DIGTALPOS.com – Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah kini tidak hanya mengguncang harga minyak dunia, tetapi juga merembet luas hingga ke sektor industri petrokimia dan plastik. Dampaknya pun mulai terasa hingga ke level paling dekat dengan masyarakat, yakni harga kebutuhan makanan dan minuman yang berpotensi ikut terkerek.
Ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu gangguan rantai pasok global, khususnya bahan baku industri plastik. Pelaku industri dari hulu hingga hilir di Indonesia pun mulai merasakan tekanan berlapis, baik dari sisi pasokan maupun lonjakan harga bahan baku.
Kenaikan harga ini bukan sekadar angka di atas kertas. Di lapangan, para pedagang sudah merasakan dampaknya secara langsung. Salah satu penjual di toko plastik Anak Rantau, Pejaten, mengaku harga berbagai jenis plastik melonjak tajam hanya dalam hitungan hari.
“Harga plastik rata-rata naik Rp5 ribu, dari Rp10.000 ke Rp15.000. Untuk ukuran jumbo bahkan naik dari Rp25.000 ke Rp50.000. Ini terjadi sejak seminggu sebelum Lebaran,” ujarnya.
Kenaikan juga terjadi pada produk turunan lainnya. Harga styrofoam yang sebelumnya Rp35.000 melonjak menjadi Rp43.000, bahkan kini menembus Rp55.000. Sementara gelas plastik naik dari Rp17.000 menjadi Rp23.000 per kemasan.
Sinyal kenaikan harga ini sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya oleh Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas). Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono, menyebut pelaku industri dalam negeri menghadapi tekanan serius akibat terganggunya distribusi bahan baku global.
Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 70 persen distribusi nafta dunia bahan baku utama industri petrokimia.
“Sepuluh hari sebelum Lebaran kami sudah memperingatkan bahwa setelahnya akan ada dampak besar. Selama hampir 20 hari tidak ada pengiriman, sementara tensi konflik terus meningkat dan Selat Hormuz sempat tertutup,” jelas Fajar.
Ia menegaskan, nafta merupakan komponen vital dalam rantai industri plastik. Dari nafta dihasilkan olefin seperti etylene dan propylene yang kemudian diolah menjadi resin, bahan dasar berbagai produk plastik.
Ketergantungan Indonesia terhadap impor nafta bahkan mencapai 100 persen. Kondisi ini membuat industri nasional sangat rentan terhadap gejolak global.
“Ketika jalur utama seperti Selat Hormuz terganggu, pasokan menjadi tidak pasti. Ini bukan hanya dialami Indonesia, tetapi seluruh dunia,” tambahnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperkuat gambaran tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, impor plastik dan produk turunannya terus menunjukkan tren meningkat. Pada Juni 2024, volume impor tercatat sekitar 90,98 juta kilogram dengan nilai mencapai US$202,11 juta.
Kenaikan signifikan terjadi pada September 2024 dengan lonjakan sebesar 21,33 persen secara tahunan (yoy), menjadikan plastik sebagai salah satu komoditas impor non-migas utama Indonesia dengan nilai mencapai US$0,92 miliar.
Memasuki 2026, tren ini belum mereda. Pada Januari 2026, nilai impor plastik diperkirakan mencapai US$949,2 juta atau naik 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara pada Februari 2026 tercatat sebesar US$873,2 juta, dengan pasokan utama berasal dari China, Thailand, dan Korea Selatan.
Di sisi lain, dampak langsung mulai dirasakan para pedagang pasar tradisional. Ketua Bidang Infokom DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Reynaldi Sarijowan, menyebut kenaikan harga plastik sudah berlangsung sejak awal Ramadan dan mencapai puncaknya pasca Lebaran.
“Kenaikannya bisa sampai 50 persen. Plastik kresek yang awalnya Rp10.000 sekarang jadi Rp15.000 per pack, bahkan ada jenis lain yang naik dari Rp20.000 ke Rp25.000,” ungkapnya.
Menurut Reynaldi, kondisi ini merupakan konsekuensi dari tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik. Konflik global pun secara langsung memberikan tekanan pada harga di dalam negeri.
“Ini risiko nyata. Selama kita masih bergantung pada impor, maka setiap gejolak global akan berdampak langsung. Dan saat ini kenaikannya sangat signifikan,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan keluhan pedagang, khususnya pelaku usaha kecil yang sehari-hari bergantung pada plastik sebagai kemasan utama.
“Pedagang, terutama emak-emak di pasar, sudah mulai teriak. Karena plastik ini kebutuhan dasar untuk membungkus dagangan. Kalau naik, otomatis harga jual ikut terdorong,” katanya.
Kondisi ini berpotensi memicu efek domino terhadap harga berbagai komoditas, terutama makanan dan minuman yang menggunakan kemasan plastik.
Sebagaimana diketahui, plastik umumnya berasal dari hasil olahan minyak bumi seperti polyethylene (PE) dan polypropylene (PP). Kenaikan harga minyak akibat konflik otomatis meningkatkan biaya produksi kedua bahan tersebut.
Timur Tengah sendiri merupakan salah satu pemasok utama bahan baku plastik dunia. Data S&P Global Energy menyebut kawasan ini menyumbang sekitar 25 persen ekspor polyethylene dan polypropylene global.
Bahkan, sekitar 84 persen kapasitas ekspor polyethylene dari Timur Tengah bergantung pada jalur Selat Hormuz. Ketika jalur ini terganggu, distribusi global pun ikut tersendat.
Direktur Polyethylene di Independent Commodity Intelligence Services, Harrison Jacoby, menegaskan bahwa gangguan di jalur tersebut akan berdampak luas pada rantai pasok dunia.
Dengan kondisi yang masih belum stabil, pelaku industri dan pedagang berharap adanya langkah strategis dari pemerintah untuk mengantisipasi dampak lanjutan. Jika tidak, lonjakan harga plastik dikhawatirkan akan terus berlanjut dan semakin menekan daya beli masyarakat. (*)













