Basarnas Pastikan Tak Buka Lagi Operasi Pencarian Rombongan Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

Basarnas Pastikan Tak Buka Lagi Operasi Pencarian Rombongan Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda
Ilustrasi.

DIGTALPOS.com – Kantor SAR Banten memastikan tidak akan kembali membuka operasi pencarian terhadap rombongan jurnalis yang hilang di Perairan Selat Sunda sejak 7 September 2026. Keputusan tersebut diambil setelah rangkaian operasi pencarian dan evaluasi dilakukan selama beberapa hari tanpa menemukan tanda-tanda keberadaan korban lainnya.

Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengatakan, operasi pencarian telah dilaksanakan sesuai prosedur dan sempat diperpanjang selama tiga hari setelah masa pencarian awal selama tujuh hari berakhir.

Menurut Amrad, satu jenazah yang diduga berkaitan dengan rombongan kapal Arupadhatu ditemukan di sekitar Pulau Enggano, Bengkulu, pada 12 September 2026. Jenazah tersebut kemudian menjalani proses identifikasi hingga akhirnya dipastikan merupakan salah satu kru kapal.

“Secara aturan pencarian kami itu terlaksana selama 7 hari. Dalam 7 hari kita sudah perpanjang 3 hari. Di 7 hari itu kita menemukan jenazah pada tanggal 12. Nah, sampai tanggal 14 setelah evaluasi kita perpanjang 3 hari. Setelah 3 hari itu tidak ada tanda-tanda korban,” kata Amrad dalam konferensi pers, Rabu (23/9).

Dengan berakhirnya masa operasi SAR, Basarnas kini mengubah pola pencarian dengan mengandalkan pemantauan dan penyebaran informasi kepada berbagai pihak yang beraktivitas di sekitar perairan.

Amrad mengatakan pihaknya telah menyebarkan e-broadcast serta maklumat pelayaran (mapel) kepada kapal-kapal yang melintas di wilayah tersebut. Informasi itu juga disampaikan melalui Vessel Traffic Service (VTS), stasiun radio pantai, nelayan, hingga masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir.

“Jadi e-broadcast yang kita lakukan ini termasuk pemapelan itu, kami libatkan dengan VTS, termasuk stasiun radio pantai, termasuk para nelayan, termasuk para masyarakat yang di sekitar pesisir, warga pesisir di sekitar Lampung, dan hingga saat ini belum ada tanda-tanda disampaikan di informasi tersebut,” ujarnya.

Pemantauan juga dilakukan terhadap kapal maupun sarana transportasi laut yang melintas di sekitar lokasi kejadian. Basarnas berharap informasi tersebut dapat segera diteruskan apabila terdapat temuan yang berkaitan dengan para korban.

Sebelumnya, operasi SAR besar-besaran dilakukan untuk mencari lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK), Selat Sunda. Rombongan tersebut diketahui menggunakan kapal Arupadhatu untuk melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kapal tersebut berangkat dari dermaga di Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin (7/9/2026). Setelah berada di perairan Selat Sunda, kapal kemudian dilaporkan hilang kontak.

Tim SAR gabungan melakukan pencarian di sejumlah titik selama masa operasi. Namun, hingga operasi resmi dihentikan pada Kamis (17/9/2026), belum ditemukan tanda-tanda keberadaan penumpang maupun kapal Arupadhatu.

Satu-satunya temuan penting dalam proses pencarian adalah penemuan satu jenazah di sekitar Pulau Enggano, Bengkulu. Jenazah tersebut kemudian diperiksa dan diidentifikasi karena diduga memiliki keterkaitan dengan rombongan kapal yang hilang.

Hasil identifikasi memastikan jenazah tersebut merupakan Surakman, 60 tahun, salah satu kru kapal yang membawa rombongan jurnalis.

Meski operasi SAR resmi tidak kembali dibuka, Basarnas masih membuka kemungkinan menerima laporan dari masyarakat, nelayan maupun kapal yang melintas apabila menemukan benda atau tanda yang diduga berkaitan dengan hilangnya rombongan tersebut.(*)