DIGTALPOS.com, Kutim – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai mematangkan persiapan pelaksanaan Erau yang dijadwalkan digelar pada 9-13 Oktober 2026. Meski demikian, waktu pelaksanaan tersebut masih dalam pembahasan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan maksimal.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Ilham, mengatakan persiapan sejauh ini terus dilakukan, termasuk pembentukan kepanitiaan yang kini telah rampung.
“Rencananya tanggal 9 sampai 13 Oktober, tetapi ini masih kami diskusikan lagi kapan waktu pastinya. Untuk kepanitiaan sudah terbentuk semua,” ujar Ilham.
Ia menjelaskan, pelaksanaan teknis Erau nantinya akan berada di bawah pemangku adat. Sementara pemerintah daerah berperan memberikan dukungan melalui koordinasi lintas perangkat daerah dan sejumlah pihak yang memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan kegiatan.
Dukungan tersebut tidak hanya menyangkut bidang kebudayaan, tetapi juga mencakup sektor pariwisata, olahraga tradisional hingga pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Keterlibatan berbagai sektor diharapkan membuat Erau tidak sekadar menjadi agenda budaya, tetapi juga mampu memberikan dampak bagi masyarakat.
Menurut Ilham, konsep Erau di Kutim banyak mengacu pada pelaksanaan Erau di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), yang selama ini telah menjadi salah satu agenda budaya penting di Kalimantan Timur.
Untuk Erau perdana di Kutim, seluruh rangkaian kegiatan direncanakan dipusatkan di Rumah Adat Kutai. Beragam tradisi dan seni budaya Kutai akan ditampilkan, disertai pertunjukan serta olahraga tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya daerah.
“Ini perdana bagi Kutim. Kita tentu harus banyak belajar dan mengambil referensi dari Erau Tenggarong. Harapannya ke depan Kutim bisa mandiri dalam melaksanakan kegiatan ini,” katanya.
Ilham menambahkan, pelaksanaan Erau perdana menjadi momentum penting bagi Kutim untuk mulai membangun pengalaman dalam menggelar kegiatan budaya berskala besar. Karena itu, koordinasi dan keterlibatan seluruh pihak dinilai menjadi kunci agar pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai harapan.
Ia berharap masyarakat, pemerintah, pemangku adat, pelaku seni, pelaku UMKM serta berbagai pemangku kepentingan lainnya dapat bersama-sama mendukung kegiatan tersebut.
Selain menjadi ruang untuk memperkenalkan dan melestarikan tradisi Kutai, Erau diharapkan menjadi wadah pembelajaran bagi Kutim untuk mengembangkan potensi kebudayaan secara berkelanjutan.
Dengan persiapan yang terus dimatangkan, pemerintah daerah berharap Erau perdana Kutim dapat menjadi langkah awal menuju penyelenggaraan kegiatan budaya yang lebih mandiri sekaligus memperkuat identitas budaya daerah di tengah perkembangan zaman. (*)













