DIGTALPOS.com, Kutai Timur – Upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) dalam meningkatkan kualitas pendidikan kembali ditunjukkan melalui langkah progresif. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim resmi meluncurkan Program Strategi Anti Anak Tidak Sekolah (SITISEK), sebuah inisiatif terobosan untuk menekan angka anak tidak sekolah (ATS) di wilayah Kutim.
Peluncuran program berlangsung di Hotel Royal Victoria Sangatta dan dipimpin langsung oleh Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman.
Program ini menjadi angin segar bagi dunia pendidikan Kutim yang selama beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan tingginya angka ATS. Berdasarkan data Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin), persentase anak yang tidak bersekolah masih memerlukan intervensi serius.
Menanggapi hal itu, Disdikbud Kutim di bawah kepemimpinan Mulyono bergerak cepat dengan merancang strategi terpadu yang melibatkan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi.

Dikemukakan Mulyono, program SITISEK bukan hanya sekadar gerakan formalitas, tetapi merupakan bentuk komitmen nyata pemerintah daerah dalam memastikan seluruh anak di Kutim mendapatkan hak pendidikan tanpa terkecuali.
“Program ini kami susun sebagai respons langsung terhadap data ATS yang cukup tinggi. Untuk memperkuat langkah kami, Disdikbud juga menjalin kerja sama dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebagai mitra dalam penyusunan kebijakan dan pendampingan program,” ucap Mulyono, Jumat (21/11/2025).
Lebih lanjut, Mulyono memaparkan tiga pilar utama yang menjadi fondasi penanganan ATS melalui SITISEK. Pertama validasi data akurat dan menyeluruh. Proses pendataan melibatkan Tim PKK di masing-masing kecamatan serta para ketua RT. Pendekatan berbasis komunitas ini dinilai penting untuk memastikan data ATS benar-benar valid sehingga intervensi dapat tepat sasaran.
Berikutnya pencegahan putus sekolah yang difokuskan pada anak-anak yang rentan, terutama akibat faktor pernikahan dini, ekonomi keluarga yang lemah, hingga kurangnya pengawasan orang tua. Disdikbud menggandeng berbagai perusahaan di Kutim dalam menyediakan dukungan CSR berupa bantuan pendidikan, motivasi belajar, hingga pendampingan siswa.
Terakhi, akses pendidikan alternatif yang merata guna memastikan anak-anak yang telah terlanjur tidak bersekolah dapat kembali melanjutkan pendidikan, pemerintah menyediakan akses ke jalur non-formal seperti Paket A, B, dan C. Selain itu, terdapat pelatihan keterampilan melalui satu Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) negeri dan 18 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di seluruh kecamatan di Kutim.
Dengan tiga pilar tersebut, Mulyono optimistis program SITISEK mampu memberikan dampak signifikan dalam waktu cepat. Ia bahkan menegaskan bahwa pihaknya menargetkan penyelesaian permasalahan ATS hanya dalam satu tahun, sesuai instruksi langsung dari Bupati Kutim.
“Kami akan berupaya semaksimal mungkin agar persoalan ini bisa tuntas dalam setahun. Kami percaya, dengan kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak, target tersebut dapat dicapai,” tutupnya.
Program SITISEK diharapkan menjadi momentum besar bagi Kutim dalam mewujudkan generasi muda yang lebih berpendidikan dan berdaya saing. (adv)













