjadi aksi protes yang dilakukan siswa-siswi SMAN 1 Pamanukan. Kepala SMAN 1 Pamanukan, Edi Kanedi, mengatakan aksi tersebut dipicu oleh munculnya dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah satu oknum di lingkungan sekolah.
Menurut Edi, aksi berlangsung pada Senin dan diikuti hampir seluruh siswa dari kelas X, XI, hingga XII. Jumlah peserta aksi diperkirakan mencapai 1.425 siswa.
“Senin kemarin, ada keramaian anak-anak mendemo bahwa di sekolah ada peristiwa pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum,” kata Edi kepada media, Selasa.
Edi menjelaskan, pihak sekolah sebelumnya telah berupaya menangani persoalan tersebut setelah menerima informasi dan permintaan dari orang tua korban. Namun, sebagian siswa menilai persoalan tersebut belum mendapatkan penanganan yang memuaskan sehingga mereka memilih menyampaikan protes secara terbuka.
Mengenai jumlah korban, Edi juga membenarkan adanya perkembangan dari satu korban menjadi 11 siswi.
“Korban yang melapor secara pribadi melalui orang tuanya adalah satu orang. Kemudian setelah diselidiki ternyata banyak, terhitung 11 orang,” ungkapnya.
Untuk menjaga situasi sekolah tetap kondusif sekaligus menghormati proses hukum, pihak sekolah telah menonaktifkan Ahmad Taoji dari seluruh aktivitas di lingkungan sekolah.
“Pelaku sudah dinonaktifkan dari aktivitas sekolah, demi kepentingan proses hukum,” katanya.
Kasus ini mencuat setelah adanya dugaan tindakan pencabulan terhadap seorang siswi yang saat itu berada di ruang guru. Korban disebut tengah menunggu giliran dipanggil bersama sejumlah siswa lainnya.
Dalam kondisi tertidur, korban diduga didatangi oleh Ahmad Taoji. Berdasarkan keterangan yang beredar, terjadi kontak fisik yang dilakukan tanpa persetujuan korban.
Korban kemudian terbangun dalam kondisi terguncang. Ia disebut sempat mengalami respons tubuh berupa imobilitas tonik atau kondisi “freeze”, yakni keadaan ketika seseorang dapat membeku atau sulit bergerak saat menghadapi situasi kekerasan atau ancaman.
Setelah berhasil memulihkan kesadarannya, korban berupaya meninggalkan ruangan. Namun, pelaku disebut sempat mencegah korban pergi. Korban akhirnya berhasil melarikan diri menuju ruang OSIS dan mendapat bantuan dari sejumlah siswa lainnya.
Peristiwa tersebut kemudian memicu kemarahan para siswa. Ratusan hingga ribuan siswa SMAN 1 Pamanukan melakukan aksi protes yang turut menjadi perhatian publik hingga akhirnya perkara tersebut ditangani aparat kepolisian.
Selain keterangan korban, beredar pula tangkapan layar percakapan yang disebut melibatkan seseorang yang diduga merupakan guru dengan korban. Dalam percakapan tersebut, terdapat sejumlah pesan permintaan maaf yang ditujukan berkaitan dengan dugaan tindakan yang dilakukan oleh guru matematika tersebut.
Polisi kini masih mendalami perkara tersebut, termasuk memeriksa para siswi yang telah terdata sebagai korban serta mengumpulkan bukti-bukti lain untuk mengungkap secara utuh dugaan pencabulan yang terjadi di lingkungan SMAN 1 Pamanukan. (*)













