DIGTALPOS.com, Bontang – Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Bontang, Retno Febriaryanti, melalui Kepala Bidang (Kabid) Perpustakaan, Indra Nopika Wijaya, mengatakan upaya Pemkot Bontang bersama DPRD dalam menyusun Raperda Penyelenggaraan Perpustakaan sangat menguntungkan bagi DPK.
Seperti diketahui, penyusunan Raperda Penyelenggaraan Perpustakaan yang digelar pada Selasa, 25 Juni 2024, itu dianggap sebagai bentuk komitmen Pemkot Bontang dalam upaya meningkatkan wawasan dan memberikan hak layanan perpustakaan maksimal.
Meski begitu Indra mengatakan sebenarnya Bontang sudah punya Peraturan Wali Kota (Perwali) dalam upaya pemaksimalan perpustakaan. Pun begitu, Peraturan daerah (Perda) masih sangat dibutuhkan mengungat itu perupakan amanat Undang-undang.
“Sebenarnya kita kan sudah punya perwali. Alhamdulillah kemarin (Raperdanya) baru disetujui. Ini sebenarnya amanat dari Undang-undang,” ucapnya saat ditemui Digtalpos, Rabu (26/6/2024).

Dengan adanya peraturan ini seluruh pihak yang terlibat dalam maksimalisasi penyelenggaraan perpustakaan dan penguatan literasi tupoksinya menjadi jelas dan terikat. Tak kecuali terkait pembiayaan perpustakaan.
“Yang jelas bahwa semua kita jadi terikat, ya ada komitmen lah. Salah satunya adalah pembiayaan. Artinya ada komitmen Pemerintah Kota untuk meningkatkan minta baca,” terangnya.
Indra juga menerangkan salah satu poin dalam Raperda itu adalah seruan agar seluruh masyarakat Kota Taman (Sebutan Bontang) melek dengan literasi. “Karena di situ salah satu poin yang ditekankan adalah adanya peraturan bahwa setiap siswa harus membaca buku, kalau nggak salah (sehari) wajib 5-10 menit.”
“Untuk setiap masyarakat harus membaca buku juga, minimal 3 buku dalam setahun. Jadi ini bisa meningkatkan minat baca masyarakat,” tambahnya.
Lebih jauh biarpun masyarakat disebut gemar baca dalam hal misalnya WhatsApp dan melalui aplikasi lainnya, tapi tetap berbeda kalau langsung dengan media buku.
“Sekarang kan orang lebih banyak membaca WA ketimbang buku. Tapi kan WA juga sebenarnya wadah untuk membaca juga. Tapi memang itu sih, literasinya agak tidak terarah,” pungkasnya. (Adv)













