DIGTALPOS.com, Bontang – Siang di Kota Bontang tak terlalu terik. Hujan yang baru saja reda meninggalkan jejak lembap di jalan-jalan protokol. Aspal di sejumlah ruas masih basah, udara terasa segar, dan suasana kota bergerak pelan menuju sore.
Sekitar pukul 15.20 WITA, sebuah mobil patroli pengawal (patwal) melaju di Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan Loktuan, Bontang Utara, Kalimantan Timur. Tanpa sirene yang mencolok, kendaraan itu mengiringi sebuah Toyota Vellfire putih berpelat RI 28. Rombongan tersebut berbelok dan memasuki kawasan Pasar Taman Citra.
Kedatangan mobil berpelat RI itu bukan untuk berbelanja. Tujuannya sederhana, namun bermakna, melihat langsung kebersihan lingkungan pasar.
Dari dalam kendaraan, turun seorang pria berwibawa. Ia mengenakan topi biru gelap dan kemeja senada, tampak sederhana namun tegas. Di belakangnya, beberapa staf dan ajudan setia mendampingi. Sosok itu adalah Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq.
Langkahnya tidak tergesa, tetapi pasti. Ia berhenti di beberapa titik, mengamati, lalu bertanya. Nada bicaranya jauh dari kesan menginterogasi lebih seperti tamu yang ingin memahami kondisi tuan rumahnya. Ia mendengar penjelasan, menatap sudut-sudut lingkungan, dan sesekali mengangguk pelan.
Sorot matanya seakan ingin memastikan satu hal, bahwa kebersihan bukan sekadar hasil kerja sesaat demi kunjungan pejabat, melainkan kebiasaan yang lahir dari kesadaran bersama.
Topi biru yang ia kenakan melindunginya dari terik, namun juga memberi kesan praktis simbol bahwa kunjungan ini bukan sekadar seremonial. Kemejanya rapi, tetapi sepatunya siap melangkah ke mana saja. Dari pasar, rumah susun, hingga pemukiman di atas laut, semua ingin ia lihat dengan mata kepala sendiri.
Di tengah situasi nasional yang kerap disebut berada dalam kondisi darurat sampah, kehadiran Menteri Hanif di lapangan menjadi pengingat penting. Persoalan lingkungan tak bisa diselesaikan dari balik meja rapat. Ia harus disentuh, dicium aromanya, dilihat langsung kondisinya, dan yang paling penting didengar ceritanya dari warga.
Tak banyak pernyataan yang diucapkan sore itu. Namun pesan yang dibawa terasa kuat. Kota yang bersih bukan soal penghargaan atau lomba semata, melainkan cerminan tanggung jawab bersama. Dari pejabat hingga pedagang pasar, dari pemerintah hingga anak-anak yang tumbuh di kawasan pesisir, semua memegang peran yang sama pentingnya.
Sore kian merambat. Pria bertopi biru itu melanjutkan langkahnya tanpa gegap gempita. Ia pergi tanpa janji berlebihan, namun meninggalkan jejak berupa harapan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk melihat kenyataan apa adanya. (*)







