DIGTALPOS.com, Samarinda – Hujan deras yang mengguyur Kota Samarinda pada Senin, 12 Mei 2025, kembali mengingatkan warga akan rentannya infrastruktur kota terhadap bencana hidrometeorologi. Genangan air dan banjir yang melumpuhkan beberapa ruas jalan utama membuat aktivitas warga terganggu, sementara potensi tanah longsor menjadi ancaman nyata, terutama di wilayah permukiman yang berada di lereng perbukitan.
Menanggapi kondisi ini, anggota DPRD Kalimantan Timur, Subandi, angkat bicara. Ia mendesak Pemerintah Kota Samarinda agar tidak hanya bersikap reaktif, melainkan proaktif dalam menghadapi potensi bencana.
“Kita tidak ingin kejadian ini terus berulang. Permukiman warga yang berada di kawasan rawan bencana harus dipetakan secara menyeluruh dan dilakukan deteksi dini. Upaya pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan setelah bencana terjadi,” ujar Subandi saat ditemui pada Sabtu (17/5/2025).
Subandi mengapresiasi langkah cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda yang sudah turun tangan membantu warga terdampak. Namun, ia menilai tindakan tersebut belum menyentuh akar permasalahan.
“Yang terjadi di Jalan Belimau, RT 22, Kelurahan Lempake, adalah alarm bagi kita semua. Lokasi-lokasi seperti ini harus menjadi perhatian khusus. Kita perlu riset, kajian, dan strategi jangka panjang yang melibatkan akademisi, pemerintah daerah, serta masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya penegakan regulasi terkait pembangunan di daerah rawan bencana. Menurutnya, Pemkot Samarinda memiliki kewenangan dan perangkat untuk mencegah warga membangun permukiman di area berisiko tinggi.
“Pemkot harus tegas. Jangan biarkan warga membangun di lereng bukit atau bantaran sungai sebelum ada jaminan mitigasi yang memadai. Kita memiliki tim ahli yang bisa membaca kondisi geologis wilayah. Gunakan itu untuk melindungi masyarakat,” tambahnya.
Subandi berharap Pemkot Samarinda segera menyusun peta kerawanan bencana secara digital dan terintegrasi, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesadaran bencana. “Kita harus beralih dari responsif ke preventif. Itu kunci kota yang tangguh menghadapi perubahan iklim dan cuaca ekstrem,” pungkasnya. (Adv)













